Awas, Jangan Jadikan Otak Anda sebagai Museum!

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja mengikuti sebuah acara pelepasan dua orang karyawan di tempat kerja saya yang memasuki masa purna bakti. Ketika pimpinan kami menyampaikan riwayat perjalanan karier kedua rekan tadi, saya sungguh terkejut. Sebagai karyawan, mereka berdua telah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bekerja bagi institusi kami. Salah seorang diantaranya bekerja selama 35 tahun. Mendengar hal itu, saya berdecak kagum dan langsung membandingkan dengan usia saya saat ini. Masa kerja rekan tadi jauh lebih panjang dibandingkan dengan usia saya. Sementara, rekan yang satu lagi berkarier selama 27 tahun. Ini juga bukan waktu yang singkat. Masa kerja yang demikian lama pada satu institusi jelas tidak mudah dilakukan dan tidak banyak orang yang mampu melakukannya.

Kesimpulan saya, mereka berdua pasti orang yang hebat. Kalau tidak hebat, mana mungkin mereka bisa bertahan hingga selama itu. Jika mereka tidak hebat, sudah pasti perusahaan mengambil langkah untuk mengakhiri masa kerjanya. Waktu yang demikian lama itu menunjukkan bahwa bukan mereka saja yang mencintai organisasi dan pekerjaannya, tetapi juga sebaliknya mereka begitu dicintai oleh organisasi tempatnya bekerja. Mereka menginginkan organisasinya dan organisasinya menginginkan mereka.

Waktu yang berlangsung hingga beberapa dasa warsa itu pastilah penuh dengan dinamika. Diwarnai dengan rintangan dan tantangan. Dari riwayat pekerjaan yang disampaikan, mereka telah berpindah-pindah dari satu bagian ke bagian yang lain. Tetapi, kemampuan yang tinggi dalam beradaptasi dan keterbukaan mereka terhadap perubahan membuat keduanya berhasil. Berhasil menyesuaikan diri dan berhasil menaklukan perubahan. Ini juga tidak mudah dilakukan dan tidak semua orang mampu melakukannya. Saya meyakini mereka berdua memiliki change DNA yang hebat!Dari Rhenald Kasali, saya dapat memahami kedua rekan tadi pastilah memiliki OCEAN yang tidak biasa. OCEAN sebuah akronim yang merupakan unsur pembentuk sifat perubahan. Jika diuraikan OCEAN tadi berarti;

Openess to experience, keterbukaan terhadap pikiran dan hal-hal baru.

Conscientiousness, keterbukaan hati dan telinga. Penuh kesadaran mendengarkan melalui telinga dan perasaan.

Extroversion, keterbukaan diri terhadap orang lain, kebersamaan dan hubungan-hubungan.

Agreeableness, keterbukaan terhadap kesepakatan.

Neuroticism, keterbukaan terhadap tekanan-tekanan. 

Kemampuan kedua rekan tadi bertahan hingga sekian lama mengisyaratkan bahwa unsur pembentuk sifat keterbukaan yang mereka miliki tentu tidak biasa. Dalam masa 27 dan 35 tahun, bisa dibayangkan betapa banyak pemikiran baru yang mereka temui, betapa banyak orang yang bermitra dan bersosialisasi dengannnya, betapa banyak kesepakatan yang mesti mereka taati, dan betapa banyak tekanan yang menguji daya tahannya yang mesti mereka lalui. Tetapi, waktu membuktikan bahwa mereka berhasil.

Dari paparan ini, kita bisa mengambil satu kesimpulan bahwa keterbukaan kita terhadap berbagai hal seperti keterbukaan terhadap perubahan dan keterbukaan berpikir mampu membuat kita survive. Sebuah ungkapan berikut dapat menjadi bahan perenungan bagi kita, “all people have brain, but only few use their mind”.

Keyakinan saya terhadap sifat keterbukaan yang menjadikan rekan tadi survive dan meraih sukses semakin diperkuat mana kala salah seorang diantaranya menceritakan tentang perencanaannya pasca pensiun di tempat kerja kami. Dalam sambutannya, rekan tadi bercerita bahwa hanya selang empat hari setelah acara pelepasannya dia akan segera memasuki dunia baru pada tempat kerja yang baru. Dengan bangga, rekan tadi bercerita bahwa ini merupakan pembuktian pada dirinya bahwa dia memiliki kompetensi dan mampu bersaing.

Dari cerita yang dia sampaikan, kompetensi yang dimiliki rekan tadi terbentuk melalui keterbukaan terhadap pemikiran baru melalui pengalaman. Sebagai lulusan SMA rekan tadi belajar dari waktu ke waktu hingga diakhir masa tugasnya dia tidak merasa canggung untuk memberikan training kepada sejawatnya yang notabene berpendidikan sarjana hingga pascasarjana.   

Bersikap terbuka terhadap pemikiran baru merupakan attitude yang dapat menjamin eksistensi diri kita di masa depan. Pemikiran kita harus terbuka terhadap berbagai hal baru sehingga otak kita tidak menjadi museum. Otak museum?  Menurut Rhenald Kasali, otak museum yaitu otak yang menjadi tempat menyimpan ‘benda-benda’ purbakala yang isinya adalah sejarah masa lalu atau kebenaran-kebenaran yang berlaku di masa lalu. Padahal, kebenaran masa lalu tak selalu dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah baru di masa depan.

Satu Tanggapan

  1. BENER, NGGAK BANGET DECH OTAK JADI MUSEUM.
    LEBIH BAIK MENJADIKANNYA PISAU YANG TERUS KITA ASAH UNTUK MENGHANCURKAN MASALAH ATAU RINTANGAN YANG ADA DI DEPAN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: