Berdamai dengan Pikiran

Dua hari sebelum memasuki bulan ramadhan, seorang tetangga kami dipanggil menghadap ke Yang Maha Kuasa. Sang nenek meninggal diusianya yang ke-72. Empat orang anak dan 16 cucu dia tinggalkan untuk selama-lamanya. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun.                   

Kita semua paham bahwa ajal adalah ketentuan dan rahasia Allah. Kapan saja, di mana saja, siapa saja, jika dia yang menginginkannya, nyawa kita segera dicabut. Namun demikian, membincangkan sebab kematian dan hari-hari terakhir orang yang meninggal senantiasa menarik bagi orang-orang disekitarnya. Ada keinginan untuk mengetahui kisah diakhir hidup orang yang telah meninggal. Itu pula yang kami lakukan.

Sesaat setelah taksiyah malam pertama berakhir, beberapa orang tetangga lainnya berbincang dengan menantu sang nenek tentang hari-hari terakhirnya sebelum meninggal. Sang menantu kemudian mengisahkan bahwa beberapa hari sebelum ajal menjemput ibu mertuanya, dia mengantarnya untuk berkonsultasi dengan salah seorang dokter di Makassar. Ketika itu, sang nenek merasa ada sedikit ganguan yang dia rasakan di bagian kepala tetapi tidak begitu mengganggu. Dia masih bisa beraktivitas seperti yang biasa dilakoninya.  

Singkat cerita, dalam konsultasi, dokter memaparkan diagnosanya kepada sang nenek. Gangguan yang terjadi di kepala sang nenek dipaparkan sang dokter secara detail. Namun, sejak saat ini, penyakit sang nenek bertambah satu selain gangguan di kepala tadi. Stres! Sang nenek terus menerus memikirkan hasil konsultasinya. “Mengapa bisa jadi begini? Mengapa penyakit saya serumit ini?” inilah yang menghantui pikiran sang nenek. Dia terbebani setelah mengetahui ada gangguan di bagian kepalanya. Begitu terbebaninya, dia pun tak ingin makan dan minum dalam beberapa hari. Kondisinya menjadi lemas hingga akhirnya meninggal. 

Mendengar cerita itu, salah seorang rekan yang duduk di sebelah saya langsung menimpali dengan ucapan “konsultasi mematikan”!  

Berdamai dengan pikiran

Cerita di atas menyadarkan saya akan pentingnya berdamai dengan pikiran. Kita tidak boleh larut dalam kesengsaraan yang kita ciptakan sendiri. Buah pikiran sendiri yang menjadi beban dan menyusahkan. Membebani diri dengan pikiran seperti ini menurut saya merupakan  bentuk bunuh diri dalam wujud lain. Sebuah tindakan yang diciptakan sendiri sehingga melahirkan lubang kematian bagi seseorang. Beban dari pikiran untuk kematian diri sendiri. 

Dari kajian kesehatan, sakit dan sehat salah satunya ditentukan oleh pikiran kita. Penelitian menunjukkan bahwa 88 % hidup ditentukan oleh alam bawah sadar kita (www.nusahealth.com). Sehingga sakit atau sehat, kitalah yang menciptakannya. Dengan demikian, sangat penting untuk menciptakan persepsi subjektif bahwa diri kita sehat dan kuat. 

Dalam kondisi sakit, kita harus tetap membangun pikiran positif. Paling tidak mencoba melupakan keadaan yang sesungguhnya. Jika kita melakukan kesalahan sehingga melahirkan masalah bagi pribadi kita, maka kita pun harus arief untuk memaafkan diri kita sendiri. Kita harus mampu menciptakan epifani bagi pikiran kita. Sebuah titik balik yang dapat membawa kita berdamai dengan pikiran sendiri.

Terbebani dengan pikiran hanya akan membawa kita ke dalam kecemasan dan keputusasaan. Hidup menjadi gelisah dan cemas. Keadaan demikian dapat berakhir stress bahkan bunuh diri yang sesungguhnya. 

Mati tepat waktu 

Beban pikiran kadang kala terbentuk atas penolakan kita atas keadaan yang sedang terjadi. Seperti dalam kisah nenek di atas, nampaknya dia kurang menerima keadaan yang terjadi sehingga muncul berbagai pikiran yang kemudian menjadi beban. Sang nenek enggan berdamai dengan pikirannya bahkan sebaliknya berperan melawan ‘musuh’ yang ada dalam pikirannya sendiri. Ia kemudian enggan makan sehingga lemas dan berakhir kematian.  

Ketulusan seseorang untuk menerima nasib sesungguhnya akan membawa ketenangan dan kedamaian pikiran. Ya…mengarahkan alam bawah sadar kita untuk hal-hal yang menyenangkan. Apalagi, bagi orang sedang menginap penyakit tertentu, ketenagan pikiran sangat dibutuhkan. Tidak ada yang perlu dirisaukan karena kita yakin akan mati tepat waktu. Tak akan kurang dan lebih dari ketentuan Allah (*) 

2 Tanggapan

  1. pikiran memang yg menentukan kualitas kesehatan kita, makanya org yg selalu bersyukur dan berbahagia dgn hall2 kecil y g diraihnya, kualitas hidup dan kesehatannya relatif lebih prima🙂

  2. Kita tak bisa memilih waktu mati, tentu saja. Yang kita bisa lakukan hanyalah mempersiapkan diri menghadapinya, kapan pun itu. Karena maut tidak pernah mengenal seberapa bugar badan kita, seberapa muda usia kita, dan seberapa bodoh kita berada di hingar bingar tempat maksiat. Waktu dan tempatnya adalah pilihan prerogatif Tuhan semata. Tugas kita memang adalah mempersiapkannya dengan sebaik2nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: