Mencari Jalan Lurus, Tersesat di Persimpangan Alqiyadah

“Awalnya, tidak ada niat untuk mencari jalan sesat. Sebodoh-bodohnya saya ini, tidak ada keinginan untuk menceburkan diri ke dalam api neraka. Apa yang kami lakukan, ibaratnya mencari jalan Tuhan seperti yang ada di sinetron”.
Demikian kesaksian yang diberikan Muhammad Djasri bin Jamaluddin, mantan anggota al-qiyadah sesaat sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat menandai prosesi peneguhan keislamannya kembali. Hari itu, Senin (19/11), dengan suara yang agak tertahan dan intonasi terkontrol, lelaki kelahiran Makassar tahun 1968 ini menguraikan asal muasal keterlibatannya dengan salah satu ajaran yang ditetapkan Majelis Ulama Indonesia sebagai aliran sesat.
Di tengah kerumunan jamaah yang berjubel hingga teras masjid, Djasri mengutip Alquran surah 17 ayat 36 yang memiliki arti: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”. Menurut Djasri, keputusannya bergabung saat itu bukanlah tanpa dasar. “Bukan buta-buta,” katanya. Meskipun kemudian diakuinya bahwa apa yang diyakininya benar menurut versi alqiyadah saat itu, ternyata merupakan ajaran sesat.
Malam itu, Djasri bersama tiga rekannya yakni Andi Boki bin Pagaru, Jamal bin Abbas, dan Sahmuddin bin Dahlis menjadi ‘bintang’. Ratusan pasang mata jamaah magrib Mesjid Al-Istiqamah, Old Camp-Sorowako, tertuju kepadanya. Djasri terlihat tegang, sesekali dia mengangkat wajahnya, sementara yang lainnya lebih banyak tertunduk sambil memegangi kening.Dimulai dari Djasri, satu persatu mantan pengikut alqiyadah ini menceritakan pengalaman dan alasan menjadi penganut aliran sesat itu. Mereka memberikan kesaksian di depan anggota keluarga serta sejumlah pejabat daerah dari kepala desa, camat, kapolsek, hingga kepala kantor agama Kabupaten Luwu Timur. “Saya tidak tahu bahwa ini aliran yang sesat. Tidak ada niat untuk menjadi penganut aliran sesat, kami hanya ingin mencari jalan Tuhan,” kata Djasri.
Keempatnya masih tergolong muda. Djasri yang berusia 39 tahun merupakan yang tertua. Andi Boki, Sahmuddin, dan Jamal masih berusia di bawah 30 tahun. Sehari-harinya mereka berprofesi sebagai karyawan swasta. Keterlibatannya sebagai penganut aliran sesat bermula ketika mereka berniat untuk memahami ajaran Islam lebih mendalam.
Sahmuddin, bekas pengikut alqiyadah lainnya, menuturkan bahwa ia bergabung atas keinginan untuk mencari jalan yang lurus. Lelaki kelahiran 15 Maret 1976 itu kemudian mengutip surah Al-Fatihah. “Saya ingin mengetahui yang mana jalan yang lurus itu,” jelasnya. Ia kemudian menambahkan bahwa kelak ia akan berguru kepada ustadz untuk mendalami jalan lurus itu.
Ketika para penganut aliran ini terungkap, satu persatu mereka pun diciduk polisi awal bulan lalu. Selama beberapa minggu, keempatnya harus meringkuk di balik jeruji besi. Keluarga mereka syok dan kaget mendengar ada anggota keluarga yang dinyatakan terlibat aliran sesat dan harus berurusan polisi dengan tuduhan penistaan agama. Padahal, merekalah tulang punggung keluarga.
Para anggota keluarga harus mengeluarkan segenap tenaga untuk mengupayakan membebaskan keempatnya. Gayung bersambut, polisi rupanya mengikuti saran MUI agar memberikan peluang bertobat bagi penganut alqiyadah, dengan catatan keempatnya harus menyatakan tobatnya itu dan meninggalkan aliran tersebut. Namun, upaya itu bukanlah hal yang mudah. Keempatnya malah bersikukuh untuk tetap memegang teguh ajaran yang “nabinya” itu adalah seorang pensiunan guru olahraga kelahiran Jakarta.
Salah seorang anggota keluarga Jamal bin Abbas menuturkan bahwa keluarga harus bolak-balik ke penjara membujuk karyawan salah satu kontraktor di Sorowako ini. Namun, usaha ini menemui jalan terjal. “Nanti-pi dilihat, siapa yang benar,” itulah ucapan yang senantiasa keluar dari mulut Jamal ketika anggota keluarga mengajaknya bertobat. Tetapi, anggota keluarga tidak berputus asa. Mereka kemudian melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Keluarga Jamal akhirnya menemukan salah satu cara terbaik. Jamal, yang dekat dengan anak-anaknya kemudian dipertemukan dengan buah hatinya. Anak-anak Jamal dibawa ke tahanan untuk bertemu. Di sana keluarga mencoba menyadarkannya. Keluarga menyentuh hati Jamal, mereka menyadarkan bahwa masa depan sang anak ada di tangan Jamal. Nampaknya upaya ini cukup jitu, Jamal tersentuh dan terbuka pintu hatinya. Lelaki kelahiran Baraka, Enrekang, ini mengaku sadar dan meninggalkan alqiyadah. Pernyataan Jamal untuk bertobat diikuti tiga rekan lainnya.

Cibiran dan Teror masyarakat
Keterlibatan Jamal sebagai penganut aliran alqiyadah harus dibayar mahal. Istri dan anak-anaknya yang tidak tahu masalah, ikut menanggung beban. Cibiran dan cemoohan tetangga menjadi makanan sehari-hari mereka. Teror dan ejekan bertubi-tubi masuk melalui short message service (sms). Keluarga merasa tersiksa dan tak aman. Mereka pun akhirnya memilih meninggalkan rumahnya di Wawondula dan mengungsi ke rumah keluarga lainnya. Akibatnya, sekolah anak-anaknya harus terhenti. Sampai saat Jamal mengikrarkan janji untuk kembali memeluk Islam, anak-anaknya belum juga masuk sekolah.
Sebagai bentuk pertobatan, keempat bekas pengikut alqiyadah itu mengucapkan kembali dua kalimat syahadat sebagai bentuk pengakuan untuk kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Prosesi itu menyita perhatian seluruh jamaah serta disaksikan anggota keluarga masing-masing.
Mereka mengucapkan pula janji untuk tidak menyebarkan aliran tersebut. Berikut ini adalah janji yang mereka ucapkan:
“Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan telah meninggalkan ajaran alqiyadah dan berjanji tidak akan menyebarkan aliran tersebut dalam bentuk apapun.Dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, saya menyatakan akan kembali menjalankan syariat Islam sesuai Alquran dan hadits.
Demikian pernyataan ini saya buat. Semoga mendapat berkah dan rahmat dari Allah SWT”.
Menyebar cepat
Penyebaran aliran alqiyadah berlangsung dari mulut ke mulut. Pengikut yang terlebih dahulu masuk mengajak warga lainnya yang dapat dipengaruhi. Mereka memiliki kelompok pengajian yang dilakukan secara berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Setelah masuk, mereka kemudian akan disumpah, yang dilakukan menyerupai prosesi pengislaman biasa, tapi dengan mengucapkan dua kalimat syahadat yang dipelesetkan. Mereka tidak mengakui kenabian Muhammad SAW dalam syahadat yang mereka ikrarkan. Dan menggantinya menjadi, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu almasih al-mau`ud rasulullah”.
Keempat orang ini mengikuti prosesi tersebut di suatu tempat di Palopo yang dihadiri oleh pimpinan alqidayah Ahmad Moshaddeq, yang menganggap dirinya nabi tersebut.
Sebenarnya, alqiyadah hanyalah salah satu dari sekian banyak ajaran “aneh-aneh” yang telah lebih dulu eksis, seperti ahmadiyah, aliran quran suci, jamaah salat dua bahasa, Salamullah, Isa Bugis, Baha’i, dan lainnya.
Umumnya aliran ini dipimpin seorang tokoh yang menasbihkan dirinya sebagai nabi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ahmad Moshaddeq yang mengangkat dirinya sebagai nabi setelah melakukan pertapaan selama 40 hari. Dia mengklaim dirinya nabi yang terakhir, setelah nabi Muhammad SAW.
Terminologi sesat atau kesesatan sendiri, berasal dari kata dhala (bahasa Arab), memiliki arti setiap yang menyimpang dari jalan yang dituju (yang benar) dan setiap yang berjalan bukan pada jalan yang benar.
Dalam Alquran disebutkan, setiap yang di luar kebenaran itu adalah sesat. Kebenaran datangnya dari Allah SWT.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat. Yakni, jika aliran atau ajaran tersebut memelesetkan ajaran Islam. Kriterianya adalah, mengingkari rukun iman dan rukun Islam, meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan hadist nabi), menyakini turunnya wahyu setelah Alquran, mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran, melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir, mengingkari kedudukan hadist nabi sebagai sumber ajaran Islam, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul, mengingkari Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir, mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, dan mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar`i.
Untuk terhindar dari kemungkinan terpengaruh aliran yang memelesetkan dan menciderai ajaran agama yang telah ada, memang sebaiknya orang harus waspada. Jangan sampai ajaran-ajaran agama, khususnya akidah atau keimanan yang sudah establish, dibolak-balik semaunya.(p!)
Tulisan ini ini telah dimuat di www.panyingkul.com

 

%d blogger menyukai ini: