Pacar, Selingkuh dan Penjajah Itu …

Istri saya yang baru saja pulang dari tempat kerja bercerita kepada adiknya yang tentunya juga adik ipar saya tentang pengalaman yang seringkali didapatkannya akhir-akhir ini. Dengan nada serius dan penuh rasa penasaran dia bertanya, “Adakah lagu yang liriknya begini “Oh.. oh… kamu ketahuan pacaran lagi?”. Dengan mengabaikan pertanyaan tadi, adik ipar saya malah balik bertanya, “Memangnya kenapa?” Sang penanya yang bekerja sebagai guru kelas 1 di salah satu sekolah dasar kemudian menceritakan bahwa murid-muridnya yang masih ingusan bahkan kadang kala mengencingi dirinya sendiri sering kali menyanyikan lirik itu. Sambil memeragakan gerakan tangan, istri saya meniru adegan yang dilakukan muridnya ketika menyanyikan lirik lagu itu. Menurutnya, murid yang berusia enam tahunan itu bernyanyi dengan menunjuk satu sama lain sambil mengucapkan “kamu ketahuan pacaran lagi”.           

Saya yang menguping pembicaraan dari tadi tersenyum-senyum simpul.  Saya mencoba membayangkan betapa lucu dan lugunya anak-anak itu. Namun, ada juga kegalauan dan kekhawatiran yang terlintas dibenak saya. Ada kecemasan! Begitu cepatnya mereka mengakrabi kata-kata demikian.   Dalam buaian perasaan, saya teringat dengan isi email salah seorang rekan milist yang juga bercerita tentang lagu yang sama. Lagu dengan syair;Dari awal aku tak pernah percaya kata-katamu                                                                                                 Karena ku hanya melihat dari parasmu                                                                                                            Terakhir kau bilang padaku takkan pernah selingkuh                                                                                         Tetapi kau bermain-main di belakangku

……………

Oh..oh…kamu ketahuan                                                                                                                                   Pacaran lagi dengan dirinya……dst 

Dalam diskusi ramadhan di salah satu milist, rekan tadi bercerita bahwa lagu Matta ini menjadi teman ‘selingkuhnya’ setiap malam. Melalui alarm HP, untaian kata pacar hinga selingkuh tadi membangunkannya untuk bersantap sahur. Ya..lagu tadi melakukan peran seperti kebanyakan anak muda memilih peran membangunkan warga dengan aneka kreativitas.

***

Pacar, selingkuh, kekasih, cinta, dan banyak lagi kata yang lainnya begitu mudanya menerobos kuping anak-anak kita. Kata-kata itu pula yang kemudian meluncur dengan mulus dari mulut mungil mereka yang masih ingusan. Ya…dia dengar, dia ucapkan. Sungguh kita prihatin jika mereka tidak lagi hanya mendengar kemudian melafaskannya, tetapi juga sudah mulai memikirkannya. Ingat mereka masih kelas satu SD! Masih enam tahun!           

Pacar, kekasih, cinta, dan selingkuh sesungguhnya kata-kata yang terlalu dewasa bagi mereka yang baru menginjak usia enam tahun. Berbicara pantas dan tidaknya, barangkali istilah ini lebih tepat menjadi kosa kata bagi mereka yang telah dewasa. Paling tidak remaja yang sudah bisa berpikir dewasa. Secara psikologis tentu ini tidak sehat bagi mereka. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika anak-anak kita tumbuh dan berkembang bersama dengan kata selingkuh, pacar, cinta, dan lainnya. Sungguh memprihatinkan diusianya yang belia dia sudah mengakrabi kata-kata yang terlalu dewasa untuk umurnya.           

Kata selingkuh misalnya. Secara harfiah memiliki makna yang semuanya berkonotasi negatif. Tengok saja makna kata ini seperti yang diuraikan dalam kamus; 1. suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan diri sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong; 2. suka mengelapkan uang, korup; 3. suka menyeleweng.

Lalu mengapa di usianya yang masih begitu belia mereka sudah fasih melafaskannya? Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka telah memahami maknanya? Mengerti sedikit. Atau merasa mengerti tetapi salah pengertian.

***

Bagi saya, fenomena ini adalah sebuah bentuk penjajahan di alam kemerdekaan? Lalu siapa penjajahnya? Belanda lagi? Portugiskah?  Atau Jepang? Jawabannya, mereka semua bukan penjajahnya.

Penjajah anak-anak ini adalah kapitalisme bernama industri hiburan. Televisi dan ‘sebangsanya’! Dialah penjajah yang senantiasa disembah seolah-olah sebagai Tuhan oleh sebagian besar generasi kita saat ini. Meskipun dicerca sebagai penyebab penumpulan akal, mengerdilkan logika, penuh mistik, penyebar aksi kekerasan, dan aneka hujatan lainnya, tetapi sang penjajah ini tetap berkibar menebar ‘racun’ untuk pikiran anak-anak kita.

Mungkin Anda akan mengatakan tidak semua tanyangan dan hiburan yang ditampilkan buruk. Oke..saya setuju seratus persen ungkapan ini. Oleh karena itu, saya pun ingin mengatakan kepada mereka, kalau ada yang baik mengapa mesti menayangkan yang buruk?

Pacar dan kekasih tumbuh subur bak jamur di musim hujan dari berbagai lagu-lagu yang diproduksi dari hari ke hari. Ditanyangkan ataupun didengar setiap waktu. Seolah mereka telah kehabisan akal dan kekurangan kata untuk menulis yang lain. Cinta dan selingkuh adalah dua buah kata yang dikampanyekan setiap hari melalui sinetron. Semuanya menjadi santapan bagi anak-anak kita. Mereka yang mengabdi bagi kapitalis mendapat untung, sebaliknya kita buntung.

Suka atau tidak, televisi telah menjadi ‘guru’ bagi generasi kita saat ini. Ia dipuja bak Tuhan. Tak heran jika Muhammad Fauzil Adhim mensinyalir bahwa televisi bukan lagi menjadi the second God (Tuhan kedua), tetapi sudah menjadi The First Good. Ia seolah lebih diaati manusia dari Tuhan yang sesungguhnya. Ia dicintai meski membawa kerusakan.

Generasi kita yang sudah begitu fasih dengan pacar, cinta, dan selingkuh harus segera diselematkan. Kita tidak bisa membiarkan mereka terus bertekuk lutut menyembah bagi sang ‘penjajah’. Mereka harus diajar untuk mengakan tidak pada tayangan yang ‘menjijikkan’.   

4 Tanggapan

  1. Kegalauan dalam tulisan ini kembali menyegarkan nurani kita untuk hati2 dalam membesarkan anak2 kita. Hari ini, ini yang terjadi… esok entah syetan apa lagi yang akan mencekoki diri dan anak2 kita. Lagu2 kebanyakan memang menjadi media paling ampuh bagi syetan untuk menyesatkan pikiran kita dengan berbagai dalih (nikmat… tapi melalaikan…). Kita selaku orang tua mesti pandai2 menuntun mereka agar tak tersesatkan oleh lingkungannya.

  2. televisi telah menjadi ‘guru’ bagi generasi kita saat ini

    bahkan lebih berpengaruh dibanding guru di kelasnya

  3. sudah banyak bentuk dekadensi budaya [dan mungkin moral] yg ditimbulkan oleh acara, lagu, dan semua jenis laku para pesohor di layar kaca. orang dewasa yg kita anggap masih punya sensor nurani, sensor perilaku utk bisa memilah mana yang baik atau jelek juga sudah bobol pertahanannya [walau ndak semua].
    anak kecil? masya Allah. siapa lagi yang bisa melindungi mereka, sementara yg dewasa pun asik berselingkuh terang2an, memaksa cerai utk hal2 yg sepele tapi diatas namakan sebagai perbedaan yg prinsipil, atau lagu2 yang isinya tidak lebih dari obrolan di pub-pub.
    solusi: saya saja bingung….:(

  4. makin hari televisi memang makin merajalela di rumah-rumah kita. pengaruh kapitalisme sudah sangat besar, meninggalkan semua kemurnian budaya yang sebenarnya kita miliki. saat ini anak2 kita lebih bangga berbusana a la Eropa ato Amerika daripada busana timur, benar kalau memang sekarang kita dijajah oleh kapitalisme yang sayangnya disetir oleh orang-orang kita juga. saya pernah menulis soal ini juga di blog saya : http://love-and-trust.blogspot.com/2007/08/keajaiban-di-televisi-kita.html,salam pa’Sultan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: