Pragmatisme yang Mendegradasi Moral Guru

Dunia pendidikan kita akhir-akhir tengah dirundung duka. Beberapa persoalan pelit, datang silih berganti. Dalam beberapa bulan ini, penulis mencatat sedikitnya tiga kejadian mendasar yang patut kita cermati. Kejadian paling anyar adalah dugaan manipulasi nilai yang terjadi di SMAN 3 Makassar (Fajar, 23/07/08). Pemalsuan nilai dilakukan agar dapat lulus dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur khusus di Univeristas Hasanuddin. Sebelumya, kasus yang cukup menghebohkan adalah pungutan liar yang terjadi di sejumlah sekolah di Makassar yang berujung pencopotan dan mutasi sejumlah kepala sekolah. Tiga bulan yang lalu, dalam pelaksanaan Ujian Nasional juga terjadi kecurangan pembocoran soal yang melibatkan sejumlah kepada sekolah dan guru. Dalam hajatan yang sama, ditenggarai sejumlah oknum guru memberikan bantuan berupa kunci jawaban kepada siswa.

          Rentetan kejadian itu harusnya membuat kalangan pendidik merasa berkecil hati. Malu! Rasanya kata itu tepat untuk menggambarkan prilaku sejumlah oknum guru. Memang oknum yang terlibat sangat tidak signifikan dengan jumlah guru secara keseluruhan. Tetapi, cap negatif yang lahir tidak lagi diarahkan untuk orang per orang. Secara general, masyarakat kita menyebut bahwa pelaku berbagai tindak kecurangan itu adalah guru. Dengan demikian, maka sesungguhnya yang tercoreng (tertuduh) adalah guru sebagai profesi.

          Dari analisa penulis, rentetan kejadian ini mengindikasikan adanya degradasi moralitas di kalangan pendidik kita. Degradasi itu lahir sebagai akibat pragmatisme guru. Pragmatisme dalam hal ini adalah hasrat untuk memenuhi kepentingan-kepentingan sesaat dan keinginan memperoleh prestasi, meskipun sifatnya semu. Beberapa hal yang penulis dapat kemukakan sebagai faktor pendorong lahirnya berbagai kecurangan itu adalah;

          Pertama, gengsi pribadi dan gengsi sekolah. Adanya keinginan untuk memperoleh prestasi atas nama pribadi dan institusi dalam jiwa guru. Guru (baca; guru yang terlibat dalam kasus) ingin disebut berhasil secara pribadi atau lembaga. Sesungguhnya semangat guru demikian bagus, hanya saja jalan yang ditempuh sama sekali tidak bisa dibenarkan. Kasus ini tercermin dari manipulasi nilai untuk meluluskan siswa ke perguruan tinggi dan kasus pembocoran ujian nasional. Keberhasilan meluluskan siswa dalam jumlah yang banyak ke perguruan tinggi bergengsi atau keberhasilan meluluskan siswa seratus persen dalam ujian nasional merupakan prestise bagi guru sekaligus sekolah. Predikat ini yang ingin diraih guru, tetapi fatalnya dilakukan dengan tindakan amoral.

          Permasalahan ini juga tidak terlepas dari pandangan masyarakat yang ingin menilai pada hasil akhir. Masyarakat kita memiliki pandangan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu meluluskan siswanya hingga seratus persem dalam Ujian Nasional atau mampu meluluskan siswanya dalam jumlah yang  banyak pada perguruan tinggi bergengsi tanpa melihat proses yang terjadi di balik angka kelulusan itu.

Kedua, ketakutan guru dan sekolah memperoleh cap gagal. Kegagalan menjadi pukulan telak bagi guru dan sekolah. Kegagalan dalam ujian nasional atau seleksi masuk perguruan tinggi dinilai sebagai aib bagi guru dan sekolah. Padahal, kegagalan tidak harus selalu didefinisikan demikian. Keberhasilan dan kegagalan siswa dalam menempuh pendidikan tidak hanya ditentukan faktor guru dan sekolah. Dukungan orang tua, lingkungan, dan juga pemerintah memberikan andil terhadap keberhasilan atau kegagalan siswa di sekolah.

Ketiga, adanya target-target yang dibebankan. Persoalan lain yang seringkali menghantui guru adalah kegagalan memenuhi target yang dibebankan pemegang kebijakan. Misalnya, target yang ditetapkan pemerintah daerah atau dinas pendidikan dalam hal kelulusan siswa. Target-target yang tidak terlepas dari kepentingan politik. Semuanya terakumulasi dan menjadi tekanan bagi guru dan sekolah. Secara realitas kadangkala target-target seperti itu sesungguhnya sangat sulit untuk dipenuhi, tetapi ketakutan memperoleh cap gagal melahirkan pilihan berbuat curang dipilih oleh guru ataupun sekolah secara institusi, seperti me-mark up nilai rapor atau memberikan kunci jawaban.

Keempat, faktor kepentingan sesaat dan ‘rayuan materi’. Kasus pungutan liar yang terjadi di sejumlah sekolah, tidak terlepas dari kepentingan sesaat sekolah untuk ‘meningkatkan’ pundi-pundi keuangan sekolah. Berbagai alibi dan justifikasi digunakan untuk membenarkan tindakan, misalnya uang pembangunan gedung, perlengkapan belajar, laboratorium dan lainnya. Tetapi, dibalik semua itu sekolah lebih banyak memanfaatkan momentum. Posisi  siswa dan orang tua yang berada dalam ‘posisi lemah’ karena kebutuhan memperoleh sekolah dimanfaatkan untuk memberikan pemasukan bagi sekolah.

Pungutan-pungutan yang berlangsung bisa saja disetujui oleh orang tua. Tetapi, apakah persetujuan itu lahir dengan tulus? Ini sesuatu yang susah dipastikan. Penulis cenderung menilai persetujuan lahir karena keterpaksaan. Mengapa? Posisi orang tua yang ‘lemah’ yang menginginkan anaknya dapat diterima di sekolah memaksa mereka untuk memilih pilihan setuju.

Kelima, hubungan emosional. Dalam kasus pemalsuan nilai yang terjadi di Makassar memperlihatkan adanya faktor hubungan emosional ini. Kedekatan emosional yang dimiliki oleh guru atau kepala sekolah dengan siswa menjadi salah satu faktor pendorong.

 Budaya mark-up nilai yang kerap terjadi di dunia pendidikan kita dewasa ini hendaknya dipandang sebagai persoalan serius. Apalagi, melibatkan guru sebagai aktor utama. Abdul Munir Mulkhan dalam bukunya Sekolah Kepribadian (2002; 5) mengatakan bahwa profesi guru diukur dari kemampuan me-mark up nilai sehingga rapor siswa bebas angka merah. Kenaikan kelas atau kelulusan 100 % adalah sebuah peristiwa biasa bukan sebuah prestasi.

Budaya mark-up nilai, pembocoran soal, pemberian kunci jawaban, ataupun pungutan liar yang mulai membudaya dapat menjadi ‘awal kematian’ bagi dunia pendidikan kita. Secara langsung ini merupakan pendidikan negatif bagi siswa. Guru mendidik mereka meraih prestasi semu melalui usaha ‘haram’. Tindakan-tindakan tersebut sama sekali bukan upaya pencerdasan, sebaliknya lebih tepat disebut pembodohan siswa.

Prilaku ‘menyimpang’ guru yang membantu siswa dengan cara-cara haram memiliki implikasi negatif yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan intelektual siswa. Karena pendidikan yang mereka lalui ditempuh dengan cara-cara ‘haram’, maka anak akan tumbuh dengan mental yang rapuh, suka menggunakan jalan pintas, dan melakukan kecurangan untuk tujuan-tujuan dan kesuksesan sesaat. Pembentukan karakter seperti itu bisa terjadi atas dasar pengalaman yang dilalui dan diperoleh dalam menempuh pendidikan mereka.

Untuk mencegah agar tindakan-tindakan serupa tidak berulang dan tidak semakin berkembang di masa yang akan datang, guru harus memiliki integritas. Integritas sebagai pendidik yang tidak terpengaruh oleh tekanan untuk membantu siswa dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Integritas yang dimiliki oleh guru akan berimplikasi pula terhadap integritas siswa. Siswa akan belajar dari guru untuk berjuang secara maksimal, tetapi tidak dengan tindakan kecurangan.

          Selain itu, untuk mencegah tindak kecurangan dalam dunia pendidikan kita, penting untuk melakukan evaluasi kebijakan, menerapkan fungsi pengawasan, dan memberikan efek jera bagi siapapun yang melanggar etika profesi guru.

          Suatu hal yang pasti bahwa tindakan amoral dalam dunia pendidikan kita harus segera diakhiri. Guru sebagai pendidik bertugas bukan hanya melakukan transfer ilmu, tetapi juga memberi ketelanan melalui pengajaran nilai-nilai moral. Sehingga, proses pedidikan pun harus berlangsung dengan menjunjung tinggi moralitas.

9 Tanggapan

  1. kalau kita sudah tahu, sisa ditunggu actionnya ,
    Bersikan dunia pendidikan ni dari guru yang moralnya ambruk ….

  2. jangki’ lupa dukung faizan di ajang anging mammiri award kategori pendatang baru terbaik

  3. saya melihat bahwa profesionalitas guru semakin dipertanyakan daeng sultan….semakin tidak jelas kemana arah kompetensi guru saat ini….salah satunya adalah kompetensi kepribadian yang semakin menipis…..selama ini para guru hanya dituntut sebagai agent of knowledge…..hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswanya, baru sepuluh tahun saya menjadi guru dan saya bisa melihat bahwa guru tidak pernah dikondisikan sebagai agent of moral value

  4. Hanya beberapa guru yang seperti itu jangan digeneralkan dong.. masih banyak guru yang profesional dan lolyal bahkan tanpa pamrih mendidik anak-anak bangsa.Mdh2an guru2 yang khilaf tersebut cepat kembali kejalan yang benar.

  5. Memang memprihatinkan moral guru, tapi itu tidak berarti semua guru kan. Aku juga Guru lho.
    Tetapkan hati kita untuk mendidik anak bangsa dengan keikhlasan dan rendah hati.
    Lam kenal Pak guru

  6. Daeng…, guru harusnya tetap berperan ganda, selain agent dari transfer of knowledge, harus juga menjadi agent moral of value, menjadi living example murid-muridnya.

    Persoalannya, memang arus hedonisme yang menggerus semua “ummat” kadang membuat iman menjadi goyak, meluluh lantakkan idealisme para “pahlawan tanpa tanda jasa” ini.
    Mestinya, guru tetap kukuh, pada suara hatinya, karena mereka telah “secara moral ditempatkan sebenarnya” punya kemampuan lebih…

    (sekalian ijin linknya yach…)
    yaniesbe.wordpress.com

  7. ! يا ربّي اغفرلي
    Kita memang dihadapkan oleh berbagai kepentingan; yang pada akhirnya menyudutkan posisi kita sebagai GURU. Pasalnya, ada pihak sekolah yang memaksa kita berbuat demikian, juga ada pihak orang tua yang berlaku sama, walaupun tidak memaksa, hanya datang membawa airmata kehadapan si Guru. Pada akhirnya sulit bagi siguru untuk digugu & ditiru, karena perilakunya yang ambigu.

    اللهمّ اغفرلي
    Mohon ma’af atas perilaku yang seperti itu, dan sepertinya, sebelum-sebelumnya kita memang korban dari sistem yang sudah seperti lingkaran setan; dan bahkan sekarang ataw barangkali saat inipun secara kita sadari; kita menjadi penerus pelaku yang terdapat di lingkaran SETAN itu.

  8. guru = di gugu dan di tiru kata orang jawa, jika ada guru yang moralnya bobrok , mau jadi apa muridnya…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: