Akankah Menulis [hanya] Menjadi Milik Perempuan?

dsc00744.jpg

Judul di atas menghantui pikiran penulis beberapa hari terakhir ini? Hal itu bermula ketika sekolah tempat penulis membuka kesempatan kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa. Dengan sangat demokratis, sekolah memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk memilih kegiatan yang sesuai dengan pilihan dan ketertarikannya.

Kegiatan menulis yang kami sebut Club Jurnalistik ditawarkan bersama dengan bidang olah raga, seni musik, penelitian, dan fotografi. Hasil pengumpulan angket begitu mencengangkan saya. Dari 400 orang siswa, hanya 13 orang yang memilih kegiatan menulis. Dari 13 orang itu, tak satupun laki-laki. Padahal, siswa laki-laki cukup banyak. Jumlahnya 197 orang. Apa lagi-laki tidak senang menulis? Apa laki-laki tidak mampu menulis?

Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh susah dijawab dan memang tak mungkin dijawab saat ini. Semuanya akan dibuktikan dengan waktu. Namun, pertanyaan lanjutan yang muncul dalam benak penulis, akankah menulis hanya  menjadi milik perempuan di masa depan?

Dari survey, pilihan laki-laki terhadap bidang olah raga sungguh dominan. Tidak kurang dari seratus orang atau lebih dari 50 % siswa laki-laki yang memilih sepak bola. Belum lagi yang memilih pilihan olah raga lainnya selain sepak bola. Sehingga, kesimpulan saya adalah kegiatan olah raga lebih diminati anak-anak laki-laki usia SMP ketimbang kegiatan menulis.

Data ini memang tidaklah cukup untuk menyimpulkan bahwa kegiatan menulis tidak digemari anak laki-laki usia SMP. Namun, hal ini menjadi peringatan dini (early warning) betapa pentingnya memperkenalkandan menanamkan kecintaan menulis bahwa anak usia muda.

Dalam dunia kepenulisan dewasa ini, perempuan memang cukup menonjol dalam menghasilkan karya-karya besar. J.K. Rowling, mengukuhkan diri sebagai penulis hebat lewat Harry Potter. Dalam konteks kepenulisan di Indonesia pun demikian. Kita mengenal Ayu Utami yang melahirkan karya Saman dan Larung. Ada pula Dewi Lestari dengan Supernova. Begitu pula Fira Basuki.

Dalam kelompok penulis anak-anak, Sri Izzati telah menasbihkan diri sebagai penulis termuda. Berbagai karya telah lahir dari Si Bocah Ajaib ini. Bocah perempuan yang mampu menghasilkan karya termasuk novel dalam ratusan halaman.

Menulis menjadi salah satu keterampilan berbahasa mendapat cap sulit bagi sebagian besar orang. Chaedar Alwasilah yang melakukan penelitian terhadap mahasiswa Indonesia di Amerika juga menemukan bahwa mahasiswa Indonesia di sana mengalami kesulitan dalam menulis makalah ataupun tesis. Menulis dan berbicara memang merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, berbeda dengan membaca dan mendengarkan yang bersifat resektif.   

Nampaknya, kecintaan menulis akan menjadi tantangan tersendiri utamanya bagi guru. Ya..menanamkan kecintaan bagi anak-anak untuk mencintai kegiatan tulis menulis. Menanamkan kecintaan untuk menekuti kegiatan tulis menulis utamanya bagi anak laki-laki.

Memperkenalkan menulis dan menunjukkan manfaat menulis bagi mereka layak menjadi prioritas. Mungkin ketidaktertarikan mereka disebabkan ketidaktahuan, mungkin juga karena menulis dianggap tidak menarik.  Satu hal yang utama yang lainnya adalah memberikan teladan. Menulis..!Menulis..Menulis..! Menulis kemudian mengajak mereka menulis. Bukan sebaliknya mengajak menulis, tetapi tidak mampu menunjukkan tulisan. Ini masalah keteladanan.

Sebagai laki-laki, rasanya kita harus malu jika kelak yang mampu menghasilkan tulisan hanya perempuan. Mudah-mudahan ini tidak terjadi.

2 Tanggapan

  1. he2, daeng mungkin sifatnya kegelisahanta itu hanya terlokalisir di SMP YPS ji…di makassar insya Allah banyakji penulis lelaki. Tapi memang sih lebih gampang wanita untuk menuliskan isi hati nya, dibanding lelaki yg kadang bingung, apakah isi hati, pengalaman dan pengamatan harus dituliskan?
    buat mereka [termasuk saya, kadang2], ide dan perasaan itu hanya perlu disimpan di hati saja…:)

  2. hehehe mungkin mesti dibuat lebih macho lagi kegiatan nulis nya biar menarik buat anak laki – laki…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: