Dedikasi Frederic dan Daya Pikat Sebuah Tulisan

Frederick Sitaung. Mendengar nama ini mungkin Anda akan bertanya-tanyfrederick-edit2.jpga, siapa dia itu? Ya, namanya tidaklah tenar, setenar para selebriti dan politisi. Namun, jika kita ingin berbicara tentang karakter, kepribadian serta dedikasi, Frederick layak untuk di kedepankan.  (Frederick, foto kiri)

Sebagai seorang guru, Frederick betul-betul mendedikasikan diri untuk profesi yang sengaja dipilihnya. Mengajar di daerah terpencil pedalaman Papua. Untuk mencapai lokasi mengajar saja dia mesti berkali-kali ganti kendaraan, naik motor, perahu, atau bahkan berjalan kaki.

Frederick satu-satunya guru yang mesti mengajar anak-anak yang berjumlah 51 orang. Ia mengajar dari kelas satu hingga kelas enam. Sebagai guru sekaligur kepala sekolah. Ia tak peduli teman-temannya berpindah tugas ke kota. Hanya mampu bertahan beberapa saat merasakan ganasnya pedalaman Papua. Bahkan mereka yang merupakan penduduk asli pun tak kuasa bertahan. Tetapi bagi Frederick, kecintaannya kepada anak-anak dan kecintaan kepada profesi membuatnya terus bertahan meski hanya tinggal seorang diri. Lima belas tahun telah dilewatinya mengembangkan pendidikan anak-anak pedalaman.

Ketika tahun ajaran baru tiba, Frederick tidak segan-segan masuk hutan untuk mencari anak-anak kemudian mengajaknya bersekolah. Saat ujian tiba, ia rela mengantarkan muridnya ke lokasi ujian meski dengan mendayung perahu hingga dua hari dua malam, tidur di sungai dalam ancaman buaya setiap saat.

Penderitaan sang guru belum berakhir sampai di situ, kadang kala karena kekurangan bahan makanan ia harus mempertahankan hidup dengan memakan daun-daunan dan ikan hasil tangkapan di rawa. Gaji terlambat dibayar hingga berbulan-bulan. Kadang kala harus berbagi makananan dengan para murid yang ditinggal orang tuanya masuk hutan.

 Dedikasi Frederick untuk warga Papua terus berlanjut, ketika dokter yang bertugas di kampungnya pergi ke kota, Frederick memperoleh tugas tambahan sebagai dokter. Berbekal obat yang di tinggalkan untuknya, guru asal Toraja, Sulawesi Selatan ini menjalankan profesi ganda sebagai dokter pula. Sebagai pemeluk agama Kristen, Frederick juga masih harus mengemban tugas sebagai pendeta bagi warga pedalaman.

Kekuatan jiwa, ketabahan, dan optimisme mengarungi hidup yang ditunjukkan Frederick belum berakhir sampai di situ. Di tengah himpitan tugas dan ganasnya kehidupan pedalaman, ia masih juga diperdadapkan dengan kondisi istrinya yang sakit-sakitan. Namun, semua ujian itu mampu dilewatinya. Fredercik Sitaung seorang guru, dokter, pendeta, dan sekaligus orang tua bagi muridnya.

Kisah Frederick di atas, sungguh akan menggugah bagi kita yang membacanya. Sebuah lakon kehidupan yang dapat menginspirasi bagi siapa saja dengan profesi apa saja untuk senantiasa fight dengan profesi yang kita pilih. Dari Frederick kita belajar, apa pun masalah yang menhadang profesi kita, tidak akan menjadi persoalan selama kita mengingkan dengan totalitas kita.Maka wajar pula jika kemudian Frederick memberoleh penghargaan atas dedikasi yang ditunjukkannya. Atas pengabdian dan dedikasinya itu, Frederick Sitaung dianugerahi Indonesia Berprestasi Award oleh operator seluler XL.

Nah, dibalik keluarbiasaan yang tunjukkan Frederick, tersimpan pula satu keluarbiasaan atas daya pikat sebuh tulisan. Keluarbiasaan sang penulis mengabarkan lakon kehidupan yang dilakoni Frederick, membuat sang tokoh yang dikisahkan memperoleh apresiasi, empati, dan simpati yang luas. Kita yang berada dibelahan wilayah berbeda, terpisah jarak, puluhan, ratusan, hingga ribuan kilometer tak akan pernah tahu tentang kisah ini jika Ahmad Arif dan Luki Aulia dua orang wartawan Kompas tidak mengabarkannya melalui tulisan.

Boleh jadi, tanpa dua orang wartawan ini, Frederick tetap akan menjadi guru pedalaman yang hanya menikmati kisahnya sendiri. Penemuan keduanya atas Frederick telah mengubah segalanya. Melalui sebuah feature yang mengupas sisi human interest dengan sangat baik, Frederick bukan hanya telah memperoleh penghargaan tetapi sebagai guru dia telah memberikan pelajaran sangat berharga tentang cara menjalani hidup. Semua itu kita peroleh karena tulisan Arif.

 Apresiasi layak diberikan kepada sang wartawan atas ketajaman insting yang dimilikinya. Ia menjadi sedikit orang dan sekian banyak wartawan yang mampu ‘menemukan’ Frederick. Mengabarkan cerita Frederick melaui tulisan yang sangat menggugah. Arif dan Aulia telah membuat ‘promosi’ yang sangat baik melalui tulisannya. Ia mengubah cerita Frederick dari guru pedalaman menjadi guru berprestasi dan berdedikasi. Dari mendayung perahu untuk mengajar, menjadi menikmati nikmatnya kursi pesawat terbang untuk menerima penghargaan.

Sehingga wajar pula jika kemudian Arif memperoleh penghargaan atas tulisannya yang mengupas tuntas kisah Frederick. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Tenaga Kependidian Depdiknas memilih karya Arif sebagai karya terbaik feature pendidikan (baca di sini). Tulisan Arif telah mengubah segalanya, membuat catatan manis perjalanan hidup Frederick dan juga perjalanan hidup penulis sekaligus.

Kisah tentang Frederick dapat dibaca di sini. Foto: Repro Kompas

2 Tanggapan

  1. pak…bagemana caranya kalo sy mau add-ki di blog ku?
    trus, bagemana juga kalo mauka tambahkan banner2 kaya kita?dan mengetahui jumlah pengunjungku bah…ajar dule

  2. hebat..hebat..
    orang2 seperti pak Frederic ini adalah orang2 yang bisa dibilang sudah langka dan nyaris punah di negeri kita.
    orang2 yang penuh dedikasi terhadap profesi dan kemanusiaan..
    andai saja masih banyak orang2 seperti pak Frederic ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: