Sekolah Tersaingi Bimbingan Belajar, Betulkah?

Sekolah Tersaingi Bimbingan Belajar. Begitu judul headline Koran KOMPAS di Rubrik Humaniora yang terbit Kamis lalu (2/4/08). Setelah membaca dan mencermati isi berita tersebut, menulis terdiam sejenak dan kemudian berpikir keras atas sejumlah pertanyaan yang muncul di kepala. Betulkah sekolah telah tersaingin oleh Bimbingan Belajar (Bimbel)? Apakah sekolah dan Bimbel layak dipersaingkan/diperbandingkan? Apa begitu jelek image kondisi sekolah saat ini? Ukuran-ukuran yang digunakan apa sudah tepat untuk memperbandingkan antara keduanya. Itulah sejumlah pertanyaan yang mampir di kepala penulis.

Sesungguhnya antara sekolah dan Bimbel memiliki orientasi yang sangat berbeda meskipun dikemas dalam konteks pendidikan. Bimbingan belajar bagi penulis lebih tepat jika disebut bimbingan tes. Mengapa? Proses belajar yang diberikan semata-mata ditujukan kepada pemberian kemampuan kepada siswa untuk dapat menjawab tes-tes yang diujikan. Baik tes ujian semester maupun tes ujian nasional. Di lain sisi, sekolah memfasilitasi proses belajar untuk  mengembangkan anak secara utuh dan komprehensif. Tidak hanya membelajarkan anak untuk tujuan-tujuan khusus seperti sekadar lulus ujian. Sekolah memfasilitasi anak belajar untuk memberikan pengalaman belajar bukan pengalaman menyelesaikan soal, mengembangkan kreativitas, mengembangkan sikap, dan mengembangkan keterampilan siswa. 

Suatu hal yang sangat berbahaya jika masyarakat kita mereduksi arti pendidikan untuk sekadar lulus ujian. Sehingga bimbingan tes yang sifatnya praktis dan pragmatis menjadi pilihan mereka. Betapa berbahaya jika siswa sekadar diajari menyelesaikan soal-soal dengan menggunakan berbagai trik tanpa didasari pemahaman materi yang baik. Mereka bisa kelihaan cerdas tetapi sesungguhnya kropos.

Dalam hal membandingkan antara jumlah siswa di kelas Bimbel dan sekolah juga bukan ukuran yang tepat untuk mengatakan Bimbel lebih baik. Jumlah siswa yang sedikit memang memberikan kesempatan yang banyak kepada siswa untuk berinteraksi dengan tutor. Tetapi, lagi-lagi hal itu hanya bermanfaat untuk kepentingan pragmatis untuk lulus ujian. Jumlah siswa yang banyak, 20 -25 orang dalam satu kelas juga tidaklah selamanya jelek. Bila kita menekankan kepada aspek pengembangan sosial kepribadian anak, jumlah tersebut sangat bagus untuk mengembangkan interaksi sosial anak. Mereka dapat bergaul dan bersosialisasi dengan banyak teman yang memiliki latar belakang berbeda. Sementara jumlah siswa yang kecil di dalam Bimbel cendrung membuat pergaulan anak menjadi ekslusif.

Pemberian layanan yang kelihatan lebih kreatif dan variatif  bagi Bimbel menurut penulis lebih disebabkan sebagai ‘jualan’ semata. Strategi bisnis untuk dapat menarik calon peserta Bimbel. Menciptakan kesan yang bagus melalui promosi ‘produk’ untuk mendapatkan ‘pelanggan’ yang sebanyak-banyaknya. Disadari atau tidak, Bimbel telah berkembang menjadi salah satu komoditas bisnis di bidang pendidikan.

Untuk membuktikan sinyalamen tersebut di atas, mari kita perhatikan besar pembayaran yang menjadi beban bagi siswa Bimbel. Seperti yang diuraikan dalam artikel KOMPAS tersebut, setiap siswa membayar 2 juta hingga 3 juta selama enam bulan. Artinya, dalam tiga tahun (jika kita ibaratkan seperti proses pendidikan di sekolah), mereka mesti mengeluarkan uang 12 juta hingga 18 juta. Bandingkan dengan pembayaran SPP di sekolah-sekolah saat ini yang dituntut gratis karena sudah adanya dana BOS dari pemerintah untuk tingkatan pendidikan dasar.  Jadi, Bimbel kelihatan hanya cocok untuk orang kaya, tetapi tidak bersahabat bagi orang miskin.

Dalam hal persiapan ujian nasional, sesungguhnya sekolah-sekolah juga memberikan bimbingan belajar dan berbagai program untuk siswa agar mereka dapat lulus. Dengan berat hati, penulis terpaksa memamarkan program-program yang kami lakukan di sekolah kami (SMP YPS Singkole, Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan) dalam rangka persiapan UN yang bisa dibandingkan dengan program Bimbel. Program-program kami berikan secara gratis, sebagai berikut.

1. Bimbingan belajar sore hari selama lima kali seminggu dengan jumlah siswa berkisar 7-10 orang.

2. Bimbingan belajar pada hari Sabtu pagi (Sekolah kami menerapkan 5 hari kerja/minggu).

3. Try out ujian nasional sebanyak delapan kali (dua kali sebulan) mulai Januari hingga April yang proses pelaksanaan dan pemeriksaannya dilakukan dengan standard ujian nasional. Hasil-hasil try out diberikan dan dikomunikasikan ke orang tua melalui pertemuan individula guru bidang studi dan wali kelas dengan orang tua siswa.

4. Mendatangkan motivator/psikolog untuk memberikan motivasi dan penanganan mental siswa.

5. Memberikan jam konsultasi khusus kesulitan belajar dan masalah lainnya.

 

Penulis menyadari bahwa proses belajar yang dilakukan di Bimbel memang memiliki sisi menarik. Tetapi, untuk membandingkan antara sekolah dan Bimbel rasanya tidak tepat karena keduanya memiliki orientasi yang tidak persis sama. Tidak sekadar berorientasi meluluskan siswa lulus ujian. Begitu juga dengan membuat klaim bahwa layanan sekolah kurang bagus dibandingkan dengan Bimbel tidak sepantasnya dilakukan apalagi dengan ukuran-ukuran yang tidak berdasar.

 

 

4 Tanggapan

  1. saya sependapat. tidak selayaknya membandingkan sekolah dengan bimbingan. menurut saya lebih tepat klo bimbingan dianggap sebagai pelengkap atau semacam suplemen bagi siswa.

  2. bimbingan belajar lebih baik menekankan potensi anak yang perlu dikembangkan….dan bembeingan tes adalah mengulang pelajaran sekoalh untuk mencapai tujuan …bisa lulus atau naik kelas atau ke diterima di PTN pilihan .

  3. senada dengan pendapat atau opini anda, tetapi ada fenomena baru yang sedang menggeliat di jogja berkait dengan bimbingan belajar yang ternyata bisa menggratiskan biaya SPP siswa, silakan login ke gcm-education.com

  4. I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future. Thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: