Dedikasi Frederic dan Daya Pikat Sebuah Tulisan

Frederick Sitaung. Mendengar nama ini mungkin Anda akan bertanya-tanyfrederick-edit2.jpga, siapa dia itu? Ya, namanya tidaklah tenar, setenar para selebriti dan politisi. Namun, jika kita ingin berbicara tentang karakter, kepribadian serta dedikasi, Frederick layak untuk di kedepankan.  (Frederick, foto kiri)

Sebagai seorang guru, Frederick betul-betul mendedikasikan diri untuk profesi yang sengaja dipilihnya. Mengajar di daerah terpencil pedalaman Papua. Untuk mencapai lokasi mengajar saja dia mesti berkali-kali ganti kendaraan, naik motor, perahu, atau bahkan berjalan kaki.

Frederick satu-satunya guru yang mesti mengajar anak-anak yang berjumlah 51 orang. Ia mengajar dari kelas satu hingga kelas enam. Sebagai guru sekaligur kepala sekolah. Ia tak peduli teman-temannya berpindah tugas ke kota. Hanya mampu bertahan beberapa saat merasakan ganasnya pedalaman Papua. Bahkan mereka yang merupakan penduduk asli pun tak kuasa bertahan. Tetapi bagi Frederick, kecintaannya kepada anak-anak dan kecintaan kepada profesi membuatnya terus bertahan meski hanya tinggal seorang diri. Lima belas tahun telah dilewatinya mengembangkan pendidikan anak-anak pedalaman. Baca lebih lanjut

Iklan

‘Tritura’ untuk Malaysia

TIGA TUNTUTAN UNTUK MALAYSIA
 
1.  Hentikan pencurian kesenian dan kebudayaan dari Indonesia 2.  Adili pelaku kekerasan terhadap WNI yang berada di Malaysia

 3.  Bubarkan Pasukan Rela

 
Promoted by GetCrash

Di copy paste dari postingan buginese.

Mencari Jalan Lurus, Tersesat di Persimpangan Alqiyadah

“Awalnya, tidak ada niat untuk mencari jalan sesat. Sebodoh-bodohnya saya ini, tidak ada keinginan untuk menceburkan diri ke dalam api neraka. Apa yang kami lakukan, ibaratnya mencari jalan Tuhan seperti yang ada di sinetron”.
Demikian kesaksian yang diberikan Muhammad Djasri bin Jamaluddin, mantan anggota al-qiyadah sesaat sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat menandai prosesi peneguhan keislamannya kembali. Hari itu, Senin (19/11), dengan suara yang agak tertahan dan intonasi terkontrol, lelaki kelahiran Makassar tahun 1968 ini menguraikan asal muasal keterlibatannya dengan salah satu ajaran yang ditetapkan Majelis Ulama Indonesia sebagai aliran sesat.
Di tengah kerumunan jamaah yang berjubel hingga teras masjid, Djasri mengutip Alquran surah 17 ayat 36 yang memiliki arti: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”. Menurut Djasri, keputusannya bergabung saat itu bukanlah tanpa dasar. “Bukan buta-buta,” katanya. Meskipun kemudian diakuinya bahwa apa yang diyakininya benar menurut versi alqiyadah saat itu, ternyata merupakan ajaran sesat. Baca lebih lanjut

Isu Pendidikan yang Laris Sebagai Jualan Politik

images1.jpg

Pendidikan menjadi salah satu topik ‘jualan’ politisi untuk meraih simpati publik. Tengok saja dalam Pilkada Sulsel yang baru berakhir. Pendidikan gratis merupakan isu utama yang dikampanyekan pasangan Syahrul Yasin Limpon-Agus Arifin Nu’mang. Alhasil, isu pendidikan dan kesehatan gratis yang di jual pasangan Sayang ini berhasil memikat simpati publik dan mereka memenangkan Pilkada. Baca lebih lanjut

Blogger, Waspada Amarah Istri/Suami!

Blogger, itulah sebutan bagi para pengelola blog. Jumlahnya bertambah semakin pesat dari tahun ke tahun. Saat ini sekitar 88 juta orang dari seluruh dunia telah memiliki blog. Bayangkan! Jumlah ini sekitar 40 persen dari jumlah penduduk kita saat ini. Sekitar 130-an ribu diantaranya dikelola blogger  Indonesia. Bahkan dalam setiap detik diestimasi lahir pula satu blog. Angka-angka ini fenomenal, apalagi jika dibandingkan dengan data Maret 2005, jumlah bloger baru sekitar  7,8 juta di seluruh jagad raya ini  (Kompas, 2 November 2007). Baca lebih lanjut

Melirik Advertorial Kampanye Cagub/Cawagub Sulsel:Yang Narsis, Yang Pojiale

Pendidikan Amin Syam: Aljabar Selalu Dapat Nilai 10

Pilihlah Pemenang! Bukan Calon yang Minta Izin Menang

Sulsel Butuh Pemimpin Cerdas!

Aksa Telpon Syahrul Beri Ucapan Selamat 

Demikian sebagian petikan judul advertorial kampanye dua pasangan cagub/cawagub yang menghiasi media massa lokal Sulawesi Selatan. Judul pertama dan kedua merupakan advertorial kampanye pasangan Amin Syam-Mansyur Ramly (Amara) sedangkan judul ketiga dan keempat milik Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang). Awalnya, penulis tidak begitu tertarik untuk menganalisa dan juga membaca iklan atau advertorial cagub/cawagub. Alasang singkat saja, saya telah berketetapan hati dalam menentukan pilihan jauh sebelum masa kampanye. Siapa atau apa pilihan saja, tentunya tidak pantas untuk dikemukan di sini.

Namun, dari hari ke hari masa kampanye, penulis mulai menangkap ada sesuatu yang menarik dari rentetan advertorial ini. Aroma saling serang, sindir, dan  debat program cukup kental terasa.

Baca lebih lanjut