Isu Pendidikan yang Laris Sebagai Jualan Politik

images1.jpg

Pendidikan menjadi salah satu topik ‘jualan’ politisi untuk meraih simpati publik. Tengok saja dalam Pilkada Sulsel yang baru berakhir. Pendidikan gratis merupakan isu utama yang dikampanyekan pasangan Syahrul Yasin Limpon-Agus Arifin Nu’mang. Alhasil, isu pendidikan dan kesehatan gratis yang di jual pasangan Sayang ini berhasil memikat simpati publik dan mereka memenangkan Pilkada.

Isu pendidikan pun tidak hanya laris bagi polisi Indonesia. Kevin Rudd, Perdana Menteri Australia dari Partai Butuh yang baru saja terpilih juga mengangkat isu pendidikan sebagai tema kampanye. Rudd berjanji untuk menghadirkan nuansa digital di ruang-ruang kelas dengan menghadirkan satu komputer untuk setiap anak.

Isu pendidikan menjadi jualan ‘sexy’ bagi mereka. Pasalnya, pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia. Setiap manusia butuh pendidikan! Kebutuhan yang tinggi untuk kualitas pendidikan yang lebih baik dalam kehidupan ekonomi yang serba terbatas, menjadikan warga begitu menggantungkan harapan kepada janji para politisi. Ya..meski masih sebatas janji!

Kesehatan pun demikian, bahkan dapat menempati posisi yang lebih tinggi dari kebutuhan pendidikan. Tentu tak ada gunanya pendidikan yang tinggi jika tidak didukung derajat kesehatan yang memadai. Berbagai informasi memperlihatkan betapa banyaknya warga yang setia ‘memelihara’ penyakit lantaran tak mampu memenuhi biaya berobat. Inilah yang memicu jualan pendidikan dan kesehatan menjadi produk yang laris di bursa Pilkada.

Tetapi, kita sangat berharap bahwa semua itu bukan hanya bualan semata. Bukan janji palsu! Bukan program yang ikut-ikutan. Bukan hanya lip service yang sekadar menarik simpati calon pemilih.

Sesungguhnya pendidikan gratis bukan satu-satunya permasalahan urgent dunia pendidikan kita di masa kini. Pendidikan gratis lebih sekadar upaya meningkat partisipasi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan. Sebab sudah menjadi rahasia umum, rendahnya partisipasi masyarakat salah satunya dikarenakan biaya pendidikan yang tak terjangkau. Mungkin diantara kita ada yang mengatakan biaya pendidikan kita murah kok. Betul! Yang murah itulah yang tak terjangkau.

Permasalahan lain yang tak kalah pentingnya dipikirkan adalah persoalan mutu. Inilah salah satu substansi yang mestinya menjadi perhatian calon dan pemenang Pilkada. Tidak ada artinya partisipasi masyarakat yang tinggi karena pendidikan gratis tetapi kualitas yang ‘jongkok’. Kita mengimpikan kualitas tinggi dan merata.  Menyentuh seluruh segmen, bukan hanya mereka yang di kota tetapi termasuk yang di pelosok.

Meningkatkan mutu tentu tidak lepas dari kualitas tenaga pendidik. Nah, selain masalah di atas. Persoalan pendidikan yang layak dikedepankan adalah peningkatan kualifikasi tenaga pendidik. Kita yakin pendidik berkualitas akan melahirkan siswa berkualitas serta bermuara pada pendidikan berkualitas.

Jadi,  sesungguhnya masalah pendidikan kita bukan hanya persoalan gratis atau tidak!

2 Tanggapan

  1. whatttttt………….

  2. ku setuju sekali. pendidikan dan kesehatan menjadi senjata ampuh para pencinta politik. omongan manis di beberkan semanis madu. tapi sengatan lebahnya itu untuk rakyat yang bisa di bodohi. sampai sekarang sari madu itu tidak pernah dirasakan oleh masyarakat malah dijadikan ajang bisnis…bayangkan saja pendidikan dan kesehatan gratis sudah berapakali pemilu tapi buktinya NIHIL.
    omong doang (tony q rastafara), aku cinta Indonesiaku jangan nodai tanah suci Ibu Pertiwi

    MERDEKA!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: