Karena Aku Bugis, Aku Memakai Kaos Buginese

Hanya beberapa hari setelah ditawarkan, kaos buginese yang dicetak oleh seorang rekan laku hingga ratusan lembar. Peminatnya datang dari berbagai penjuru nusantara. Dari Jakarta, Balikpapan, Tarakan, Manado, hingga Sorowako. Peminatnya adalah para anak muda Bugis bersama keluarganya yang umumnya sedang merantau (sompe’) di negeri orang.

Tingginya minat anggota milist buginese untuk mendapatkan kaos buginese menjadi sebuah fenomena menarik. Tanpa bermaksud menganggap enteng, kaos buginese yang begitu diminati itu boleh dikata biasa-biasa saja. Tidak berbeda dengan kaos oblong pada umumnya. Nah, inilah sisi menariknya. Biasa saja, tetapi sangat diminati.

Penulis meyakini bahwa rekan-rekan yang begitu berminat memiliki baju kaos ini sebetulnya tidaklah susah untuk mendapatkan kaos serupa di kotanya masing-masing. Bahkan, dengan kualitas impor sekalipun mereka bisa dapatkan dengan muxda. Kaos apa yang tidak ada di Jakarta? Apa di Balikpapan tak ada kaos oblong sejenis? Apa mungkin di Manado tak ada mall yang menyediakan kaos serupa bahkan yang lebih bagus? Namun, menurut penulis permasalahannya bukan pada kualitas? Bukan ada atau tidaknya kaos serupa di kota masing-masing?

Menurut hemat penulis, motif yang menjadi penyebab larisnya kaos buginese adalah masalah identitas. Mengenakan sebuah baju dengan tulisan buginese yang dibumbui dengan aksara lontara’ merupakan sebuah wujud identitas. Ini adalah sebuah ekspresi diri. Kaos oblong tadi seolah dapat mewakili pribadi yang mengenakannya berkata kepada siapa saja yang melihatnya bahwa “aku manusia Bugis!” atau “aku anak muda Bugis!”.

Inilah yang tidak dimiliki kaos oblong serupa meskipun dengan kualitas impor sekalipun. Kaos buginese adalah sebuah tanda. Sebuah semiotika yang memiliki nilai kultural dari ‘manusia Bugis’. Ia mewakili sebuah entitas. Kaos itu tidak sekadar pakaian yang berfungsi menutup badan pemakainya. Tulisannya tidak sekadar rangkaian huruf untuk memberi label baju itu. Gambarnya pun tidak sekadar goresan tangan yang bertujuan mempercantik  design-nya. Kaos buginese, sebuah ekspresi untuk menunjukkan eksistensi sang buginese.  

Dengan memakai kaos buginese, lahir sebuah kebanggaan. “Aku manusia Bugis, karena aku memakai kaos buginese”. Dari cerita beberapa orang rekan, tidak jarang pemakai kaos itu harus bertanya kepada manusia Bugis lain untuk mengetahui makna tulisan yang sedang digunakannya. Ini merupakan sebuah gambaran betapa tingginya perasaan memiliki, ‘sukuisme’ anak muda Bugis. Tidak penting memahami makna tulisan, yang penting mereka dapat mempermaklumkan bahwa mereka manusia Bugis pula. Ya, mereka butuh pengakuan. Mereka ingin dikenal dan diakui sebagai manusia Bugis. Kaos ini pula menjadi ‘alat’ mem-Bugis-kan mereka yang sesungguhnya bukanlah manusia Bugis.

Beberapa orang dari keluarga (baca; istri/suami) rekan buginese dengan bangga mengenakan kaos ini. Mereka Bugis karena memiliki suami/istri Bugis, mereka Bugis karena mengenakan kaos buginese.

Dari sisi ini, kita mesti berbangga karena saudara-saudara kita masih sangat bangga menjadi manusia Bugis. Ini salah satu modal bagi eksistensi Bugis di masa depan.

Busana sebagai Simbol bagi Manusia Bugis

Bagi orang-orang Bugis busana dapat menjadi simbol yang memiliki arti tertentu. Dalam pemaparan Nasaruddin Kor dalam bukunya Ayam Jantan Tanah Daeng, kopiah (songko) dan sarung (lipa’) adalah dua benda yang erat kaitannya dengan kehidupan orang Bugis. Kedua benda itu harus dipakai secara tepat dan sopan. Sebuah ungkapan mengatakan massongko tallemme sibawa ma’bida masse memiliki makna bahwa kopiah yang dikenakan di kepala menandakan terpeliharanya jiwa dan pikiran, sementara sarung yang terikat erat sebagai tanda bahwa yang bersangkutan menjaga anggota tubuhnya di bagian perut.

Kopiah (songko) yang diletakkan dengan posisi tertentu menjadi simbol yang  memiliki arti. Bila kopiah dipakai persis di tengah kepala, itu menandakan bahwa yang bersangkutan menggunakan sebagai pelengkap busana. Bila songko didorong ke depan hingga di atas kening, itu berarti si pemakai menantang persoalan yang dihadapinya.

Bila songko dipasang titti (miring) ke kiri atau ke kanan hingga hanya di tahan telinga, itu berarti si pemakai menantang orang bermasalah dengannya. Bila songko dipakai dalam posisi tassorong ri munri (terdorong ke belakang) itu pertanda bahwa di pemakai sudah kalah atau hendak mundur dari arena. Ini kadang kala menjadi lelucon bagi menggunakan kopiah dengan posisi seperti yang selalu diidentikkan dengan orang kalah dalam judi.

Penggunaan warna busana, seperti baju bodo’ juga merupakan simbol bagi orang bugis. Penggunaan warna dapat menunjukkan status sosial (kebangsawanan) si pemakai.

9 Tanggapan

  1. Pakaian (termasuk baju) memang begitu penting bagi orang bugis. Makanya, ada ungkapan “TELLU JU” yang salah satu isinya adalah perlunya seorang calon suami menyiapkan sandang bagi isterinya. Lengkapnya, Tellu ‘ju’ adalah WAJU (papan), AKKAJU (pangan) dan AJU-AJU (“PISTOL” ABADINYA LAKI-LAKI)

    @ Sultan berkata;
    we..we..engkana saingannya tellu cappa (cappa lila, cappa kawali, na cappa teme’).

  2. mana foto ta berkaus Buginese?

  3. mana foto ta pake itu kaos cappo?

  4. salam kenal…saya dari Singapura…berketurunan bugis…ingin meminta kebenaran berkongsi cerita-cerita tentang orang-orang bugis….sungguh menarik sekali artikal ini..saya akan copy untuk disiarkan diblog khas bugis di Bugis Temasek…kalau lebih baik jika Kaos Bugis juga diperlihatkan sekali…photo-photonya…pasti teman-teman saya suka melihatnya juga…seeing is believing…..saya adalah salah seorang Admin di blog ini…harap saudara dapat membantu menghidupkan blog ini..dipersilakan mampir dan beri sokongan padu pada blog kita….semuga kehadiran orang-orang seperti anda akan menyemarakan keadaan dan sekaligus memberi dukungan khas buat keturunan kita yang berada di merata dunia….saya menati kehadiran anda…..wassalam…

  5. tolong diperlihatkan model2 baju kaos buginesenya, sa tertarik untuk membeli bajunya, terimakasih

  6. harganya berapa dan kalau pesan banyak ada diskon ga?kita juga buat jual lagi.

  7. Salam kenal ….
    Butuh info perhitungan biaya di bisnis konveksi dan harga mesin2 konveksi baru dan second. Cari aja di tempat saya.
    http://supercosting.wordpress.com
    http://www.konveksi.info.com

  8. wah baru tau saya tuh topi yg dipake orang2x bugis ada artinya. minta izin saya kopi ya. oh iya ayah & mamak sy orang enrekang tp sy sendiri gak bisa bicara bahasa orang tua. tp sy selalu mencari info tentang adat budaya orang-orang bugis

  9. salam. saya anugrah (panggil aso saja), orangtua asli bone-maros.. masih bisa dbeli itu kaos bugis? saya cari-cari di makassar nda’ ketemu.. ada memang kaos daerah tapi bukan bugis tulisannya.. mohon bantuannya krn mau pulang ke jakarta..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: