GAYA BAHASA GURU DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN

Artikel ini dipublikan melalui Jurnal Penelitian Pendidikan Insani yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Makassar, volume 11, nomor 2, Desember 2010, hlm. 82–89.

Abstract. Language Teachers in Interaction Styles of Learning. This study aims mendeskrip-busi, interpret, and to force the use of explanatory language teachers in the learning interaction. This type of study is classified as critical discourse analysis (AWK). Research data collection is done through the recording, documentation, field notes, questionnaires, and interviews. Data analysis of research conducted through a flow model Miles and Huberman. The results showed that the shape of the style of language used in the interaction of teacher learning include: (1) cynicism, (2) hyperbolic, (3) sarcasm, and (4) euphemism. dominate the interaction of students in learning.

Abstrak. Gaya Bahasa Guru dalam Interaksi Pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskrip-sikan, menginterpretasikan, dan meng-eksplanasi penggunaan gaya bahasa guru dalam interaksi pembelajaran.  Jenis penelitian ini tergolong analisis wacana kritis (AWK). Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui perekaman, dokumentasi, catatan lapangan, angket, dan  wawancara. Analisis data penelitian  dilakukan melalui model alir Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk gaya bahasa yang digunakan guru dalam interaksi pembelajaran meliputi: (1) sinisme, (2) hiperbola,  (3) sarkasme, dan (4) eufemisme mendominasi siswa dalam interaksi pembelajaran.

Kata kunci: analisis wacana kritis, bahasa guru, interaksi pembelajaran

Baca lebih lanjut

BAHASA PENCITRAAN DALAM WACANA IKLAN KAMPANYE CALON ANGGOTA LEGISLATIF 2009

Tulisan ini telah dipublikasikan melalui Jurnal Wacana Kritis, ISSN 0853-3563, volume 14, nomor 2, Juli 2009.

Abstrak.  Di dalam setiap teks selalu terkandung ideologi. Bahasa tidak dapat dipandang sebagai entitas yang netral, tetapi memiliki ideologi yang membawa muatan kekuasaan. Ideologi dan kekuasaan tercermin dalam pemakaian kosakata, kalimat, dan struktur wacana. Iklan kampanye sebagai sebuah teks adalah satu sistem tanda tergorganisir yang merefleksikan sikap, keyakinan dan nilai-nilai tertentu. Kemasan iklan kampanye politik secara sengaja dibuat  untuk membuat citra tokoh yang ditawarkan sebagai pilihan yang paling tepat. Penggunaan bahasa iklan kampanye menjadi manifestsi ekspresi ideologi untuk membentuk pendapat umum dengan mencitrakan diri secara positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pencitraan calon anggota legislatif 2009 dilakukan dengan memanfaatkan aspek-aspek formal teks yang meliputi pecitraan pada level kosa kata dan  pencitraan pada level gramatika. Pada level kosa kata, Caleg  mencitrakan diri melalui (1) klasifikasi kosa kata, (2) kosa kata yang diperjuangkan, (3) kosa kata yang memarjinalkan orang lain, (4) kosa kata yang bernuansa kedaerahan, (5) metafora, dan (6) relasi makna. Pada level gramatika, Caleg mencitrakan diri melalui (1) modalitas, (2) pronomina, (3) kalimat positif-negatif, dan (4) kata penghubung.

 Kata Kunci: Bahasa pencitraan, wacana,  dan  iklan kampanye

Baca lebih lanjut