Menggugat Kesemrautan Layanan Aparat Pemerintah

Akhir-akhir ini, saya begitu intens berbuhungan dengan aparat pemerintah untuk beberapa hal. Dalam beberapa kesempatan itu pula, saya menemukan kekecawan atas kesemrautan layanan yang diberikan.

Dua minggu yang lalu, saya menempuh perjalanan lebih dari 60 kilometer dengan mengendarai sepeda motor untuk mengantar istri memperoleh kartu tes pegawai calon negeri sipil. Berbekal informasi yang telah disampaikan panitia, kami sangat yakin bahwa kami datang disaat yang tepat. Namun, apa lacur harapan itu akhirnya tinggal harapan. Perjalanan jauh yang disertai pengorbanan waktu maupun materi berakhir dengan alasan klasik yang sudah lazim didapatkan, “Maaf, karena ada kesalahan teknis, penyerahan kartu tes ditunda. Silakan datang besok”.

Apa boleh buat, hari esok menjadi harapan kami. Berbekal kekecewaan dihari sebelumnya, kami datang dengan tujuan yang sama untuk kedua kalinya. Tetapi, bukannya kekecewaan itu berkurang, malahan menjadi bertambah yang lagi-lagi lahir karena alasan teknis tadi. Semua data yang tercantum dikartu salah 100 persen. Hanya foto saja yang tercantum dengan benar. Kartu belum dapat kami terima dan kekecewaan harus bertambah.

Persoalan teknis selalu menjadi alibi untuk menutupi ketidaksiapan dan kesemrautan layanan aparat pemerintah kita. Ia begitu enteng diucapkan tanpa mempertimbangkan pengorbanan kita yang berhak atas layanan yang mesti diberikan. Bukankah mereka digaji untuk memberikan pelayanan? Kalo alasan teknis yang melulu menjadi kambing hitam, tentu kita bisa mempertanyakan kompetensi dan komitmen mereka.

Persoalan umum yang seringkali nampak ketika berhubungan dengan mereka adalah penyakit yang memandang bahwa mereka tidak merasa perlu dengan kita. Mereka tidak menempatkan kita sebagai claim yang mesti diservice dengan layanan prima. Justru sebaliknya, mereka lebih menempatkan diri sebagai penguasa (superior) dan kita yang harus dilayani sebagai inferior. Padahal, kehadiran mereka sebetulnya untuk memberikan layanan dan untuk itulah mereka digaji.

Costumer focus oriented yang selalu didengung-dengungkan institusi penyedia layanan jasa pelanggan seolah tidak menjadi nafas layanan kantor-kantor pemerintah kita. Yang mengemuka justru kerja serampangan, tidak produktif, tidak kreatif, dan selalu menunggu arahan. Persoalan yang bisa diselesaikan dalam hitungan menit mesti menunggu hitungan hari. Itupun atas petunjuk bos.

Rhenald Kasali mensinyalir masalah demikian lahir atas belenggu tradisi. Mereka terbelenggu tradisi lama yang sibuk dengan urusan administrasi, respon lamban, tingkat kesalahan tinggi, dan kreativitas mandek. Mereka sebetulnya orang yang cerdas tetapi terbelenggu oleh kebiasaan dan budaya kerja organisasi. Mereka telah nyaman di jalan demikian dan ogah memilih jalan baru. Akhirnya, kita yang menjadi pelanggan pun akan sulit menemukan layanan yang lebih baik. Hasil yang baik tentu harus melalui proses berbeda.

2 Tanggapan

  1. yeah btul pak…sepertix harus di buat Pegawai Swasta Sipil (PSS)…biar lbh maknyus…
    *kayakx seperti tim sepak bola deh*

  2. Betul sekali, saya sering mengalaminya sewaktu aktif di kegiatan kegiatan kepemudaan. seringkali setiap berurusan dengan Aparat pemerintah seringkali kita di anggap sebagai obyek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: