Belajar, Tak Sekadar Mengingat Fakta

belajar-di-pesawat.jpg

Tak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran di kelas-kelas dewasa ini lebih banyak diarahkan untuk sekadar mengingat fakta-fakta. Di mana letak Sorowako, apa nama ibu kota Pakistan, jelaskan pengertian ini, itu, anu, dan sebagainya adalah contoh-contoh pertanyaan yang populer. Sebetulnya, metode demikian tidak salah, hanya saja kurang memberi manfaat. Anak akan tumbuh menjadi kurang kreatif, miskin ide, dan pembejaran menjadi ‘kering’ tak bermakna.

Model belajar masa kini hendaknya lebih banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk memiliki keterampilan belajar (learning how to learn). Anak belajar bukan hanya untuk mengingat fakta-fakta yang disajikan, tetapi harus mampu melihat berbagai fenomena menarik dibalik fakta. Proses belajar tidak hanya bertujuan mengingat fakta, tetapi belajar melebihi fakta (learning beyond the fact).

Mengembangkan model belajar yang menekankan pada pemberian kesempatan pada anak untuk memiliki berbagai keterampilan (skill) akan lebih memberdayakan dan bermakna. Anak difasilitasi berpikir dan bertindak dengan cara mereka sendiri. Mereka juga dapat berkonstribusi secara nyata untuk lingkungannya melalui pembelajaran.

Kajian berbagai fenomena masyarakat dalam pembelajaran akan memberikan kesempatan kepada anak memiliki sejumlah keterampilan hidup. Anak mendapatkan  berbagai keterampilan yang tidak hanya bermanfaat dalam belajar, tetapi dapat menjadi bekal hidup. Misalnya, mengasah kemampuan pemecahan masalah (problem solving), keterampilan penelitian dan keterampilan berkomunikasi. Keterampilan ini penting untuk pembentukan karakter anak.

Pembelajaran yang menekankan pemberian keterampilan (skill), akan mereduksi pola-pola lama yang umumnya diaplikan di ruang-ruang kelas, yakni model belajar yang lebih mementingkan penguasaan isi/materi (content based learning). Dalam pembelajaran, siswa ‘dipaksa’ lebih banyak menguasai bahan atau informasi yang disajikan guru sehingga mengelemir peran, kreativitas dan tanggung jawab mereka. Siswa lebih banyak menghafal, sebaliknya mereka tidak mampu mengkonstruksi pengalaman dan pengetahuan sendiri. Siswa tidak dapat mengembangkan diri. Mereka tidak bisa membandingkan antara kajian pembelajaran dengan realitas dalam kehidupan. Siswa lebih diposisikan sebagai objek belajar. Pembelajaran yang lebih menekankan penguasaan materi akan membosankan anak. Padahal, belajar hendaknya berlangsung dalam suasana yang nyaman dan santai.

Pembelajaran akan menyenangkan bagi anak jika diajak berekslorasi dengan berbagai masalah yang dekat dengan dirinya. Anak diajak untuk melakukan survey, wawancara, penelitian terhadap fenomena di sekitarnya. Anak akan mengkaji berbagai peristiwa dibalik fakta-fakta yang ada.

Penelitian Peter Sheal (1989) menunjukkan bahwa modus pengalaman belajar terbaik adalah belajar dengan menemukan. Dari penelitian Sheal diketahui bahwa kita belajar hanya 10 % dari yang kita baca, 15 % dari apa yang kita dengar, sebaliknya kita dapat belajar 90% dari apa yang kita lakukan. Sehingga pemberian pengalaman belajar melalui berbagai aktivitas melakukan adalah cara terbaik.

Nah, masih maukah terus hanya menjejali fakta anak didik Anda!

6 Tanggapan

  1. wah, ini saya suka artikelnya daeng..
    betul, saya setuju 200% ulasanta diatas…learning shall beyond the fact..
    seharusnya anak didik ndak diajari manja dalam belajar, cuman disuapi berbagai ilmu, tp ndak ngerti darimana asalnya…
    makanya ketika diberi soal yang berbeda walau konteksnya sama mereka akan kelimpungan…seperti saya dulu kesiang..tongolo’..

    btw, sekedar share, di Iran dan beberapa negara yang punya tradisi ‘belajar’ cukup panjang…mata pelajaran yang diberikan pertama kali adalah “Logika Dasar”, ini untuk membekali mereka how to learn beyond the fact..sementara di indonesia (yg saya alami), pelakaran logika itu hanya sederhana saja, dimasukkan dalam sub-pelajaran matematika, mungkin cuman 2 jam pelajaran ji, apalagi pelajaran itu melulu cuman angka-angka, tidak dimaksudkan untuk dipakai dalam keseharian..mana cukup utk membekali..

    bagaimana daeng?

  2. PERTAMAXXX!!!!!!!!

  3. saya juga sebel ma pelajaran apalan macam IPS!!!!!!!!!!!!
    untung saya jurusan IPA

  4. skalian hettrik ach…:mrgreen:

  5. Saya setuju dengan tulisan di atas, dan saya memiliki pemikiran baru, bahwa materi jangan diajarkan, tapi harus dilatihkan dan diterapkan. Menurut saya itu lebih bermanfaat. Salam kenal.😀

  6. Setuju Bung. Selama ini pendidikan di Indonesia endingnya hanya untuk mendapat ijazah sebagai syarat masuk jenjang selanjutnya. Ilmu yang dulu dipelajari? WUZZZZ hilang tertiup angin.
    Doakan aku ya Bung, Besok aku mau lomba karya ilmiah buat guru SD.
    GOD BLESS YOU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: