Hasil UN SMP Segera Diumumkan

Hasil Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas (SMA) telah diumumkan minggu lalu. Hasil pencapaian setiap sekolah, kabupaten/kota, provinsi hingga nasional telah diketahui. Ada yang mengecewakan adapula yang menggembirakan.

Kini, pengumuman UN tingkat SMP yang sangat dinanti-nantikan insan pendidikan. Bagaimana hasilnya? Rasa penasaran dirasakan oleh siswa, orang tua, dan juga guru.

Namun, bayangan tentang hasil ujian nasional tingkat SMP tercermin dari pencapaian UN SMA. Tingkat kelulusan sekolah maupun kabupaten/kota yang mencapai 80 hingga 90 persen lebih merupakan angka kelulusan yang akan diperoleh SMP.  Prediksi ini didasari bahwa peyelenggaran dan mekanisme UN SMA dan SMP setara. Sehingga hasil secara umum pun tidak akan jauh berbeda.

Dari hasil UN SMA, terdapat sejumlah sekolah yang sukses meluluskan siswa hingga 100%. Namun, sebaliknya ada juga beberapa siswa yang tidak mampu meluluskan siswa satu pun atau kegagalan yang mencapai 100 %. Nah, hasil-hasil seperti ini tidak menutup kemungkinan akan ditemukan pula di pengumuman UN SMP.

Nah, bagaimana hasil sesungguhnya hasil UN SMP? Jawabannya mari kita tunggu pengumuman yang akan segera dilakukan minggu ini. Paling lambat hari Sabtu ini hasil UN SMP akan diumumkan.

Iklan

Hasil Ujian Nasional (UN) Segera Diumumkan

Hasil Ujian Nasional bagi siswa SMP dan SMA yang telah berlangsung akhir April hingga awal Mei lalu segera diumumkan. Rasa penasaran bercampur was-was tentu saja menyertai pengumuman ujian ini. Siswa, orang tua, dan juga sekolah dalam beberapa waktu ini telah diliputi rasa penasaran tentang hasil ujian.

Lulus…! Tidak….! Kata-kata itu silih berganti hadir dibenak siswa. Tetapi, mereka semua tak kuasa menjawabnya.

Nah, hasil ujian nasional SMA yang dinanti-nantikan tiba di Makassar (untuk provinsi Sulsel) hari ini, Selasa tanggal 10 Juni (Harian Fajar, 9 Juni 2008). Provinsi lain, kemungkinan besar juga demikian adanya. Hasil resmi kemungkinan besar akan diumumkan pada tanggal 14 Juni oleh sekolah masing-masing. Jadi, teka-teki UN SMA akan segera terjawab dalam minggu ini.

Lalu bagaimana dengan tingkat kelulusan? Hingga ini kelulusan siswa belum dapat diketahui. Namun, bayangkan tingkat kelulusan tahun lalu yang mencapai 92 % secara nasional merupakan acuan. Jadi, tahun ini prediksi ketidaklulusan siswa berkisar 10 %.

Satu hal yang patut menjadi catatan adalah standard kelulusan tahun ini yang lebih tinggi dari tahun lalu. Selain itu jumlah mata pelajaran yang diujikan yang lebih banyak dapat menjadi faktor tingginya tingkat ketidak lulusan. Sehingga angka ketidaklulusan bisa saja membengkak dari pencapaian tahun lalu.

Hasil pastinya seperti apa, apa lebih banyak yang tidak lulus dibanding tahun lalu atau lebih sedikit, mari kita menunggu dalam beberapa hari ke depan.

Bubarkan FPI! Bubarkan juga Ansor! …. Gitu Aja Kok Repot!

Setelah aksi penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama (AKKB), muncul desakan pembubaran FPI dari berbagai kalangan. Bahkan lebih dari itu, kelompok massa lain seperti GP Ansor ataupun Garda Bangsa juga melakukan tindakan yang lebih tepat disebut aksi balas dendam terhadap FPI. Di beberapa daerah fasilitas dan atribut FPI di rusak.

Fenomena ini tentu menjadi sebuah lelucon yang layak untuk ditertawakan. Sebab, apa mungkin kita menuntut pembubaran suatu organisasi tertentu yang melakukan kekerasan dengan cara kekerasan pula. Aneh dan lucu kan? Kita marah terhadap orang lain karena melakukan aksi kekerasan, kemudian kita menuntut mereka dengan menggunakan kekerasan pula. Ini tentu bukan contoh yang baik.

Sehinggakalau FPI harus dibubarkan karena tindakannya, maka Ansor dan Garda Bangsa juga harus dibubarkan. Karena mereka semua sama saja! Pintarnya hanya ‘meneriaki’ orang lain tanpa mampu bercermin pada diri sendiri. Jadi bubarkan saja FPI, Ansor, Garda Bangsa dan semua yang suka bikin onar. Gitu aja kok repot…!

Fenomena seperti cukup memalukan bagi kita sebagai suatu bangsa. Kadang kala kita hanya pintar melihat kekurangan orang lain, tetapi mata kita ‘dibuatakan’ terhadap kekurangan diri sendiri. Kita juga sudah mempertontonkan bahwa kita-kita ini adalah manusia yang sangat lemah dalam mengontrol dan mengendalikan emosi. Sedikit-sedikit marah! Persoalan sedikit mengamuk! Masalah sepele merusak!

Persoalan FPI dan permasalahan yang mengikutinya menggambarkan susahnya mencari institusi yang dapat dipercaya dan juga susahnya kita mempercayai institusi yang ada. Aksi yang ditunjukkan FPI dengan mengambil tindakan sendiri menunjukkan bahwa mereka tidak melihat ada institusi yang dapat dipercaya untuk mengambil peran untuk menyelesaikan masalah, termasuk mempercayakan kepada Polri.

Dari tayangan TV di saat kejadian, aksi kekerasan yang berlangsung bukanlah tanpa sepengetahuan polisi. Di saat kejadian, ada aparat yang berada dilokasi kejadian, tetapi mereka tidak berdaya. Jadi, apa sesungguhnya yang terjadi? Pembiaran, persekongkolan, atau ketidakmampuan? Entahlah!

Satu hal lagi yang perlu direnungkan adalah keberadaan berbagai ormas keagamaan. Jika keberadaan ormas-ormas hanya untuk mempercajam jurang perbedaan antara kelompok umat, maka tentu ini tidak produktif dan layak untuk ditinjauh eksistensinya. Akar masalah yang dipersoalkan FPI adalah dukungan yang diberikan AKKB terhadap Ahmadiyah. Jadi singkat saja, kalau tidak ada Ahmadiyah, tidak ada masalah seperti ini.

Keberadaan ormas menurut hemat penulis cendrung untuk melembagakan perbedaan. Meskipun seringkali dikatakan sebagai sesuatu yang wajar. Berbeda memang sudah merupakan sunnatullah, tetapi mempertajam perbedaan mesti dihindari. Tengok saja, istilah warga NU, warga Muhammadiyah, warga Ammadiyah dan lainnya. Istilah tersebut bahkan termanifestasi dalam sistem politik. Ada partai orang NU, ada partai orang Muhammadiyah. Bahkan hingga persoalan ibadah persoalan ormas ini terbawa-bawa. Lahirlah hari lebaran bagi warga NU dan hari lebaran bagi warga Muhammadiyah.  Bukankah mereka semua umat Islam? Keberadaan ormas kadang kala melahirkan egoisme dan fanatisme. Menganggap diri dan kelompok yang benar, dan orang lain tidak benar.

Sebutan-sebutan seperti ini bagi penulis sangat rawan menimbulkan pertentangan dan gesekan. Jadi, apa masih perlu diteruskan?

Guru Tidak Layak Mengajar, Mau Diapakan?

Harian Fajar Makassar (12/04/08) merilis berita yang sangat mencengangkan bagi dunia pendidikan di Sulawesi Selatan. Mengutip data yang dikeluarkan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas), Fajar melaporkan bahwa sekitar 80 ribu guru di Sulsel tidak layak mengajar. Hampir 50 persen dari jumlah itu merupakan guru-guru yang mengajar pada tingkat sekolah dasar.

Sebagai gambaran, kualitas guru secara nasional dewasa ini memang cukup memprihatinkan. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional tahun 2004 menyatakan bahwa guru SD negeri yang tidak memenuhi kriteria layak untuk mengajar sesuai dengan bidang keilmuannya berjumlah 558.675 orang atau sebesar 45,2% sedangkan pada SD swasta sebanyak 50.542 orang atau setara dengan 4,1% dari total jumlah guru SD sebanyak 1.234.927 orang. Di tingkat SMP terdapat 108.811 guru negeri dan 58.832 guru swasta dari total guru sebanyak 466.748 orang (35,9%) yang dinilai tidak layak mengajar. Sementara  untuk tingkat SMA terdapat 35.424 guru negeri dan 40.260 guru swasta dari jumlah keseluruhan 230.114 orang (32.8%) dinyatakan tidak layak mengajar. Sedangkan di tingkat SMK, dari jumlah keseluruhan guru yang berjumlah 147.559 orang, yang dianggap tidak layak mengajar berjumlah 20.678 orang (guru negeri) dan 43.283 orang (guru swasta) atau sama dengan 43,3%.

Pada madrasah, Azyumardi Azra (2002) mengemukakan bahwa hanya 20 persen guru yang layak (qualified), 20 persen mismatch, dan 60 persen belum atau tidak layak (underqualified atau unqualified). Baca lebih lanjut

Cerita Heboh di Hari Pertama Ujian Nasional SMA

Ujian nasional 2008 bagi siswa SMA telah di mulai hari ini. Beragam cerita dari berbagai daerah mewarnai UN kali ini. Cerita-cerita ini dihimpun dari berbagai media yang terbit on-line beberapa saat setelah pelaksanaan UN dimulai. Jika Anda ingin melanjutkan ke informasi lengkap setiap info, silakan klik link yang tersedia.

1. UN di Kantor Polisi, Apa Rasanya?

Ricky pusing. Sebanyak 50 soal Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia yang baru saja dihadapinya terasa lebih sulit. “Pusing,” begitu kata Ricky.  Ricky, siswa kelas XII sebuah SMA Swasta di kawasan Slipi, Jakarta Barat itu, tengah terjerat kasus narkoba. Ia pun harus menjalani ujian dengan suasana yang jauh berbeda dengan teman-temannya. Tak di sekolah, tapi di kantor polisi. Jika teman-temannya bisa ‘pusing’ bersama di satu ruangan kelas, Ricky hanya menikmati ‘pusing’nya sendiri, ditemani petugas polisi yang kebetulan berada satu ruang di tempatnya ujian.
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/22/1119463/un.di.kantor.polisi.apa.rasanya

2. Satu Sekolah Tak Ikut Ujian Bahasa Indonesia

Seluruh siswa Sekolah Menengah Atas Dr Setia Budi di Jalan Air Bersih, Medan tidak dapat mengikuti soal ujian Bahasa Indonesia. Panitia ujian terlambat mengambil soal ke Dinas Pendidikan Kota Medan. Akibatnya, seluruh siswa hanya bisa mengikuti ujian matematika di hari pertama ujian nasional. http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/22/1407013/satu.sekolah.tak.ikut.ujian.bahasa.indonesia Baca lebih lanjut

Ujian Nasional Tinggal Hitungan Jam, Hati-hati Kunci Jawaban dan Bocoran Soal!

Ujian nasional 2008, khususnya bagi siswa SMA tinggal hitungan jam. Mungkin inilah saat-saat mendebarkan dan menegangkan bagi siswa yang akan mengikuti ujian nasional tahun ini. Mendebarkan dan menegangkan sebab perjuangan di bangku sekolah yang berlangsung selama tiga tahun akan ditentukan dalam beberapa hari ke depan. Seolah minggu ini mewakili, 3 tahun yang telah di lalui. Kalau gagal, maka gagallah perjuangan tiga tahun itu. Sebaliknya, jika berhasil, berhasil pula perjuangan tiga tahun tersebut.

Ketegangan mungkin akan melanda Anda yang berstatus siswa, karena Andalah yang akan berada di garis terdepan besok. Namun, kegalauan dan kecemasan bisa jadi akan dirasakan orang tua dan juga guru. Oleh karena itu, untuk Anda semua, mari bersantai dan melepaskan ketegangan.

Saat ini tidak perlu tegang, cemas dan takut. Sebaliknya optimislah. Bukankah semua usaha sudah Anda lakukan, semua doa juga telah dipanjatkan. Jadi, tidak ada yang perlu dirisaukan. Karena kerisauan tidak pernah membantu seseorang pun di dunia ini untuk keluar dari tekanan. Sebaliknya, optimisme dapat membangkitkan keyakinan dan kepercayaan diri. Baca lebih lanjut

Meraih Mimpi 2030

  Data Buku

  • Judul                 : Kurikulum yang Mencerdaskan; Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif
  • Editor                : A. Ferry T. Indratno
  • Penerbit            : KOMPAS
  • Tahun Terbit      : 2007
  • Tebal                : 512 Halaman

  Baca lebih lanjut