Waspada Ketidaklulusan Ujian Nasional

Ujian Nasional 2008 tinggal menghitung hari lagi. Meskipun mendapat reaksi negatif dari sejumlah kalangan, namun pemerintah kukuh pada pendirian bahwa ujian nasional merupakan salah satu instrumen peningkatan kualitas pendidikan. Betulkah? Penulis tidak yakin dengan hal itu. Termasuk alasan pemetaan kualitas pendidikan yang terbukti hingga kini belum memberikan hasil yang signifikan. Justru, semua alasan itu hanya menjadi alibi bagi pemerintah untuk tetap ‘memaksakan’ kebijakan UN.

Yang pasti saat ini, sebagian besar siswa dan juga orang tua dihantui bayangan ketidaklulusan dalam ujian nasional. Tentu ini merupakan hal yang wajar, sebagai seorang siswa, tak seorang pun yang ingin gagal dalam tahapan terakhir. Begitupula dengan orang tua. Mereka tak ingin perjuangan tiga tahun terakhir ini pupus hanya dalam dua jam di atas meja ujian.

Dari data tahun 2007, persentase ketidaklulusan secara nasional untuk SMA sebesar 7,5 %, SMK sebesar 9 %, sedangkan Madrasah Aliyah (MA) 9, 22 %. Melihat angka-angka itu persentase kelulusan memang terbilang cukup tinggi. Tetapi tunggu dulu, itu jika kita berbicara persentase. Tetapi, jika kita berbicara jumlah siswa yang tidak lulus, jumlah berapa. Ya, masih ratusan ribu. Nah, jelas bahwa UN bisa menjadi ‘monster’ bagi siswa dan orang tua. UN menjadi ‘pembunuh’ bagi anak-anak kita. Membuat mereka layu sebelum berkembang dan mengakhiri masa depannya di usia yang masih terlalu dini.

Akibat ketidaklulusan dalam UN, tidak sedikit siswa yang mengalami trauma psikologis. Bahkan, tidak jarang mereka berhenti sekolah akibat tidak lulus ujian. Jika demikian, jelas UN menjadi salah satu penyebab putus sekolah. Suatu hal yang sangat ironi di tengah upaya meningkatkan partisipasi pendidikan warga negara kita yang tergolong masih rendah.

Melihat persyaratan kelulusan UN tahun 2008, jelas merupakan tantangan bagi siswa, guru, sekolah, dan orang tua. Untuk dapat lulus, nilai rata-rata yang disyaratkan minimal 5,25 meningkat dari tahun lalu yang hanya 4,5. Siswa juga tidak boleh memperoleh nilai dibawah 4,0 yang merupakan nilai mati. Syarat kelulusan UN dapat dilihat www.unsmpyps.wordpress.com

Jumlah mata pelajaran yang diujikan juga bertambah dibanding tahun sebelumnya. Misalnya saja SMP, untuk tahun ini mata pelajaran IPA Terpadu akan menjadi mata ujian UN. Nah, IPA Terpadu inilah yang dapat menjadi momok bagi siswa. Karena guru dan siswa minim ‘pengalaman’ materi yang diujikan dalam UN karena telah vakum diujikan secara nasional dalam beberapa tahun.

Dalam beberapa uji coba Ujian Nasional yang dilakukan di daerah, terlihat bahwa IPA Terpadu merupakan mata pelajaran yang paling susah dilulusi  siswa. Tingkat ketidaklulusannya dalam uji coba sangat tinggi. Selain itu, survey penulis terhadap siswa peserta ujian juga menunjukkan IPA Terpadu berada pada urutan pertama mata pelajaran yang dikhawatirkan siswa menjadi penyebab ketidaklulusannya.

Melihat gambaran ini, kita mesti waspada terhadap ketidaklulusan UN kali ini. Bukan tidak mungkin angka ketidaklulusan angka meningkat dibanding tahun lalu. Suatu hal yang tentu kita tidak inginkan.

10 Tanggapan

  1. kalo menurut saya,UN itu tidak bisa dijadikan tolak ukur seberapa ‘pintar’ anak2 Indonesia! penerapan kenaikan nilai dan penambahan mata pelajaran yang diujikan hanya menambah beban mental bagi siswa. stress jadinya ngadepin UN itu…!!!!! menurut saya perlu pengkajian ulans sistem pendidikan di Indonesia. pengadopsian sistem pendidikan yang modern dari negara luar pun perlu disesuaikan dengan kemampuan otak anak2 Indonesia… tapi,yang penting,doakan kami saja supaya lulus UN sehingga angka ‘kematian semangat’ siswa2 SMA dapat berkurang…!

  2. STOP UN…….UN membunuh anak bangsa..!!!

  3. UN keparat!!!

  4. Konyol bgt tw ga?misalnya kta bnyak yg ampe g luluz,mrk tu sneng lok mpe pnerus bngsa kta ni ancur n msa dpn ga jlas?sneng???????????dah ngrsa ngasih pnddkN YG TERBAIX bwt kta pa?

  5. aq salah satu siswi smp

    aq hanya berharap agar soalnya gampang2????

    cz, aq ingin banget semua pelajar kelas 3 smp LULUS semua

    aq cuma bisa berdoa,dan belajar !!!!!!

    tu aja kok

    tolong berikan yang terbaik untuk PENERUS BANGSA INDONESIA

  6. Kami kira peraturan ini terlalu kejam dan sangat ekstrim , hendaknya pemerintah jangan hanya memandang sebelah mata tentang mutu pendidikan di tanah air ini, satu tujuan tetapi terlalu banyak memakan korban. Begitu juga berlakunya kurikulum belum seumur jagung sudah diganti lagi. Jadi guru bukan mencari metode pembelajaran yang tepat tetapi sibuk mencari buku yang cocok biar sesuai dengan kurikulum, ditambah lagi tuntutan standar kelulusan terlalu tinggi ………………suatu saat jangan kaget jika siswa dan guru banyak masuk rumah sakit jiwa, kata orang setengah bijak sudah jatuh ketimpa tangga nginjak paku lagi. Kepada siswa sabar dan tawakallah. amin…………….

  7. ngocok penak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: