Tahun 2008 Tak Ramah bagi Rakyat Kecil

antre-elpiji.gif 

Warga antre elpiji di tengah terik matahari (foto:pikiran rakyat)

Tahun 2008 tidak ramah bagi rakyat kecil. Itu kesimpulan sementara saya. Anda boleh tidak sepakat, sah-sah saja.  Namun, dalam empat hari selama tahun 2008 terbukti menjadi hari-hari yang menyakitkan bagi mereka. Elpiji (liquefied petroleum gas, LPG) yang menjadi kebutuhan dasar, hilang dipasaran. Antrean panjang terjadi di tempat-tempat penjualan di berbagai kota. Ibu rumah tangga menjerit. Merekalah yang paling merasakan dampak menghilangnya elpiji ini. Asap dapur tak bisa lagi mengepul.

Akibatnya, harga melonjak hingga batas tidak normal seolah tak terkendali. Bayangkan saja, di pelosok-pelosok warga kita harus merocoh saku hingga Rp120.000 (seratus dua puluh ribu) untuk mendapatkan satu tabung elpiji. ‘Kegilaan’ harga ini sudah pasti sangat memberatkan dan mencekik leher bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Kelangkaan elpiji sungguh suatu hal yang ironis. Betapa tidak, hal ini berlangsung di tengah upaya pemerintah mengkoversi minyak tanah dengan elpiji. Bahkan, program pemerintah yang memberikan tabung elpiji bagi warga telah berlangsung sejak tahun lalu. Lantas mengapa elpiji tiba-tiba hilang dipasaran?

Salah satu penyebab yang ditenggarai menjadi penyebab kelangkaan elpiji adalah ulah para spekulan dan penimbun elpiji. Mereka adalah orang-orang yang tegah menari-nari di atas penderitaan saudaranya. Rela meraup keuntungan berlipat ganda di antara deraian tangis warga lainnya. Siapa mereka? Ya…tentu saja si kaya yang memiliki modal besar dan menekuni profesi penyalur elpiji.

Kelangkaan elpiji menjani berita duka di awal tahun. Lengkap sudah penderitaan dan kesengsaraan warga setelah sebelumnya premiun dan minyak tanah terlebih dahulu menghilang.  Lalu apa yang salah sehingga kebutuhan dasar ini selalu menghilang? Ini salah satu pertanyaan yang pernah jelas jawabannya. Tak pernah ada yang merasa bersalah dan bertanggung jawab.

 Kembali ke ‘zaman batu’

Salah satu alternatif yang mungkin dilakukan adalah kembali ke ‘zaman kuno’ dengan memasak menggunakan kayu bakar. Namun, ini pun bukan perkara yang mudah. Mereka yang berdomisili di pedesaan mungkin tidak akan menemukan kendala. Kayu bakar tersedia ruang untuk memasak dengan menggunakan kayu bakar kemungkinan ada. Tetapi, bagi warga perkotaan ini sama saja susahnya. Kayu bakar bukan hal yang mudah untuk didapatkan. Masalah berikutnya, ruang untuk memasak dengan menggunakan kayu bakar tidak tersedia.

Singkatnya hidup menjadi menderita. Keriangan dan kegembiraan menyambut tahun baru hilang seketika. Akankah selama tahun 2008 akan menjadi tahun yang tidak ramah? Semoga tidak!

4 Tanggapan

  1. tetapki optimis daeng
    karena situasi ekonomi kita sedikit banyak tergantung sosio-poliitik-ekonomi dunia..
    kalo perdamaian di timteng sudah tercapai, dan USA sudah dihandle sama pemimpin yang bijak dan arif, insya Allah 2008 akan ramah buat kita semua…amin

  2. waw segitukah

  3. klo menurut saya bagus tetapi program yg di jalankan pemerintah tidak sesuai karena di salah gunakan oleh oknum2 yg tdk bertanggung jawab seperti yang sering dilakukan di kantor2 saya mulai dari atas jmlh bantuan sesuai pindak ke bawahan berkurang beberapa dan seterusnya apakah ini kebudayaan yg melekat di indonesia selalu memakan yang bukan haknya maaf jika ada yg tersinggung

  4. sultan menjawab;

    Hem.. perdamaian di Tim-Teng. ini yang susah, sebab dari hari ke hari yang meingkat justru kekacauan. Jadi, kayaknya kita mesti menunggu agak lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: