Mengembangkan ‘High Order of Thinking’

 the-revised-bloom-taxonomy.jpg

Survey yang dilakukan oleh Partnership for 21 Century Skills di Amerika Serikat (2006) yang menanyakan tentang keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja di perusahaan-perusahaan terdepan AS lima tahun mendatang menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis (critical thinking) berada pada posisi pertama. Keterampilan lainnya yang menonjol dan penting menurut hasil survey adalah penguasaan teknologi informasi, kolaborasi, dan innovasi (Ken Key; 2006).

Survey dilakukan terhadap perusahaan besar yang sebagian besar diantaranya telah beroperasi di Indonesia dan kita rasakan service-nya secara langsung. Sebut saja, Microsoff, Ford, English First (EF), DELL, Adobe, dan Oracle.

Apa artinya hasil survey ini terhadap kita dan khususnya dunia pendidikan kita.  Hasil survey ini menjadi gambaran peta kebutuhan anak didik kita di masa depan, yakni pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Siswa harus ditantang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order of thinking), kebalikan dari pratktik yang umum dalam keseharian pendidikan mereka yang kebanyakan berkutat pada kemampuan berpikir tingkat rendah (low order of thinking). Kemampuan yang kebanyakan berputar-putar pada pengembangan keterampilan mengingat yang sifatnya hafalan belaka.

Bukankah perusahaan-perusahaan tersebut juga menjadi kiblat bagi perusahaan di Indonesia?  Dan dari situ sebagian dari kita menggantungkan hidup. Jika tidak siap dan tidak disiapkan dari sekarang, kita akan gigit jari. Baca lebih lanjut

Belajar, Tak Sekadar Mengingat Fakta

belajar-di-pesawat.jpg

Tak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran di kelas-kelas dewasa ini lebih banyak diarahkan untuk sekadar mengingat fakta-fakta. Di mana letak Sorowako, apa nama ibu kota Pakistan, jelaskan pengertian ini, itu, anu, dan sebagainya adalah contoh-contoh pertanyaan yang populer. Sebetulnya, metode demikian tidak salah, hanya saja kurang memberi manfaat. Anak akan tumbuh menjadi kurang kreatif, miskin ide, dan pembejaran menjadi ‘kering’ tak bermakna.

Model belajar masa kini hendaknya lebih banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk memiliki keterampilan belajar (learning how to learn). Anak belajar bukan hanya untuk mengingat fakta-fakta yang disajikan, tetapi harus mampu melihat berbagai fenomena menarik dibalik fakta. Proses belajar tidak hanya bertujuan mengingat fakta, tetapi belajar melebihi fakta (learning beyond the fact).

Mengembangkan model belajar yang menekankan pada pemberian kesempatan pada anak untuk memiliki berbagai keterampilan (skill) akan lebih memberdayakan dan bermakna. Anak difasilitasi berpikir dan bertindak dengan cara mereka sendiri. Mereka juga dapat berkonstribusi secara nyata untuk lingkungannya melalui pembelajaran. Baca lebih lanjut

Tahun 2008 Tak Ramah bagi Rakyat Kecil

antre-elpiji.gif 

Warga antre elpiji di tengah terik matahari (foto:pikiran rakyat)

Tahun 2008 tidak ramah bagi rakyat kecil. Itu kesimpulan sementara saya. Anda boleh tidak sepakat, sah-sah saja.  Namun, dalam empat hari selama tahun 2008 terbukti menjadi hari-hari yang menyakitkan bagi mereka. Elpiji (liquefied petroleum gas, LPG) yang menjadi kebutuhan dasar, hilang dipasaran. Antrean panjang terjadi di tempat-tempat penjualan di berbagai kota. Ibu rumah tangga menjerit. Merekalah yang paling merasakan dampak menghilangnya elpiji ini. Asap dapur tak bisa lagi mengepul.

Akibatnya, harga melonjak hingga batas tidak normal seolah tak terkendali. Bayangkan saja, di pelosok-pelosok warga kita harus merocoh saku hingga Rp120.000 (seratus dua puluh ribu) untuk mendapatkan satu tabung elpiji. ‘Kegilaan’ harga ini sudah pasti sangat memberatkan dan mencekik leher bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Kelangkaan elpiji sungguh suatu hal yang ironis. Betapa tidak, hal ini berlangsung di tengah upaya pemerintah mengkoversi minyak tanah dengan elpiji. Bahkan, program pemerintah yang memberikan tabung elpiji bagi warga telah berlangsung sejak tahun lalu. Lantas mengapa elpiji tiba-tiba hilang dipasaran? Baca lebih lanjut

Kesempatan Emas Itu Terbuang Percuma

Mengembangkan diri melalui peningkatan kapasitas kompetensi merupakan tekad saya yang tak pernah padam. Saya begitu meyakini bahwa meng-charge ilmu yang dimiliki di setiap kesempatan mutlak bagi saya yang bekerja di dunia pendidikan (tentunya begitu pula bagi Anda di ‘medan’ pekerjaan yang lain). Jika tidak, sudah pasti kami akan ketinggalan ‘kereta’, termasuk dari murid-murid sekalipun. Alhasil, berbagai upaya pun kami lakukan. Mulai dari workshop, forum ilmiah, kompetisi ilmiah, membuka jaringan, hingga memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk searching berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan profesi saya.

Di bulan April tahun lalu, bersama rekan, saya menemukan kompetisi ilmiah dari penulusuran melalui internet, bimbingan penelitian karya tulis ilmiah on-line yang dilaksanakan oleh Depdiknas. Meski waktu agak mepet kala itu, kami tidak menyerah. Prinsipnya, lakukan dan usahan dulu! Itulah prinsip yang kami pegang. Hasilnya, kami berhasil menyelesaikan konsep penelitian yang harus diajukan sebagai prasyarat. Jika berhasil lolos (memenuhi kriteria peyelenggara), kami akan memperoleh ilmu meneliti melalui bimbingan para ahli dan juga dana block grant. Ini mengiurkan! Dapat ilmu, dapat duit pula! Sekaligus menjadi ajang uji nyali dan kemampuan kami. Baca lebih lanjut

Menggugat Kesemrautan Layanan Aparat Pemerintah

Akhir-akhir ini, saya begitu intens berbuhungan dengan aparat pemerintah untuk beberapa hal. Dalam beberapa kesempatan itu pula, saya menemukan kekecawan atas kesemrautan layanan yang diberikan.

Dua minggu yang lalu, saya menempuh perjalanan lebih dari 60 kilometer dengan mengendarai sepeda motor untuk mengantar istri memperoleh kartu tes pegawai calon negeri sipil. Berbekal informasi yang telah disampaikan panitia, kami sangat yakin bahwa kami datang disaat yang tepat. Namun, apa lacur harapan itu akhirnya tinggal harapan. Perjalanan jauh yang disertai pengorbanan waktu maupun materi berakhir dengan alasan klasik yang sudah lazim didapatkan, “Maaf, karena ada kesalahan teknis, penyerahan kartu tes ditunda. Silakan datang besok”.

Apa boleh buat, hari esok menjadi harapan kami. Berbekal kekecewaan dihari sebelumnya, kami datang dengan tujuan yang sama untuk kedua kalinya. Tetapi, bukannya kekecewaan itu berkurang, malahan menjadi bertambah yang lagi-lagi lahir karena alasan teknis tadi. Semua data yang tercantum dikartu salah 100 persen. Hanya foto saja yang tercantum dengan benar. Kartu belum dapat kami terima dan kekecewaan harus bertambah. Baca lebih lanjut