Melirik Advertorial Kampanye Cagub/Cawagub Sulsel:Yang Narsis, Yang Pojiale

Pendidikan Amin Syam: Aljabar Selalu Dapat Nilai 10

Pilihlah Pemenang! Bukan Calon yang Minta Izin Menang

Sulsel Butuh Pemimpin Cerdas!

Aksa Telpon Syahrul Beri Ucapan Selamat 

Demikian sebagian petikan judul advertorial kampanye dua pasangan cagub/cawagub yang menghiasi media massa lokal Sulawesi Selatan. Judul pertama dan kedua merupakan advertorial kampanye pasangan Amin Syam-Mansyur Ramly (Amara) sedangkan judul ketiga dan keempat milik Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang). Awalnya, penulis tidak begitu tertarik untuk menganalisa dan juga membaca iklan atau advertorial cagub/cawagub. Alasang singkat saja, saya telah berketetapan hati dalam menentukan pilihan jauh sebelum masa kampanye. Siapa atau apa pilihan saja, tentunya tidak pantas untuk dikemukan di sini.

Namun, dari hari ke hari masa kampanye, penulis mulai menangkap ada sesuatu yang menarik dari rentetan advertorial ini. Aroma saling serang, sindir, dan  debat program cukup kental terasa.

Uniknya, ini hanya melibatkan dua pasangan calon, yakni paket Asmara dan Sayang. Dari pengamatan penulis terhadap advertorial di Harian Fajar, Tribun  Timur, dan Palopo Pos kedua pasangan inilah yang rajin memasang advertorial. Pasangan lainnya, Abdul Aziz Qahhar Muzakkar- Mubyl Handaling tidak melakukannya hingga 24 Oktober  lalu. Sehingga tulisan ini hanya akan membahas advertorial dua pasangan calon yang dimuat di Harian Fajar sejak tanggal 19 Oktober hingga 24 Oktober. Pemilihan Fajar hanya alasan kemudahan saja, karena isi advertorial dari media di atas sama saja. 

Sindir menyindir dan debat program               

Ketika kita menyimak pemberitaan di media, saling serang antara pasangan Asmara dengan Sayang dapat dilihar dari materi kampanye. Ada kandidat yang menyebut kandidat lainnya loyo, tua, dan dodong. Di sisi lain ada juga kandidat yang menyebut kandidat lainnya pemakai narkoba, suka keluar malam dan subuh, serta jelang Pilkada baru rajin ke mesjid (Fajar, 23 Oktober 2007).

Dalam advertorial pun demikian, saling serang, sindir menyindir, dan juga debat program sangat jelas terlihat dari judul-judul maupun isi advertorial yang ditampilkan. Mari kita simak beberapa advertorial dua pasangan cagub/cawagub.Pasangan Sayang memuat advertorial di halaman 15 sebagai berikut; 

Kandidat yang menyatakan:

Pendidikan Gratis = tidak mungkin

Kesehatan gratis = menghambat pembangunan

adalah kandidat yang tidak punya keberpihakan pada kita, rakyat Sulawesi Selatan. 

Kehadiran kata kandidat sebanyak dua kali dalam kalimat di atas menyiratkan makna bahwa iklan advertorial ini ditujukan terhadap kandidat lain. Pasangan Asmara memuat advertorial pada tanggal 23 Oktober yang dapat disimpulkan sebagai upaya mendebat program Sayang sekaligus untuk mempertegas bahwa pendidikan gratis tidak mungkin direalisasikan dengan memuat judul advertorial sebagai berikut.

Visi Pendidikan Berkualitas dan Terjangkau: Sekolah Gratis, Bukan Pendidikan Gratis. 

Dalam pemaparannya, paket Asmara menguraikan bahwa penyebutan istilah  pendidikan gratis mengcakup semua level pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Bagi pasangan ini yang tepat adalah sekolah gratis. Debat ini tidak berhenti di sini, karena sehari berikutnya paket Sayang kembali menurunkan advertorial bertema sama dengan judul Pendidikan Gratis Lebih Populer. Meskipun pasangan cagub/cawagub tidak menyebut advertorial-advertorial tersebut sebagai bagian dari debat program, namun jelas mereka berdebat untuk membenarkan argument masing-masing. 

Nuansa saling  sindir antar kandidat orang nomor satu di Sulsel lebih terasa dalam judul advertorial Asmara Pilihlah Pemenang! Bukan Calon yang Minta Izin Menang yang terbit tanggal 22 Oktober. Judul ini dapat disimpulkan sebagai sindiran terhadap advertorial pasangan Sayang yang terbit pada tanggal 20 Oktober dengan judul Syahrul dan Agus Minta Izin Menang. Dalam advertorial tersebut diceritakan tentang Syahrul yang meminta izin menang kepada Jusuf Kalla ketika bersilaturahmi.   

Hal yang sama dapat terlihat dalam judul advertorial dari tim Asmara Coblos yang Cerdas, Bukan yang Mengaku Cerdas yang dimuat pada tanggal 24 Oktober. Meskipun tidak tertulis bahwa hal ini ditujukan kepada kandidat lainnya, namun dalam dapat diterka bahwa ini merupakan bagian dari perang urat saraf mereka. Sebelumnya, Sayang menerbitkan advertorial dengan judul Sulawesi Selatan Butuh Pemimpin Cerdas. Pasangan Sayang ini juga mengusung tema utama kampanye  Muda, Cerdas, dan Sehat.  

Aroma kampanye yang diwarnai suasana saling serang dan sindir antar kandidat ini merupakan pelajaran yang kurang baik bagi pendidikan demokrasi kita.Betapa tidak, mereka yang akan menjadi pemimpin justru memulainya dengan cara-cara yang tidak elegan. Hal ini pun sudah mulai dibaca oleh anggota masyarakat. “Ai..tidak sehat mi cara kampanye calon gubernur. Masa begitu caranya, saling menjelek-jelekkan” begitu komentar Abdul Hakim Daeng Alle salah seorang warga Sorowako yang berasal dari Maros ketika penulis mencoba memintainya komentar tentang kampanye Cagub/Cawagub. Ia mengaku tidak senang dengan gaya kampanye yang saling menyerang pribadi masing-masing.

Dalam beberapa judul yang dipaparkan di atas, kandidat nampaknya mulai mengabaikan nilai-nilai saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Sebaliknya yang terlihat upaya saling menyerang dan menjatuhkan. Dalam halnya dalam debat program. Penulis yakin warga Sulsel akan senang ketika kandidat berdebat dalam hal program yang ditawarkan seperti dalam debat Sayang dan Asmara dalam hal pendidikan gratis. Meskipun yang diperdebatkan masih penggunaan istilah pendidikan gratis dengan sekolah gratis, tetapi hal ini bisa memberi manfaat bagi calon pemilih untuk menilai program kandidat. Para calon pun dapat berhati-hati dalam mengumbar janji politik. Bukan sekadar janji, tetapi memang janji politik yang realistis untuk diwujudkan. “Debat seperti itu yang bagus, kita bisa menilai siapa yang lebih layak dan lebih rasional programnya. Tentu bagus untuk pembelajaran politik. Bukan saling ejek,” begitu kata Amud warga Sorowako lainnya.

Narsis Tingkat Tinggi

Hal menarik lainnya yang dapat dilihat dari advertorial kandidat adalah penggunaan ungkapan-ungkapan yang bermakna pojiale. Bebagai ungkapan yang memuji-muji diri sendiri ditampilkan selama masa kampanye. Mari kita simak judul advertorial yang  narsis itu.

Pendidikan Amin Syam: Aljabar Selalu Dapat Nilai 10 (20 Oktober).

Dalam urainnya dikemukakan tentang mata pelajaran yang disenangi hingga cerita pindah sekolah mengikuti orang tua.

Kuliah di Unhas di Masa Resesi (20 Oktober)

Cerita tentang Amin Syam yang kuliah di zaman gerombolan, indekost dengan tidur di bale-bale dan dinding gamacca.Pendidikan Mansyur Ramli; Mahasiswa Teladan, Ijazah Diteken Jendral M YusufHal yang sama dilakukan pasangan Sayang seperti yang termuat dalam advertorial 9 Alasan  Memilih Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang. Dalam pemaparannya, Syahrul memaparkan kariernya yang menurutnya paripurna karena menduduki berbagai jawaban pemerintahan dari level terendah. Begitu pula paparan tentang pendidikannya yang telah meraih berbagai gelar di level sarjana dan pasca sarjana.

Prilaku narsis tingkat tinggi (NTT) dalam hemat penulis cukup lucu dan unik. Sebab, materi-materi yang ditampilkan tidak akan memberikan manfaat bagi masyarakat. Jauh lebih bagus jika mereka memaparkan program yang akan dilakukannya sehingga dapat ditagih jika kelak terpilih.

Memanfaatkan tokoh ternama

Cara lain yang dilakukan kandidat untuk merebut simpati publik adalah menyebut-menyebut nama tokoh Sulawesi Selatan yang telah dikenal luas.  Berikut kutipan beberapa judul advertorial kandidat.Jusuf Kalla: Pilihlah Amin Syam!Karaeng Galesong Dukung AsmaraAksa Telpon Syahrul Beri Ucapan SelamatAdik Andi Sose Sambut SayangUpaya menampilkan tokoh ternama dalam advertorial ini merupakan upaya kandidat meraih dukungan pemilih. Paling tidak dari orang dekat, pengagum, ataupun warga yang mengenal tokoh tersebut.

(Tulisan ini diterbitkan www.panyingkul.com pada  tanggal 27 Oktober 2007)  

%d blogger menyukai ini: