GAYA BAHASA GURU DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN

Artikel ini dipublikan melalui Jurnal Penelitian Pendidikan Insani yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Makassar, volume 11, nomor 2, Desember 2010, hlm. 82–89.

Abstract. Language Teachers in Interaction Styles of Learning. This study aims mendeskrip-busi, interpret, and to force the use of explanatory language teachers in the learning interaction. This type of study is classified as critical discourse analysis (AWK). Research data collection is done through the recording, documentation, field notes, questionnaires, and interviews. Data analysis of research conducted through a flow model Miles and Huberman. The results showed that the shape of the style of language used in the interaction of teacher learning include: (1) cynicism, (2) hyperbolic, (3) sarcasm, and (4) euphemism. dominate the interaction of students in learning.

Abstrak. Gaya Bahasa Guru dalam Interaksi Pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskrip-sikan, menginterpretasikan, dan meng-eksplanasi penggunaan gaya bahasa guru dalam interaksi pembelajaran.  Jenis penelitian ini tergolong analisis wacana kritis (AWK). Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui perekaman, dokumentasi, catatan lapangan, angket, dan  wawancara. Analisis data penelitian  dilakukan melalui model alir Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk gaya bahasa yang digunakan guru dalam interaksi pembelajaran meliputi: (1) sinisme, (2) hiperbola,  (3) sarkasme, dan (4) eufemisme mendominasi siswa dalam interaksi pembelajaran.

Kata kunci: analisis wacana kritis, bahasa guru, interaksi pembelajaran

Kegiatan pembelajaran di kelas yang melibatkan interaksi guru dengan siswa meru-pakan salah satu bentuk pemanfaatan bahasa untuk peran sosial. Dalam konteks pembelajaran di kelas, bahasa menjalankan fungsi interak-sional. Brown dan Yule (1996:1 4) mendes-kripsikan fungsi bahasa menjadi fungsi tran-saksional dan fungsi interaksional. Fungsi tran-saksional merupakan fungsi untuk mengung-kapkan isi, sedangkan fungsi interaksional meru-pakan fungsi bahasa dalam hubungan-hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi.

Berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam profesi dan institusi tertentu, Maher dan Rokos (dalam Santoso, 2002:4) mengemukakan tiga ciri utama. Pertama, ada ketidakseimbangan dalam hubungan kekuatan atau kekuasaan secara timbal balik antara partisipan yang terlibat, yak-ni antara penutur dan petutur. Ketidakseimbang-an tersebut memungkinkan partisipan yang me-miliki kekuasaan memanfaatkan bahasa untuk mendominasi petuturnya. Kedua, terdapat sepe-rangkat urutan pola-pola bahasa yang ditetapkan secara tetap. Ketiga, terdapat pertukaran perca-kapan yang cenderung memperkuat identitas profesional yang ditetapkan oleh konteks.

Interaksi pembelajaran merupakan salah satu wujud wacana lisan yang bersifat interak-sional. Wacana pembelajaran ditandai oleh ada-nya interaksi timbal balik antara guru dengan siswa. Wacana interaksional bercirikan adanya tanggapan timbal balik dari penutur dan mitra tutur (Yuwono, 2005:94). Pendapat ini senada dengan Hawthorn (dalam Mills, 1997:5) yang menyatakan bahwa wacana adalah komunikasi linguistik yang merupakan transaksi antara pe-nutur dan petutur, suatu aktivitas interpersonal yang bentuknya ditentukan oleh tujuan sosial-nya.

Hubungan guru dengan siswa berpenga-ruh terhadap efektivitas pembelajaran. Relasi guru-siswa tercermin dari penggunaan bahasa dalam interaksi pembelajaran. Hasil penelitian Hardjono (1988:17) menunjukkan dominannya guru dalam memberikan celaan dan kata-kata yang memarahi siswa. Dalam penelitian ter-sebut, dikemukakan bahwa 1/3 komentar guru dalam kegiatan pembelajaran pujian, sedangkan 2/3 adalah celaan bagi siswa. Dominannya ce-laan dan minimnya pujian dalam hal ini dila-tarbelakangi oleh posisi guru yang dominan terhadap siswa. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, masalah utama penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Bagaimanakah ben-tuk gaya bahasa yang didayagunakan guru da-lam interaksi pembelajaran? Sesuai dengan ru-musan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan, menginterpretasi, dan meng-eksplanasi bentuk gaya bahasa yang didayagu-nakan guru dalam interaksi pembelajaran;

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemerian tentang gaya bahasa guru dalam interaksi pembelajaran. Secara teoretis, penelitian ini memberikan masukan untuk mengidentifikasi relasi antara penggunaan baha-sa dengan implikasi dominasi guru terhadap sis-wa dalam pembelajaran.

Bagi guru, penelitian ini memberikan masukan tentang penggunaan gaya bahasa da-lam pembelajaran sehingga dapat lebih member-dayakan dan memaksimalkan hasil belajar sis-wa. Selain itu,  menjadi rujukan dalam mem-bangun interaksi dengan siswa untuk mening-katkan efektivitas pembelajaran  dan menambah pengetahuan serta pemahaman tentang bentuk-bentuk pilihan bahasa yang menunjukkan domi-nasi guru terhadap siswa dalam interaksi pem-belajaran.

METODE

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian kualitatif ada-lah jenis penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati (Bogdan dan Taylor dalam Moeleong, 1990:3).

Data dalam penelitian ini berupa gaya bahasa guru  dalam interaksi pembelajaran. Sumber data utama penelitian ini adalah tuturan guru dengan siswa dalam interaksi pembelajar-an. Data bersumber dari tuturan interaksi pem-belajaran enam orang guru bahasa Indonesia di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Pengumpulan data berlangsung selama dua bulan, yakni bulan Oktober sampai dengan November 2009. Peneliti merekam aktivitas pembelajaran secara utuh mulai dari kegiatan pembuka hingga kegiatan penutup. Perekaman dilakukan secara berulang-ulang hingga menca-pai titik jenuh data.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui (1) perekaman, (2) dokumen-tasi, (3) catatan lapangan, (4) angket, dan (5) wawancara. Pengumpulan data melalui metode perekaman didayagunakan untuk mendapatkan data lisan berupa tuturan guru dan siswa dalam interaksi pembelajaran (Mahsun, 2007:92). Pe-ngumpulan data dilakukan dengan perekaman melalui alat bantu berupa handy cam Sony DCR-HC85E.

Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam penelitian ini. Untuk membantu peneliti yang bertindak sebagai instrumen uta-ma, maka didayagunakan panduan analisis untuk menampung data penelitian. Instrumen pen-dukung yang didayagunakan adalah pedoman wawancara, angket, dan format catatan lapang-an.

Analisis data penelitian ini dilakukan melalui model alir Miles dan Huberman yang terdiri atas, yakni: (1) identifikasi, (2) reduksi data, (3) penyajian data, (4) penarikan kesimpulan dan verifikasi, dan (5) kesimpulan akhir dan rekomendasi (dalam Iskandar 2008:222 dan Jufri, 2007:165).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sinisme

Sinisme merupakan gaya bahasa yang bermakna sindiran. Sindiran adalah suatu acuan untuk menyampaikan suatu maksud yang berlainan dengan rangkaian kata-kata yang digunakan (Keraf, 2001:143). Lebih lanjut, Keraf mengatakan bahwa sinisme berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan. Ekspresi sinisme dalam IPBI dapat dilihat dalam data berikut.

(1)       G: Suaranya kayaknya.

Seperti kalau teriak, ulangi!

S: (membaca)

G: Tidak didengar! Saya saja di sini tidak dengar!

S: (mengulangi membaca)

G: Barangkali ini tidak sarapan ya sehingga suaranya tidak bisa keluar? Jadi, saya yang bacakan ya!

Tuturan (1) disampaikan guru ketika se-orang siswa yang tampil membacakan hasil pekerjaannya membaca dengan suara yang sa-ngat kecil. Dalam tuturan tersebut, guru meng-gunakan ungkapan “barangkali ini tidak sara-pan ya?” untuk menyindir siswa. Ungkapan tidak sarapan diasosiasikan dengan kurangnya tenaga yang dimiliki siswa sehingga tidak bisa mengeluarkan suara dengan keras.

Menurut Keraf (2001:143), sindiran me-rupakan ekspresi yang mengandung pengekang-an yang besar. Sindiran yang disampaikan guru dalam hal ini pun mengandung pengekangan terhadap siswa. Ungkapan “barangkali ini tidak sarapan ya” memiliki makna ejekan terhadap siswa. Dalam keseharian, ungkapan tersebut sering kali digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tampil lemas atau tidak berte-naga.

Guru juga menggunakan ungkapan yang halus untuk menyindir siswa dalam IPBI. Peng-gunaan sinisme bentuk ini dapat dilihat dalam data berikut.

(2)       G: Pinjami Fauzan, ya!

G: Kasihani temanmu. Tidak ada buku paketnya, tidak ada LKS-nya,  tidak bawa contoh surat juga [  ] dipakai temani adeknya mandi di rumah, bikin kapal-kapal.

Tuturan (2) tersebut dituturkan guru ke-tika memeriksa perlengkapan belajar siswa. Pada saat itu, guru menemukan siswa yang tidak membawa perlengkapan sebagaimana yang telah disampaikan guru pada pertemuan sebelumnya. Guru kemudian meminta siswa yang lain untuk membantu siswa tersebut dengan menggunakan sindiran “kasihani temanmu”. Sindiran tersebut semakin mendominasi siswa dengan tambahan ungkapan “dipakai adeknya mandi di rumah, bikin kapal-kapal”. Meskipun diungkapkan de-ngan kata-kata yang kedengaran halus, sindiran tersebut dapat mempermalukan siswa.

Sinisme juga diungkapkan guru  dengan ungkapan yang memiliki kelangsungan makna seperti dalam data berikut.

(3)       G: Kemudian kelompok

empat! Pertama, isi cerita tidak dikuasai dengan baik. Pada akhirnya, tidak mampu menyelesaikan isi cerita di depan kelas.

G: Tidak siap! Saya tidak tahu!

G: Inilah yang terbaik dari kelompok empat. Kalau yang terbaik saja seperti ini, saya tidak bisa mengatakan apa-apa, bagaimana dengan teman kelompoknya yang lain.

G: Moga-moga saja ada yang lebih baik, itu harapam kita!

 

Tuturan (3) tersebut diungkapkan guru ketika mengomentari penampilan siswa yang mewakili salah satu kelompok. Dalam pandang-an guru, siswa tersebut tampil sangat mengece-wakan. Meskipun hanya mengomentari siswa yang tampil, sindiran yang diungkapkan guru dalam tuturan tersebut ditujukan kepada seluruh siswa dalam kelompok tersebut. Bahkan, sin-diran tersebut lebih melecehkan siswa yang lainnya. Secara tidak langsung, tuturan guru me-miliki makna bahwa penampilan siswa yang lain akan jauh lebih jelek lagi andai diberi kesem-patan.

Penggunaan sindiran dalam IPBI me-nunjukkan bahwa guru menggunakan pende-katan kekuasaan dalam mengelola pembelajaran. Guru menempatkan diri sebagai penguasa yang dapat mengendalikan siswa dan dapat menga-takan segala sesuatu kepada siswa. Sebaliknya, siswa yang berada dalam posisi lemah sering ka-li mendapat kritikan, cemoohan meskipun telah mengerahkan kemampuan maksimalnya. Penge-lolaan pembelajaaran dengan pendekatan otori-ter dapat menimbulkan sikap apatis  (Wahab, 2008:17). Siswa belajar tidak dilandasi rasa kesenangan, tetapi keterpaksaan.

Hiperbola

Hiperbola merupakan ungkapan yang melebih-lebihkan. Gaya bahasa hiperbola dida-yagunakan guru untuk mengevaluasi penampilan siswa, mengeritik, dan mengarahkan. Penggu-naan hiperbola dapat dilihat dalam data berikut.

(4)       G: Ternyata kelompok dua tidak siap!

G: Kelompok dua, intinya dikasih tugas satu tahun baru bisa.

Tuturan (4) tersebut diungkapkan guru ketika seorang siswa tampil menyampaikan hasil pekerjaannya tetapi tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh guru. Guru menyimpulkan bahwa siswa yang bersangkutan tidak siap. Un-tuk mengevaluasi penampilan siswa, guru mem-berikan komentar negatif dengan gaya bahasa hiperbola. Ungkapan hiperbol guru terkandung dalam tuturan “dikasih tugas satu tahun baru bisa”. Dalam realitasnya, tugas untuk siswa di sekolah menengah tidak pernah diberikan dalam jangka waktu satu tahun. Makna dalam ungkap-an tersebut mengandung sindiran bagi siswa.

Tuturan guru dengan gaya bahasa hiper-bola dalam tuturan tersebut sangat berlebihan karena memberikan tugas kepada siswa dalam jangka waktu satu tahun adalah hal yang mus-tahil. Tuturan tersebut mendominasi siswa dan bahkan mempermalukannya di hadapan siswa lain. Tuturan demikian bahkan dapat merusak kepercayaan diri seorang siswa sehingga tidak berani tampil pada kesempatan lain.

Ungkapan hiperbol guru dalam menang-gapi penampilan siswa dapat juga dilihat dalam data berikut.

(5)       G: Gaya berceritanya

monoton, terkesan tidak menarik karena tidak menguasai alur ceritanya. Kemudian suara, intonasi nyaris tak terdengar. Bagaimana teman-temanmu yang lain bisa menyimak kalau suaranya begitu lemah? Padahal, dari awal Pak Guru sudah sampaikan bagaimana intonasinya, lalu kalimatnya ….

G: Ada pertanyaan sehubungan dengan apa yang Pak Guru koreksi tadi? Ada? Bisa dipahami?

G: Bisa ya?

Tuturan (5) disampaikan guru ketika menanggapi penampilan siswa yang bercerita. Siswa bercerita dengan suara terlalu kecil. Un-tuk mengambarkan keadaan tersebut, guru menggunakan ekspresi hiperbolais “nyaris tak terdengar”. Ungkapan itu merupakan ungkapan yang melebih-lebihkan.

Ekspresi hiperbol digunakan guru de-ngan menghubung-hubungkan antara kebiasaan siswa di rumah dengan kegiatan belajar di se-kolah. Tuturan (6) dan (7) berikut diungkapan guru dengan menghubungkan antara kebiasaan menonton televisi di rumah dengan penampilan siswa dalam belajar di sekolah.

(6)       G: Menceritakan kembali isi

cerpen sesuai dengan alur aslinya.

G: Okey, yang biasa menonton sinetron, sampai di sekolah biasanya belum sempat bernafas sudah menceritakan isi sinetron yang ditonton.

G: Semua sudah pernah membaca cerpen.

Tuturan (6) tersebut disampaikan guru ke-tika menjelaskan cara bercerita. Tuturan tersebut memiliki pranggapan bahwa (1) siswa yang me-nonton di rumah biasanya ketika sampai di sekolah segera menceritakan perihal yang diton-ton dan  (2) jika siswa bisa menceritakan perihal yang ditonton dari televisi, maka seharusnya juga bisa bercerita dengan baik dalam belajar. Tuturan guru ini bermakna sindiran bagi siswa untuk tidak sekadar hebat dalam menceritakan tontonan dari televisi, tetapi juga hebat dalam pembelajaran bercerita di sekolah.

(7)       G: Saya tidak suruh Anda

menghafal, tetapi saya suruh Anda menceritakan kembali isi cerita yang sudah Anda baca!

G: Dalam keseharian, kan Anda biasa nonton [  ] bahkan nonton itu  adalah kebutuhan Anda, mungkin melebihi kebutuhan Anda makan.

Tuturan (7) tersebut disampaikan guru ketika menjelaskan tentang kegiatan melaporkan berita. Pada kesempatan itu, guru menjelaskan bahwa berita-berita yang bisa dilaporkan siswa, salah satunya dari televisi. Tuturan tersebut me-miliki praanggapan bahwa (1) siswa selalu me-nonton televisi dan (2) menonton merupakan ke-giatan prioritas siswa dibandingkan makan se-kalipun yang merupakan kebutuhan paling po-kok. Tuturan guru memiliki makna bahwa siswa selayaknya hebat dalam melaporkan peristiwa karena mereka selalu menonton televisi.

Penggunaan ekspresi hiperbol dalam IPBI merupakan ekspresi yang mendominasi siswa. Melalui ekspresi hiperbol, guru menyam-paikan evaluasi atau kritikan yang berlebih-le-bihan sehingga menempatkan siswa dalam posi-si yang terdominasi. Menurut Naim (2009:7), dalam menghadapi siswa, guru harus mengede-pankan sikap objektif. Sikap objektif merupakan bentuk usaha dari seorang guru untuk memaha-mi dan menyikapi setiap persoalan secara pro-porsional. Sikap objektif akan menjadikan guru mampu menghadapi siswa dengan penuh kearif-an. Sebaliknya, sikap emosional kerap menjeru-muskan guru dalam subjektivitas.

Dalam mengevaluasi dan mengoreksi pe-nampilan siswa, objektivitas penting dikede-pankan guru. Setiap siswa memiliki keterbatasan dan sering kali mereka tidak mampu memenuhi kriteria minimal sekalipun. Oleh karena itu, guru perlu  bersikap objektif dan memahami bahwa siswa memiliki variasi individual, memiliki keterbatasan. Jika harus menyampaikan kritik, maka kritikan itu dilakukan dengan santun, tidak mempermalukan, dan tidak melukai perasaan siswa.

Sarkasme

Sarkasme merupakan celaan getir yang mengandung kepahitan. Sarkasme menyakiti hati dan kurang enak didengar.  Sarkasme merupakan bentuk sindiran yang didayagunakan guru dalam IPBI. Sarkasme digunakan guru untuk mengoreksi perilaku tidak disiplin siswa. Berikut data yang mengandung gaya bahasa sar-kasme.

(8)       G : Kalau yang tidak punya

kedisiplinan itu apa anak-anak?

S  : Binatang!

G : Binatang dan hewan bukan anak sekolah

Tuturan (8) tersebut diungkapkan guru untuk menanggapi perilaku tidak disiplin yang ditunjukkan siswa. Pada saat itu, dua orang siswa terlambat datang dan langsung diinteroga-si oleh guru. Dalam tuturan tersebut, guru mem-bandingkan binatang dengan siswa. Tuturan ter-sebut memiliki praanggapan bahwa (1) perilaku tidak disiplin hanya dimiliki binatang dan (2) siswa yang tidak disiplin sama dengan binatang.

Tuturan tersebut akan menyakitkan bagi siswa yang bersangkutan sebab  mereka disama-kan dengan binatang. Penggunaan ungkapan binatang dan hewan bukan anak sekolah mem-berikan makna bahwa yang bersangkutan ber-perilaku seperti binatang. Dengan demikian, me-reka tidak patut disebut anak sekolah.

Gaya bahasa sarkasme juga digunakan  guru untuk mengevaluasi penampilan siswa  se-perti dalam data berikut.

(9)       G: Baik, tentunya Anda ingin

tahu kelompok siapa yang terbaik penampilannya dari yang ada! Berapa?

S:  Pertama!

G: Kelompok pertama dengan jumlah nilai 56.

G: Posisi pertama dari belakang. Yang paling kurang maksimal adalah kelompok dua. Saya tidak tahu ada apa dengan kalian? Tidak siap!

Tuturan (9) dituturkan guru di akhir pembelajaran ketika menyampaikan nilai yang diperoleh siswa. Guru menyampaikan urutan-urutan kelompok siswa dari yang terbaik hingga yang paling kurang. Penyampaian dengan mimik serius dari guru menimbulkan kesan penghinaan bagi siswa. Apalagi dengan penggunaan tuturan “posisi pertama dari belakang” dan “paling kurang maksimal” mengesankan bahwa penam-pilan siswa sungguh buruk.

Penggunaan sarkasme menunjukkan bahwa guru menerapkan pendekatan kekuasaan dalam IPBI. Dalam menegakkan kedisiplinan dan mengevaluasi penampilan siswa, guru tidak segan-segan  menggunakan ungkapan yang da-pat menyakiti perasan siswa. Guru merasa me-miliki kewenangan dan kekuasaan mengungkap-kan ungkapan tertentu kepada siswa. Pilihan bahasa yang menggunakan ungkapan-ungkapan yang dapat menyakiti hati siswa disebabkan oleh posisi guru yang dominan terhadap siswa. Do-minasi guru diperoleh melaui kewenangan yang dimiliki maupun akses pada ilmu pengetahuan. Posisi siswa dengan guru yang tidak setara mempengaruhi pilihan-pilihan bahasa guru.

Dalam berkomunikasi di dalam kelas, prinsip memanusiakan anak didik merupakan salah satu pendekatan yang harus diutamakan (Yamin, 2009:231). Komunikasi dibangun atas dasar saling melengkapi dan saling mengisi, sa-ling memberi penguatan, bukan saling menjatuh-kan. Komunikasi yang setara akan membangun relasi yang solid sehingga menutup ruang untuk saling menindas. Freire (2007:ix) mengemuka-kan bahwa komunikasi dalam pendidikan harus menghindarkan diri dari segala bentuk penin-dasan. Melalui komunikasi yang setara, guru dapat meluruskan hal salah dan keliru tanpa melukai perasaan siswa. Hal inilah yang meru-pakan salah satu dimensi dari pendidikan kritis yang harus dikembangkan dalam interaksi de-ngan siswa.

Eufemisme

Eufemisme merupakan gaya bahasa yang menggunakan ungkapan yang halus dalam mengungkapkan suatu realitas. Eufemisme digu-nakan untuk menjaga kesopanan dan menghin-dari ungkapan yang menyakitkan mitra tutur. Eufemisme dalam IPBI dapat dilihat dalam data berikut.

(10)   G: Jangan mempersulit diri

sendiri! Maksudnya, coba ingat kejadian atau peristiwa yang pernah Anda saksikan di sekeliling Anda! Yang sebenarnya Anda punyai banyak pengalaman, banyak  kejadian yang pernah Anda lihat ….

G: Hanya beberapa orang yang lumayan bagus, paling tidak  mentalnya, bahasanya, sudah cukup lancar.

Tuturan (10) merupakan komentar guru dalam mengevaluasi hasil belajar siswa. Dalam penilaian guru, secara umum hasil belajar siswa buruk. Namun, dalam memberikan evaluasi guru ingin menjaga relasi dengan siswa melalui ekspresi eufemisme. “Hanya beberapa orang yang lumayan bagus” memiliki makna bahwa (1) tidak seorang pun siswa yang memenuhi kriteria bagus dan (2) sebagian besar hasil pe-kerjaan yang lain berkategori tidak bagus. Peng-gunaan eufemisme tersebut bertujuan meng-hindari komentar yang dapat menyakiti atau menurunkan motivasi belajar siswa.

Penggunaan eufemisme dalam IPBI me-miliki makna kritikan guru secara tidak langsung terhadap siswa. Perhatikan data berikut!

(11)        G: Saya amati beberapa pekerjaan dalam

mengambil kesimpulan, itu  tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Tuturan (11) merupakan cuplikan kome-ntar guru yang memberikan penilaian terhadap hasil pekerjaan siswa. Eufemisme “itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan” memiliki makna bahwa kesimpulan yang diberikan oleh siswa salah. Pendayagunaan eufemisme dalam tuturan tersebut menghindarkan guru dari pemberian kritikan secara langsung.

Eufemisme juga digunakan guru untuk menyindir siswa. Penggunaan eufemisme yang bertujuan menyindir dapat diperhatikan dalam data berikut.

(12)        G: Silakan dikumpul!

Selesai tidak selesai dibawa ke depan!

G: Fina! (memohon segera dikumpul)

G: Sebenarnya pekerjaan ini hanya 15 menit!

Tuturan (15) disampaikan guru untuk menyindir siswa yang mengerjakan tugas mele-wati batas ideal waktu pengerjaan. Dalam pan-dangan guru, tugas yang diberikan dapat disele-saikan dalam 15 menit saja. Namun, dalam kenyataannya, siswa tidak mampu menyelesai-kan tugas dalam batas waktu tersebut. Peng-gunaan eufemisme “Sebenarnya pekerjaan ini hanya 15 menit! bermakna sindiran kepada siswa bahwa mereka terlalu lambat dalam men-yelesaikan tugas.

Penggunaan eufemisme dalam IPBI da-lam tuturan (13), (14), dan (15) bertujuan menyamarkan dominasi guru dalam memberikan kontrol terhadap siswa. Makna dari kritikan ataupun evaluasi yang disampaikan guru terke-san jauh dari sikap arogansi. Guru memberikan evaluasi tetapi tidak terkesan menggurui. Guru menyalahkan siswa, tetapi tidak melukai peras-aan mereka. Hal ini sangat kontras dengan peng-gunaan sindiran melalui gaya bahasa sarkasme (diseufemisme). Dalam relasi kekuasaan, Buordieu dalam Rusdiarti (2003) mengemu-kakan bahwa bentuk eufemisme merupakan wujud dari penguasaan simbolik. Senada dengan itu, Drummond (2003:123) mengemukakan bahwa simbol dapat digunakan untuk mengen-dalikan perilaku orang lain dengan cara menem-patkan mereka pada posisi penting. Penggunaan kritikan yang berlebihan dalam IPBI dapat membuat siswa merasa diri tidak penting, tidak berguna atau tidak mampu. Dengan meng-gunakan eufemisme, kritikan guru tidak terasa memojokkan siswa sehingga mereka tetap mera-sa menjadi bagian penting dari proses pembel-ajaran.

KESIMPULAN

Wujud gaya bahasa yang didayagunakan guru dalam interaksi pembelajaran, meliputi: (1) sinisme, (2) hiperbola,  (3) sarkasme, dan (4) eufemisme. Gaya bahasa tersebut menunjukkan posisi guru yang mendominasi siswa dalam interaksi pembelajaran. Relasi guru-siswa menunjukkan posisi yang tidak seimbang. Guru berada pada posisi mengontrol, sedangkan siswa dalam posisi yang dikontrol. Penggunaan gaya bahasa tersebut memiliki efek secara psikologis terhadap siswa, misalnya mempermalukan siswa, menekan, dan mengekang.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, Gillian dan George Yule. 1983. Analisis Wacana. Diterjemahkan oleh I. Soetikno. 1996. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Brown, James Dean. 1995. The Elements of Language Curriculum: A Systematic Approach to Program Development. Massachusetts: Heinle & Heinle Pub-lisher.

Darma, Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung: Yrama Widya.

Drummond, Helga. 1992. Kekuasaan: Rebut dan Gunakan. Diterjemahkan oleh Dian Paramesti. 2003. Jakarta: Abdi Tandur.

Eriyanto. 2003. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

Freire, Paolo. Tanpa Tahun. Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Diterjemahkan oleh Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto.2007. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Halliday, M.A.K dan Ruqaiya Hasan. 1985. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Diterjemahkan oleh Asruddin Barori Tou. 1992. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Hardjono, Sartinah. 1988. Prinsip-prinsip Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Jufri. 2005. “Penggunaan Kosakata dalam Wacana Berita tentang SBY Seputar Pemilu 2004”. Wacana Kritis. Volume 10, Januari 2005, hlm. 1-11.

____.2006. “Struktur Wacana Lontara La Galigo”. Disertasi. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

____.2007. Metode Penelitian Bahasa, Sastra, dan Budaya. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.

Keraf, Gorys. 2001. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahsun. 2007. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Teknik-nya. Jakarta: Rajawali Press.

Marno dan Idris. 2009. Strategi dan Metode Pengajaran: Menciptakan Keterampilan Belajar yang Efektif dan Edukatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Mills, Sara. 1997. Diskursus: Sebuah Piranti Analisis dalam Kajian Ilmu Sosial. Diterjemahkan oleh Ali Noer Zaman. 2007. Jakarta: Penerbit Qalam.

Moleong, Lexy J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda-karya.

Naim, Ngainum. 2009. Menjadi Guru Inspiratif: Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nunan, David. 1992. Mengembangkan Pemahaman Wacana: Teori dan Praktik. Diterjemahkan Elly W. Silangean. 1992. Jakarta: Rebia Indah Prakasa.

Rusdiarti, S. R. 2003. “Bahasa, Pertarungan Simbolik, dan Kekuasaan.” Jurnal Basis, Edisi Khusus Pierre Bourdieu, No. 11 12 Tahun ke-52, November-Desember 2003.

Santoso, Anang. 2002. “Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Wacana Politik”. Disertasi. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Sardiman. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.

Stubbs, Michael. 1987. Discourse Analysis: The Sociolinguistic Analysis of Natural Language. Oxford, UK: Basil Blackwell.

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Wahab, Abdul Azis. 2008. Metode dan Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Alfabeta.

Yule, George. 1996. Pragmatik. Diterjemahkan oleh Indah Fajar Wahyuni. 2006. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Yuwono, Untung. 2005. “Wacana” dalam Kushartanti, dkk (Eds.), Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (hlm.91-103). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

6 Tanggapan

  1. saya, bersyukur dapat membaca artikel ini, ada nilai tambah bagi saya,… makasi

  2. Tulisan ini menginspirasi saya untuk lebih inspiratif. Banyak situasional dalam pemaparan tulisan itu yang sering saya praktekkan di kelas. Dimuat lagi tulisan-tulisan inspiratif lainnya…!

    • Iyya Kanda, mudah-mudahan diberikan kesehatan untuk terus berkarya sehingga bisa dipublikasi di blog ini.

  3. pas sekali, saya juga mau ambil skripsi yang memakai AWK buat pisau analisisnya. hatur nuhun…

  4. Maaf mau tanya. Saya ingin menulis skripsi tentang hubungan kekuasaan di kelas bahasa tapi saya masih bingung dalam mencari referensi untuk indicator pengggunaan power yang dilakukan oleh guru. Apakah mas bisa membantu? terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: