Manusia yang Telah Mati Meski Masih Bernafas

Dalam perjalanan untuk berolah raga kemarin, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah ‘adegan’ yang sama sekali tidak saya bayangkan sebelumnya. Di salah satu persimpangan jalan, seorang lelaki mudah tergeletak di pinggir jalan sambil mengeram kesakitan. Sementara dua lainnya terlihat berusaha bangkit meskipun dengan bersusah payah. Beberapa saat  sebelumnya, mereka baru saja terlibat tabrakan. Sebagai orang yang pertama menemukan mereka, saya kaget, panik, cemas, dan bingung. Itulah yang saya alami.  

Namun, tak ingin berlama-lama dengan perasaan, segera saya hampiri pemuda berambut gondrong yang sedang meringis kesakitan. Kondisinya cukup parah. Terluka, termasuk salah satu pahanya saya indikasikan patah. Dalam kondisi demikian, yang terpikir bagi saya adalah membawa pemuda ini ke rumah sakit secepatnya. Pertolongan orang lain sangat dibutuhkan karena saya hanya mengedarai sepeda motor kala itu. Salah satu pilihan adalah memanggil ambulance, namun pilihan ini akan memakan waktu yang lama, sementara si korban membutuhkan pertolongan segera.

Dalam  kebimbangan, terlintas dalam pikiran saya  bahwa yang paling mungkin dilakukan adalah meminta pertolongan pengendara mobil yang sedang lewat. Siapa saja! Bagi saya inilah pilihan yang terbaik.Tak perlu berlama-lama menunggu, sebuah pengendara mobil melintas dan saya pun menahannya. Hati saya diliputi harapan kelak inilah sang penolong yang dinanti-nantikan. Ya..menolong si korban untuk segera mendapat pertolongan. “Tolong Pak, adik itu baru saja kecelakaan. Minta tolong Pak, diantar ke rumah sakit,” kata saya. Namun, harapan itu hanya tinggal harapan. “Maaf dik, saya buru-buru harus mengantar cucian,” jawab sang sopir. Setelah itu, sang sopir segera berlalu meninggalkan kami.

Kecewa! Perasaan ini yang saya alami. Bagi saya inilah salah satu kematian yang dialami seorang manusia dalam kehidupannya. Kematian jiwa untuk menolong orang lain. Kematian hati untuk sekadar berempati dengan derita sesama. Nafas boleh saja tetap bersama raga, tetapi boleh jadi hati telah mati sebelum kematian yang sesungguhnya.

Kekecewaan semakin bertambah dengan untaian alasan yang sama sekali tidak urgent bagi saya. Mengantar pakaian untuk pelanggan. Rasanya terlalu murah nyawa seorang manusia jika pilihan yang harus diambil adalah mengantar pakaian untuk pelanggan. Apa mungkin ini wujud totalitas kerja seorang karyawan untuk sang majikan? Entahlah! Yang pasti sang sopir telah kembali melintas dihadapan kami beberapa saat setelah si korban dievakuasi. Kurang dari 15 menit setelah kami memintainya pertolongan. Mungkin pula inilah filosofi waktu adalah uang yang diyakini banyak orang.

Pendidikan Hati

Salah satu tantangan dunia pendidikan kita dewasa ini adalah pembentukan karakter. Menanamkan jiwa sosial untuk menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Pendidikan kita tidak sekadar ‘mengejar setoran’ atas berbagai pengetahuan faktual, tetapi yang tak kalah pentingnya menanamkan nilai dan karakter.

Pendidikan merupakan media mempersiapkan siswa menghadapi hidup. Mempersiapkan anak untuk dapat beradaptasi, membangun relasi, interaksi, dan empati kepada sesama. Lulusan yang cerdas tidak hanya mampu melenggang dengan mulus memasuki dunia kerja, namun meminjam instilah Syafii Maarif, mereka juga memiliki kesalehan sosial.

Bagi Mochtar Buchori keberhasilan hidup tidak identik dengan keberhasilan kerja. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan harus menyiapkan siswa untuk hidup (to making living), memuliakan kehidupan (to ennable life), dan mengembangkan kehidupan bermakna (to lead meaningful life). Sehingga makna belajar bagi Mochtar Buchori bukan untuk sekolah tapi untuk hidup (Non scholae sed vitae discimus).

UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Empat pilar pendidikan menempatkan intelektualitas, keterampilan, aktualitas diri, dan kehidupan bersama secara sejajar.

Sekolah sebagai miniatur masyarakat dituntut menanamkan nilai-nilai esensial dalam kehidupan. Melalui proses belajar anak difasilitasi untuk mengembangkan kerja sama, toleransi, empati, dan tenggang rasa.  Ini merupakan suatu upaya untuk membentuk generasi yang ‘encer’ dalam berpikir dan memiliki hati.     

3 Tanggapan

  1. Saya sangat setuju dengan ide pendidikanta’ Cappo’. Mestinya pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, bukan mencari pekerjaan.

  2. setuju bro, tp kadang polisi kita suka mempersulit orang yang justru sudah nolong jadi gimana dunk ?

  3. Maaf dik, saya buru-buru harus mengantar cucian,”
    Seandainya yg luka adalah anggota keluarganya sendiri, maka cucian itu ndak ada artinya.
    Bacakan fatehah buat yg luka, semoga cepat sembuh. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: