Kesempatan Emas Itu Terbuang Percuma

Mengembangkan diri melalui peningkatan kapasitas kompetensi merupakan tekad saya yang tak pernah padam. Saya begitu meyakini bahwa meng-charge ilmu yang dimiliki di setiap kesempatan mutlak bagi saya yang bekerja di dunia pendidikan (tentunya begitu pula bagi Anda di ‘medan’ pekerjaan yang lain). Jika tidak, sudah pasti kami akan ketinggalan ‘kereta’, termasuk dari murid-murid sekalipun. Alhasil, berbagai upaya pun kami lakukan. Mulai dari workshop, forum ilmiah, kompetisi ilmiah, membuka jaringan, hingga memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk searching berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan profesi saya.

Di bulan April tahun lalu, bersama rekan, saya menemukan kompetisi ilmiah dari penulusuran melalui internet, bimbingan penelitian karya tulis ilmiah on-line yang dilaksanakan oleh Depdiknas. Meski waktu agak mepet kala itu, kami tidak menyerah. Prinsipnya, lakukan dan usahan dulu! Itulah prinsip yang kami pegang. Hasilnya, kami berhasil menyelesaikan konsep penelitian yang harus diajukan sebagai prasyarat. Jika berhasil lolos (memenuhi kriteria peyelenggara), kami akan memperoleh ilmu meneliti melalui bimbingan para ahli dan juga dana block grant. Ini mengiurkan! Dapat ilmu, dapat duit pula! Sekaligus menjadi ajang uji nyali dan kemampuan kami.

Namun, ketidakjelasan mengenai kelanjutan proyek itu, membuat kami teledor. Tidak ada informasi yang jelas tentang kelanjutan proposal kami, termasuk ke mana mesti mencari informasinya kala itu. Kami pun tidak pernah peduli dan mencari tahu hasilnya, setelah menyelesaikan dan mengirimkan rencana awal penelitian. Hal ini juga tidak lepas dari sikap apriori kami terhadap sikap pemerintah selama ini yang senantiasa menganakemaskan guru-guru negeri ketimbang swasta. Kami merasa bahwa peluang kami untuk berhasil sangatlah tipis mengingat program ini diprioritaskan bagi guru negeri. Hingga pada akhirnya di awal tahun 2008, seorang rekan yang juga mengikuti kompetisi serupa secara iseng searching di google dengan memasukkan namanya. Alangkah kagetnya, sebab informasi yang kami peroleh ternyata pengumuman tentang proyek tadi. Proposal kami terpilih, tetapi itu terjadi empat bulan lalu.

Terlambat? Mungkin iya, mungkin pula tidak. Kami hanya berupaya kasat kusut untuk mencari jawabannya. Bereaksi cepat melalui telepon dan email. Namun, hingga kini tak ada jawaban.

Seketika lahir rasa penyelasan yang begitu mendalam. Kesempatan emas untu berguru ilmu yang begitu bagus langsung ke ahlinya hilang begitu saja. Menyalahkan diri sendiri, atas sikap acuh tak acuh, tidak optimis dan kurang proaktif.

Sebuah pelajaran yang baik untuk selalu bersikap optimis. Ibaratnya, dalam melakukan mission imposible pun, optimisme itu tidak bisa hilang. Tidak boleh mengambil kesimpulan akhir yang terlalu cepat, sebelum saatnya. 

Ya..kami salah, ini tentu sudah pasti! Tetapi tanpa mencoba mencari ‘kambing hitam’, kami juga bertanya, kok kami tidak memperoleh informasi sebagaimana lazimnya kegiatan serupa. Bukankah didokumen yang kami sertakan terdapat informasi yang begitu jelas. Bahkan rekan saya dengan sedikit menggerut, berucap “di situ kan ada dua nomor telepon, kok tidak digunakan menghubungi kami”. Kalau tidak untuk kepentingan seperti ini, lalu untuk apa menyertakan data yang begitu banyak.

Pertanyaan berikutnya yang sulit kami pecahkan, “Ke mana gerangan dana block grant kami?” Apa ini bukan sebuah skenario mengaburkan informasi untuk kepentingan block grant yang menggiurkan itu. Entahlah!

Satu Tanggapan

  1. Aduh sayang sekali ya Pak, kesempatan itu hilang dengan begitu saja.
    Semangat terus Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: