Meraih Mimpi 2030

  Data Buku

  • Judul                 : Kurikulum yang Mencerdaskan; Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif
  • Editor                : A. Ferry T. Indratno
  • Penerbit            : KOMPAS
  • Tahun Terbit      : 2007
  • Tebal                : 512 Halaman

 

Kurikulum yang Mencerdaskan, Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif merupakan refleksi perkembangan pendidikan di masa lalu dan proyeksi masa depan bangsa ini. Buku yang lahir dari makalah-makalah yang disajikan dalam Forum Mangunan ini, sesuai dengan judulnya terbagi atas dua bagian, yakni Visi 2030 bangsa Indonesia dan pendidikan alternatif.

Visi 2030 dilahirkan Indonesia Forum yang dibentuk Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. Gagasan yang berisi mimpi bangsa Indonesia dalam kurung 22 tahun wakyu mendatang. Mengapa mimpi? Pencapaian yang hendak dituju kelihatan hanya dapat dicapai melalui keberuntungan. Betapa tidak, para pengagas visi itu mencanangkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia kelima setelah Cina, India, Amerika, dan Uni Eropa di saat itu. Sebuah mimpi yang rasanya hanya betul-betul akan menjadi mimpi.

Simak saja kondisi ekonomi kita saat ini, kemudian bandingkan dengan mimpi besar itu. Menempati posisi lima kekuatan ekonomi dunia, berarti kita harus mengalahkan kekuatan besar ekonomi saat ini seperti Jepang, Singapura dan Korea. Padahal, dengan Malaysia saja kita sudah tertinggal. Belum lagi jika menilik pendapatan perkapita kita  yang dicanangkan pada saat itu sebesar 18.000 dolar AS per tahun. Dengan hitungan kurs Rp 10 ribu untuk 1 US dollar, maka pendapatan rata-rata per bulan setiap penduduk pada saat itu sebesar Rp 15 juta. Artinya, gaji buru harian pada saat itu minimal Rp 500 ribu per hari. Bandingkan dengan pendapatan per kapita bangsa kita 2005 lalu yang hanya 1.280 dollar AS. Sekali lagi rasanya ini hanya akan menjadi sebuah utopia.

Namun, sebagai mimpi, visi itu sah-sah saja. Satu alasan yang kiranya dapat diterima ketika dipaparkan bahwa mimpi tersebut dibuat sebagai upaya untuk menumbuhkan kerja keras kita sebagai bangsa. Cita-cita yang besar, diharapkan akan melahirkan etos kuat dalam menggapainya. Termasuk di dalamnya bagaimana upaya dunia pendidikan kita bersinergi dengan pencapaian visi 2030. China dan India, dua negara yang diyakini akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dan tiga ditahun 2040 selain karena perkembangan ekonominya yang pesat dewasa ini juga karena penguasaan teknologinya. Pendidikan telah memberikan konstribusi yang besar terhadap penguasaan teknologi bagi kedua negara. Visi 2030 yang lebih tepat disebut utopia tersebut dibuat untuk mendorong kerja keras seluruh elemen bangsa, termasuk dunia pendidikan.

Dalam pandangan sejumlah penggiat pendidikan, strategi dan sistem pendidikan di Indonesia terlihat tidak gayut (ketemu) dengan visi 2030. Praksis pendidikan tidak relevan dengan pembangunan ekonomi, tidak relevan dengan pembangunan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (hal. 100). Sebelum berbicara tentang relevansi dengan pembangunan ekonomi, praksis pendidikan kita masih harus diperhadapkan pada pemenuhan hak anak untuk memperoleh pendidikan, pelayanan sesuai bakat, minat, dan kemampuan anak, masalah guru hingga pengelolaaan sekolah.

Jika pendidikan diharapkan berkonstribusi bagi kemajuan ekonomi, maka komitmen untuk memajukan dunia pendidikan adalah hal yang mutlak. Politisasi pendidikan dalam berbagai bentuk, termasuk ujian nasional, kurikulum, penganggaran biaya pendidikan, dan perbukuan harus segera diakhiri.

Kurikulum yang berlaku dalam suatu negara, termasuk Indonesia, sering digunakan sebagai sarana indoktrinasi dari satu sistem kekuasaan. Sampai sejauh ini, pendidikan di Indonesia menggunakan satu kurikulum, yaitu Kurikulum Nasional yang dipakai sebagai acuan tunggal. Semua lembaga formal dinegeri ini, baik di kota besar, pelosok gunung, maunpun di pinggiran pantai, punya kurikulum sama. Dengan demikian proses pendidikan yang terapkan adalah dalam upaya membentuk keseragaman berpikir (hal 108-109).

Namun demikian, kemunculan KTSP dipandang sebagai kebijakan desentralisasi, akomodatif, dan terbuka. Ini merupakan peluang yang mesti dimanfaatkan. ‘Kebebasan’ dan kemerdekaan yang diberikan harus dapat dimanfaatkan untuk melakukan pembaruan semangat pendidikan di tanah air. KTSP harus ditempatkan sebagai sarana pencerdasan bagi anak didik. Melalui kurikulum yang ‘mencerdaskan’ ini, diharapkan dapat mengakomodasi pengembangan intelektual siswa, melatih kepekaan sosial, tanggung jawab, dan mengembangkan keterampilan mereka. Intinya KTSP harus ditempatkan sebagai kurikulum yang beridentitas kerakyatan, kurikulum yang memihak kepada anak didik. Ini merupakan tantangan dunia pendidikan kita yang mesti ditalukkan agar kita dapat bertemu dengan visi 2030. Long way to go!

 Pendidikan Alternatif: Tidak Sekadar Berbeda

Dewasa ini pendidikan alternatif telah berkembang menjadi sebuah istilah yang sangat familiar di telinga kita. Namun, belum ada satu definisi konkret mengenai penggunaan istilah alternatif. Bahkan, alternatif cendrung ditafsirkan sekadar berbeda dengan pendidikan formal. Dalam pandangan Frans M. Farera, pendidikan alternatif muncul sebagai respon atas sistem pendidikan formal yang tidak capable,  credible, efektif, efisien, dan berbiaya tinggi.

Pendidikan  alternatif dimaknai sebagai sebuah konsep pengelolaan pendidikan yang bergeser dari pola konvensional ke pola kontekstual. Dengan demikian, sesungguhnya pendidikan alternatif tidak menjadi miliki kelompok tertentu atau komunitas tertentu, tetapi dapat dikembangkan oleh siapa saja, termasuk pengelola pendidikan formal baik negeri maupun swasta. Alternatif dalam arti menerapkan konsep-konsep, metode, strategi, pengelolaan, dan penanaman nilai yang tidak berlaku secara umum tetapi sesuai konteks kebutuhan masyarakat dan peserta didik.

Butet Manurung dengan Sekolah Rimba-nya berhasil ‘mensekolahkan’ orang rimba di Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi.  Bagi, Butet cara pandang atas suatu konsep pendidikan yang dikatakan tepat tidaklah ada ukuran benar-salah atau baik buruknya, tetapi seberapa tepat ia menjawab tuntutan kebutuhan komunitas itu.

Komunitas dengan karakter khusus, membutuhkan model pendidikan yang khusus. Untuk orang rimba yang tinggal jauh di pedalaman yang kehidupannya sedang bertransisi dari hunter-gather menjadi berpadu dengan cara petani berpindah dapat dipastikan bahwa paket pendidikan formal tidak menjawab kebutuhan mereka. Oleh karena itu, paket yang diberikan haruslah paket pendidikan rimba. Melalui Sekolah untuk  Kehidupan (Jungle for Life) mereka belajar baca-tulis-hitung, pengetahuan alam, pola pertanian, keterampilan berburu hingga budaya orang rimba. Mereka di didik di Sekolah untuk Kehidupan tetapi tidak untuk menjadi ‘orang kota’.

Hal sama dilakukan Badruddin yang mengelola pendidikan alternatif melalui Qaryah Thayyibah sebagai upaya pemberdayaan masyarakat desa. Konsep belajar mengajar ditiadakan, yang ada adalah belajar bersama.  Proses pembelajaran tidak menempatkan guru sebagai pengajar  dan bukan hanya siswa yang belajar, tetapi guru dan siswa harus belajar bersama. Guru dan murid diajak untuk belajar memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua ikut dilibatkan sebagai fasilitator dan sumber belajar. Guru memperoleh upah yang tidak lazim tetapi lebih memberdayakan dengan sistem bengkok (model penggajian kepala desa/lurah di Jawa).

Dari paparan di atas, alternatif jelas bukan sekadar nama yang digunakan sebagai daya tarik untuk memperoleh siswa, meningkatkan gengsi sekolah, atau sekadar alat promosi.Pendidikan alternatif adalah sebuah konsep pengelolaan sekolah yang kontekstual dan memberdayakan.

Dalam skala yang lebih kecil, guru bersama siswa di kelas berpotensi menciptakan sebuah model pembelajaran alternatif. Pembelajaran yang mencoba beralih dari  model konvensional ke model kontekstual seperti kontekstualnya pembelajaran anak rimba oleh Butet Manurung dan sekolah anak desa oleh Badruddin.

 Akhirnya, beberapa kategori pengajar (baca; guru) yang dikemukakan William W. Ward, seorang pengamat paedagogis berikut ini layak menjadi renungan bagi kita semua yang mengaku sebagai guru.

            Pengajar biasa memberitahu

            Pengajar yang baik menjelaskan

            Pengajar yang lebih baik mendemonstrasikan

            Pengajar terbaik memberikan inspirasi

Kita berharap dengan dukungan dunia pendidikan kita, visi 2030 bangsa ini tidak sekadar menjadi mimpi. Namun, mimpi besar yang betul-betul menjadi kenyataan.

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Tanggapan

  1. Sering kali kita mengejar MIMPI

    Seolah – olah impian itu adalah TARGET

    Susah payah penuh pengorbanan mimpi DIKEJAR

    Setelah tercapai kita akan kembali BERMIMPI

    Hidup adalah untuk IBADAH

    Ibadah itu bukanlah BERMIMPI

    Karena ibadah adalah hidup HARI INI

    Memaksimalkan HARI INI dan DETIK INI

    Masa depan adalah MISTERI

    Masa lalu adalah HISTORI

    Mimpi hanya membatasi KEMAMPUAN

    MAKSIMALKAN HARI INI UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

    http://fusion-kandagalante.blogspot.com

  2. suka dengan tulisannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: