Karena Aku Bugis, Aku Memakai Kaos Buginese

Hanya beberapa hari setelah ditawarkan, kaos buginese yang dicetak oleh seorang rekan laku hingga ratusan lembar. Peminatnya datang dari berbagai penjuru nusantara. Dari Jakarta, Balikpapan, Tarakan, Manado, hingga Sorowako. Peminatnya adalah para anak muda Bugis bersama keluarganya yang umumnya sedang merantau (sompe’) di negeri orang.

Tingginya minat anggota milist buginese untuk mendapatkan kaos buginese menjadi sebuah fenomena menarik. Tanpa bermaksud menganggap enteng, kaos buginese yang begitu diminati itu boleh dikata biasa-biasa saja. Tidak berbeda dengan kaos oblong pada umumnya. Nah, inilah sisi menariknya. Biasa saja, tetapi sangat diminati.

Penulis meyakini bahwa rekan-rekan yang begitu berminat memiliki baju kaos ini sebetulnya tidaklah susah untuk mendapatkan kaos serupa di kotanya masing-masing. Bahkan, dengan kualitas impor sekalipun mereka bisa dapatkan dengan muxda. Kaos apa yang tidak ada di Jakarta? Apa di Balikpapan tak ada kaos oblong sejenis? Apa mungkin di Manado tak ada mall yang menyediakan kaos serupa bahkan yang lebih bagus? Namun, menurut penulis permasalahannya bukan pada kualitas? Bukan ada atau tidaknya kaos serupa di kota masing-masing? Baca lebih lanjut

Iklan

Blog Orang Paling Ngetop di Indonesia

Ingin mengunjungi blog orang-orang ngetop di Indonesia dan membaca ide-ide mereka, mudah saja. Saat ini mereka tidak ketinggalan ngeblog juga, mungkin tidak mau kalah dengan rekan bloger. Mereka yang ngeblog mulai dari presiden, mantan presiden, menteri, mantan menteri hingga selebriti.

Berikut blog orang-orang ngetop di negeri ini.

Susilo Bambang Yudhoyono; http://www.presidensby.info/

Gus Dur; http://www.gusdur.net/

Juwono Sudarsono: http://juwonosudarsono.com/wordpress/index.php

Sutiyoso: http://www.bangyos.com/

Faisal Basri: http://www.faisalbasri.com/Content/Default.asp

Yusril Ihza Mahendra: http://yusril.ihzamahendra.com/

Sarwono Kusumaatmadja: http://www.sarwono.net/

Pemmali dan Maknanya dalam Masyarakat Bugis

 Pemmali merupakan istilah dalam masyarakat Bugis yang digunakan untuk menyatakan larangan kepada seseorang yang berbuat dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai. Pemmali dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi pemali yang memiliki makna pantangan, larangan berdasarkan adat dan kebiasaan.  

Masyarakat Bugis meyakini bahwa pelanggaran terhadap pemmali akan mengakibatkan ganjaran atau kutukan. Kepercayaan masyarakat Bugis terhadap pemmali selalu dipegang teguh. Fungsi utama pemmali adalah sebagai pegangan untuk membentuk pribadi luhur. Dalam hal ini pemmali memegang peranan sebagai media pendidikan budi pekerti. 

Bentuk-bentuk Pemmali

Pemmali dalam masyarakat Bugis dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemmali dalam bentuk perkataan dan pemmali dalam bentuk perbuatan.  

1. Pemmali bentuk perkataan

Pemmali bentuk ini berupa tuturan atau ujaran. Biasanya berupa kata-kata yang dilarang atau pantang untuk diucapkan. Kata-kata yang pantang untuk diucapkan disebut kata tabu. Contoh kata tabu yng merupakan bagian pemmali berbentuk perkataan, misalnya balawo ‘tikus’, buaja ‘buaya’, guttu ‘guntur’. Kata-kata tabu seperti di atas jika diucapkan diyakini akan menghadirkan bencana atau kerugian. Misalnya, menyebut kata balawo (tikus) dipercaya masyarakat akan mengakibatkan gagal panen karena serangan hama tikus. Begitupula menyebut kata buaja ‘buaya’ dapat mengakibatkan Sang Makhluk marah sehingga akan meminta korban manusia.

Untuk menghindari penggunaan kata-kata tabu dalam berkomunikasi, masyarakat Bugis menggunakan eufemisme sebagai padanan kata yang lebih halus. Misalnya, kata punna tanah ‘penguasa tanah’ digunakan untuk menggantikan kata balawo, punna uwae  ‘penguasa air’ digunakan untuk menggantikan kata buaja. 2.       

2. Pemmali bentuk perbuatan atau tindakan

Pemmali bentuk perbuatan atau tindakan merupakan tingkah laku yang dilarang untuk dilakukan guna menghindari datangnya bahaya, karma atau berkurangnya rezeki.             

Beberapa contoh pemmali dan maknanya.           

(1) Riappemmalianggi ana’ daraE makkelong ri dapurennge narekko mannasui. 

Terjemahan:  Pantangan bagi seorang gadis menyanyi di dapur apabila sedang memasak atau menyiapkan makanan. 

Masyarakat Bugis menjadikan pantangan menyanyi pada saat sedang memasak bagi seorang gadis. Akibat yang dapat ditimbulkan dari pelanggaran terhadap larangan ini adalah kemungkinan sang gadis  akan mendapatkan jodoh yang sudah tua. Secara logika, tidak ada hubungan secara langsung antara menyanyi di dapur dengan jodoh seseorang. Memasak merupakan aktivitas manusia, sedangkan jodoh merupakan faktor nasib, takdir, dan kehendak Tuhan.Jika dimaknai lebih lanjut, pemmali di atas sebenarnya memiliki hubungan erat dengan masalah kesehatan. Menyanyi di dapur dapat mengakibatkan keluarnya ludah kemudian terpercik ke makanan. Dengan demikian prilaku menyanyi pada saat memasak dapat mendatangkan penyakit. Namun, ungkapan atau larangan yang bernilai bagi kesehatan ini tidak dilakukan secara langsung, melainkan diungkapkan dalam bentuk pemmali.                    

(2) Deq nawedding anaq daraE matinro lettu tengga esso nasabaq labewi dalleqna.         

Terjemahan: Gadis tidak boleh tidur sampai tengah hari sebab rezeki akan berlalu.

Bangun tengah hari melambangkan sikap malas. Apabila dikakukan oleh gadis, hal ini dianggap sangat tidak baik. Jika seseorang terlambat bangun, maka pekerjaannya akan terbengkalai sehingga rezeki yang bisa diperoleh lewat begitu saja. Terlambat bangun bagi gadis juga dihubungkan dengan kemungkinan mendapatkan jodoh. Karena dianggap malas, lelaki bujangan tidak akan memilih gadis seperti ini menjadi istri. Jodoh ini merupakan salah satu rezeki yang melayang karena terlambat bangun.

Dari tinjauan kesehatan, bangun tengah hari dapat mengakibatkan kondisi fisik menjadi lemah. Kondisi yang lemah menyebabkan perempuan (gadis) tidak dapat beraktivitas menyelesaikan kebutuhan rumah tangga. Masyarakat Bugis menempatkan perempuan sebagai pemegang kunci dalam mengurus rumah tangga. Perempuan memiliki jangkauan tugas yang luas, misalnya mengurus kebutuhan suami dan anak. 

(3) Riappemmalianggi matinro  esso taue ri sese denapa natabbawa ujuna taumate engkae ri bali bolata. 

Terjemahan:Pantangan orang tidur siang jika  jenazah yang ada di tetangga kita belum diberangkatkan ke kuburan. 

Pemali ini menggambarkan betapa tingginya penghargaan masyarakat Bugis terhadap sesamanya. Jika ada tetangga yang meninggal, masyarakat diharapkan ikut mengurus. Masyarakat biasanya berdatangan ke tempat jenazah disemayamkan untuk memberikan penghormatan terakhir dan sebagai ungkapan turut berduka cita bagi keluarga yang ditinggalkan. Masyarakat yang tidak dapat melayat jenazah karena memiliki halangan dilarang untuk tidur sebelum jenazah dikuburkan.  Mereka dilarang tidur untuk menun-jukkan perasaan berduka atau berempati dengan suasana duka yang dialami keluarga orang yang meninggal. 

(4)   Pemmali mattula bangi tauwe nasabaq macilakai  

Terjemahan: Pantangan bertopang dagu sebab akan sial. 

Bertopang dagu menunjukkan sikap seseorang yang tidak melakukan sesuatu. Pekerjaannya hanya berpangku tangan. Perbuatan ini mencerminkan sikap malas. Tidak ada hasil yang bisa didapatkan karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan. Orang yang demikian biasanya hidup menderita. Ia dianggap sial karena tidak mampu melakukan pekerjaan yang mendatangkan hasil untuk memenuhi kebutuhannya. Ketidakmampuan tersebut mengakibatkan hidupnya menderita.   

(5)   Pemmali lewu moppang ananaE nasabaq magatti mate indoqna.

Terjemahan: Pemali anak-anak berbaring tengkurap sebab ibunya akan cepat meninggal. 

Tidur tengkurap merupakan cara tidur yang tidak biasa. Cara tidur seperti ini dapat mengakibatkan ganguan terhadap kesehatan, misalnya sakit di dada atau sakit perut. Pemali ini berfungsi mendidik anak untuk menjadi orang memegang teguh etika, memahami sopan santun, dan menjaga budaya. Anak merupakan generasi yang harus dibina agar tumbuh sehingga ketika besar ia tidak memalukan keluarga. 

(6)   Pemmali kalloloe manrewi passampo nasabaq iyaro nasabaq ipancajiwi passampo siri  

Terjemahan:Pemali bagi remaja laki-laki menggunakan penutup sebagai alat makan sebab ia akan dijadikan penutup malu. 

Laki-laki yang menggunakan penutup benda tertentu(penutup rantangan, panci, dan lainnya) sebagai alat makan akan menjadi penutup malu. Penutup malu maksudnya menikahi gadis yang hamil di luar nikah akibat perbuatan orang lain. Meskipun bukan dia yang menghamili, namun dia yang ditunjuk untuk mengawini atau bertanggungjawab. Inti pemali ini adalah memanfaatkan sesuatu sesuai fungsinya.

Menggunakan penutup (penutup benda tertentu) sebagai alat makan tidak sesuai dengan etika makan. Penutup bukan alat makan. Orang yang makan dengan penutup merupakan orang yang tidak menaati sopan santun dan etika makan. Akibat lain yang ditimbulkan jika menggunakan penutup sebagai alai makan adalah debu akan terbang masuk ke makanan. Akhirnya,  makanan yang ada di wadah tertentu menjadi kotor karena tidak memiliki penutup. Hal ini sangat tidak baik bagi kesehatan karena dapat mendatangkan penyakit. 

(7)   Pemmali saleiwi inanre iyarega  uwae pella iya puraE ipatala nasabaq mabisai nakenna abalaq   Terjemahan: Pemali meninggalkan makanan atau minuman yang sudah dihidangkan karena biasa terkena bencana.    

Pemali ini memuat ajaran untuk tidak meninggalkan makanan atau minuman yang telah dihidangkan. Meninggalkan makanan atau minuman yang sengaja dibuatkan tanpa mencicipinya adalah pemborosan. Makanan atau minuman yang disiapkan itu menjadi mubazir. Makanan bagi masyarakat Bugis merupakan rezeki besar. Orang yang meninggalkan makanan atau minuman tanpa mencicipi merupakan wujud penolakan terhadap rezeki. Selain itu, menikmati makanan atau minuman yang dihidangkan tuan rumah merupakan bentuk penghoramatan seorang tamu terhadap tuan rumah. Meninggalkan makanan dapat membuat tuan rumah tersing-gung.

Berdasarkan beberapa contoh yang dipaparkan di atas, pemmali dapat dikategorikan ke dalam beberapa bagian, yaitu menurut jenis kelamin, usia, atau bidang kegiatan. Pemmali dalam masyarakat bugis merupakan nilai budaya yang syarat dengan muatan pendidikan. Pemmali umumnya memiliki makna yang berisi anjuran untuk berbuat baik. Baik itu perbuatan yang dilakukan terhadap sesama maupun perbuatan untuk kebaikan diri sendiri. Pemmali sangat kaya nilai luhur dalam pergaulan, etika, kepribadian, dan sopan santun.Melihat tujuannya yang begitu luhur, pemmali merupakan nilai budaya bugis yang mutlak untuk terus dipertahankan.   

Sumber:

1.      Suriana. Makna Pemmali dalam Masyarakat Bugis Soppeng.

2.      Sulo, Hartati. Makna Pemmali dalam Masyarakat Petani di Kabupaten Soppeng.

3.      Mattulada. Kebudayaan, Kemanusian, dan Lingkungan.             

Padungku: Ekspresi Lokal dalam Serbuan Budaya Modern

Beberapa hari lalu, warga Soroako, utamanya yang berprofesi sebagai petani menggelar sebuah ritual budaya yang dikenal dengan Padungku. Padungku merupakan pesta panen yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh. Warga Soroako dewasa ini menggelar ritual Padungku setiap dua kali panen.

Dalam ritual ini, masyarakat berkumpul dan bergembira menikmati sajian makanan dan hiburan musik bambu (pebambu) serta menumbuk lesun. Pertunjukan menunbuk lesun, yang dalam bahasa Soroako dikenal dengan nohu bangka dimainkan oleh kelompok ibu-ibu. Nohu bangka ini merupakan pertunjukan yang serupa dengan Mappadendang dalam pesta panen di masyarakat bugis. Pada malam hari, ritual Padungku biasanya diisi dengan dero (tarian tradisional warga setempat dan juga di wilayah Sulawesi Tengah yang dilakukan dengan berpegang tangan sambil membuat formasi melingkar diiringi dengan lagu).

Kelestarian budaya Padungku dalam masyarakat Soroako yang terjaga hingga saat ini patut diapresiasi. Menjaga budaya lokal tetap lestari memang menjadi keharusan. Namun, dalam hal eksistensi Padungku di masyarakat Soroako, rasanya ini menjadi hal yang di luar biasa. Beberapa alasan yang dapat dikemukakan.  

Pertama, masyarakat Soroako dewasa ini sesungguhnya bukan lagi masyarakat pertanian, melainkan masyarakat industri. Masyarakat yang menekuni bidang pertanian jauh lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat yang menggantungkan hidup dari industri. Masyarakat Soroako umumnya merupakan pekerja di bidang pertambangan pada PT INCO Tbk dan sejumlah perusahaan lainnya. Meskipun budaya Padungku sesungguhnya dimiliki dan dilestarikan masyarakat lokal, namun perubahan pola hidup masyarakat Soroako secara umum paling tidak akan membawa pengaruh terhadap eksistensi budayanya. Apalagi era industri di Soroako telah berlangsung sejak lama yang ditandai dengan kehadiran PT INCO Tbk sejak tahun 1968 untuk memulai kegiatan eksplorasi. Ini adalah rentang waktu yang cukup lama yang paling tidak akan membawa implikasi terhadap kebiasaan dan budaya masyarakat.

Kedua, masyarakat Soroako adalah masyarakat yang majemuk. Sebutan Indonesia mini mungkin tidak terlalu berlebihan bagi kota kecil ini. Mengapa demikian? Ya, Soroako adalah kota kecil yang dihuni oleh masyarakat yang berasal dari berbagai etnik, ras, dan juga agama. Tidak terkecuali warga asing. Nah, kedatangan mereka ke Soroako tentu dibarengi dengan kehadiran budaya masing-masing. Namun, Padungku sebagai produk budaya lokal tetap eksis dan terjaga di masyarakat.

Ketiga, serbuan budaya global yang semakin edan. Meskipun berada di ‘hutan’ (baca; pedalaman), namun masyarakat Soroako tidak lepas dari penetrasi budaya modern. Ini dimungkinkan dengan akses informasi dan kemajuan teknologi  yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.  Dari sisi pemanfataan teknologi informasi, warga Soroako cukup melek teknologi.

Tiga alasan ini dapat menguatkan bahwa eksistensi budaya Padungku sebagai budaya lokal yang terjaga hingga saat ini patut diapresiasi. Namun, tantangan keberadaan Padungku saat ini adalah menanamkannya menjadi nilai budaya bagi generasi muda Soroako. Dengan demikian eksistensi budaya ini akan semakin terjaga.