Pacar, Selingkuh dan Penjajah Itu …

Istri saya yang baru saja pulang dari tempat kerja bercerita kepada adiknya yang tentunya juga adik ipar saya tentang pengalaman yang seringkali didapatkannya akhir-akhir ini. Dengan nada serius dan penuh rasa penasaran dia bertanya, “Adakah lagu yang liriknya begini “Oh.. oh… kamu ketahuan pacaran lagi?”. Dengan mengabaikan pertanyaan tadi, adik ipar saya malah balik bertanya, “Memangnya kenapa?” Sang penanya yang bekerja sebagai guru kelas 1 di salah satu sekolah dasar kemudian menceritakan bahwa murid-muridnya yang masih ingusan bahkan kadang kala mengencingi dirinya sendiri sering kali menyanyikan lirik itu. Sambil memeragakan gerakan tangan, istri saya meniru adegan yang dilakukan muridnya ketika menyanyikan lirik lagu itu. Menurutnya, murid yang berusia enam tahunan itu bernyanyi dengan menunjuk satu sama lain sambil mengucapkan “kamu ketahuan pacaran lagi”.           

Saya yang menguping pembicaraan dari tadi tersenyum-senyum simpul.  Saya mencoba membayangkan betapa lucu dan lugunya anak-anak itu. Namun, ada juga kegalauan dan kekhawatiran yang terlintas dibenak saya. Ada kecemasan! Begitu cepatnya mereka mengakrabi kata-kata demikian.   Baca lebih lanjut

Berdamai dengan Pikiran

Dua hari sebelum memasuki bulan ramadhan, seorang tetangga kami dipanggil menghadap ke Yang Maha Kuasa. Sang nenek meninggal diusianya yang ke-72. Empat orang anak dan 16 cucu dia tinggalkan untuk selama-lamanya. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun.                   

Kita semua paham bahwa ajal adalah ketentuan dan rahasia Allah. Kapan saja, di mana saja, siapa saja, jika dia yang menginginkannya, nyawa kita segera dicabut. Namun demikian, membincangkan sebab kematian dan hari-hari terakhir orang yang meninggal senantiasa menarik bagi orang-orang disekitarnya. Ada keinginan untuk mengetahui kisah diakhir hidup orang yang telah meninggal. Itu pula yang kami lakukan.

Sesaat setelah taksiyah malam pertama berakhir, beberapa orang tetangga lainnya berbincang dengan menantu sang nenek tentang hari-hari terakhirnya sebelum meninggal. Sang menantu kemudian mengisahkan bahwa beberapa hari sebelum ajal menjemput ibu mertuanya, dia mengantarnya untuk berkonsultasi dengan salah seorang dokter di Makassar. Ketika itu, sang nenek merasa ada sedikit ganguan yang dia rasakan di bagian kepala tetapi tidak begitu mengganggu. Dia masih bisa beraktivitas seperti yang biasa dilakoninya.  

Singkat cerita, dalam konsultasi, dokter memaparkan diagnosanya kepada sang nenek. Gangguan yang terjadi di kepala sang nenek dipaparkan sang dokter secara detail. Namun, sejak saat ini, penyakit sang nenek bertambah satu selain gangguan di kepala tadi. Stres! Sang nenek terus menerus memikirkan hasil konsultasinya. “Mengapa bisa jadi begini? Mengapa penyakit saya serumit ini?” inilah yang menghantui pikiran sang nenek. Dia terbebani setelah mengetahui ada gangguan di bagian kepalanya. Begitu terbebaninya, dia pun tak ingin makan dan minum dalam beberapa hari. Kondisinya menjadi lemas hingga akhirnya meninggal. 

Mendengar cerita itu, salah seorang rekan yang duduk di sebelah saya langsung menimpali dengan ucapan “konsultasi mematikan”!  

Berdamai dengan pikiran

Cerita di atas menyadarkan saya akan pentingnya berdamai dengan pikiran. Kita tidak boleh larut dalam kesengsaraan yang kita ciptakan sendiri. Buah pikiran sendiri yang menjadi beban dan menyusahkan. Membebani diri dengan pikiran seperti ini menurut saya merupakan  bentuk bunuh diri dalam wujud lain. Sebuah tindakan yang diciptakan sendiri sehingga melahirkan lubang kematian bagi seseorang. Beban dari pikiran untuk kematian diri sendiri. 

Dari kajian kesehatan, sakit dan sehat salah satunya ditentukan oleh pikiran kita. Penelitian menunjukkan bahwa 88 % hidup ditentukan oleh alam bawah sadar kita (www.nusahealth.com). Sehingga sakit atau sehat, kitalah yang menciptakannya. Dengan demikian, sangat penting untuk menciptakan persepsi subjektif bahwa diri kita sehat dan kuat. 

Dalam kondisi sakit, kita harus tetap membangun pikiran positif. Paling tidak mencoba melupakan keadaan yang sesungguhnya. Jika kita melakukan kesalahan sehingga melahirkan masalah bagi pribadi kita, maka kita pun harus arief untuk memaafkan diri kita sendiri. Kita harus mampu menciptakan epifani bagi pikiran kita. Sebuah titik balik yang dapat membawa kita berdamai dengan pikiran sendiri.

Terbebani dengan pikiran hanya akan membawa kita ke dalam kecemasan dan keputusasaan. Hidup menjadi gelisah dan cemas. Keadaan demikian dapat berakhir stress bahkan bunuh diri yang sesungguhnya. 

Mati tepat waktu 

Beban pikiran kadang kala terbentuk atas penolakan kita atas keadaan yang sedang terjadi. Seperti dalam kisah nenek di atas, nampaknya dia kurang menerima keadaan yang terjadi sehingga muncul berbagai pikiran yang kemudian menjadi beban. Sang nenek enggan berdamai dengan pikirannya bahkan sebaliknya berperan melawan ‘musuh’ yang ada dalam pikirannya sendiri. Ia kemudian enggan makan sehingga lemas dan berakhir kematian.  

Ketulusan seseorang untuk menerima nasib sesungguhnya akan membawa ketenangan dan kedamaian pikiran. Ya…mengarahkan alam bawah sadar kita untuk hal-hal yang menyenangkan. Apalagi, bagi orang sedang menginap penyakit tertentu, ketenagan pikiran sangat dibutuhkan. Tidak ada yang perlu dirisaukan karena kita yakin akan mati tepat waktu. Tak akan kurang dan lebih dari ketentuan Allah (*) 

Manusia yang Telah Mati Meski Masih Bernafas

Dalam perjalanan untuk berolah raga kemarin, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah ‘adegan’ yang sama sekali tidak saya bayangkan sebelumnya. Di salah satu persimpangan jalan, seorang lelaki mudah tergeletak di pinggir jalan sambil mengeram kesakitan. Sementara dua lainnya terlihat berusaha bangkit meskipun dengan bersusah payah. Beberapa saat  sebelumnya, mereka baru saja terlibat tabrakan. Sebagai orang yang pertama menemukan mereka, saya kaget, panik, cemas, dan bingung. Itulah yang saya alami.  

Namun, tak ingin berlama-lama dengan perasaan, segera saya hampiri pemuda berambut gondrong yang sedang meringis kesakitan. Kondisinya cukup parah. Terluka, termasuk salah satu pahanya saya indikasikan patah. Dalam kondisi demikian, yang terpikir bagi saya adalah membawa pemuda ini ke rumah sakit secepatnya. Pertolongan orang lain sangat dibutuhkan karena saya hanya mengedarai sepeda motor kala itu. Salah satu pilihan adalah memanggil ambulance, namun pilihan ini akan memakan waktu yang lama, sementara si korban membutuhkan pertolongan segera.

Dalam  kebimbangan, terlintas dalam pikiran saya  bahwa yang paling mungkin dilakukan adalah meminta pertolongan pengendara mobil yang sedang lewat. Siapa saja! Bagi saya inilah pilihan yang terbaik.Tak perlu berlama-lama menunggu, sebuah pengendara mobil melintas dan saya pun menahannya. Hati saya diliputi harapan kelak inilah sang penolong yang dinanti-nantikan. Ya..menolong si korban untuk segera mendapat pertolongan. “Tolong Pak, adik itu baru saja kecelakaan. Minta tolong Pak, diantar ke rumah sakit,” kata saya. Namun, harapan itu hanya tinggal harapan. “Maaf dik, saya buru-buru harus mengantar cucian,” jawab sang sopir. Setelah itu, sang sopir segera berlalu meninggalkan kami.

Kecewa! Perasaan ini yang saya alami. Bagi saya inilah salah satu kematian yang dialami seorang manusia dalam kehidupannya. Kematian jiwa untuk menolong orang lain. Kematian hati untuk sekadar berempati dengan derita sesama. Nafas boleh saja tetap bersama raga, tetapi boleh jadi hati telah mati sebelum kematian yang sesungguhnya.

Kekecewaan semakin bertambah dengan untaian alasan yang sama sekali tidak urgent bagi saya. Mengantar pakaian untuk pelanggan. Rasanya terlalu murah nyawa seorang manusia jika pilihan yang harus diambil adalah mengantar pakaian untuk pelanggan. Apa mungkin ini wujud totalitas kerja seorang karyawan untuk sang majikan? Entahlah! Yang pasti sang sopir telah kembali melintas dihadapan kami beberapa saat setelah si korban dievakuasi. Kurang dari 15 menit setelah kami memintainya pertolongan. Mungkin pula inilah filosofi waktu adalah uang yang diyakini banyak orang.

Pendidikan Hati

Salah satu tantangan dunia pendidikan kita dewasa ini adalah pembentukan karakter. Menanamkan jiwa sosial untuk menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Pendidikan kita tidak sekadar ‘mengejar setoran’ atas berbagai pengetahuan faktual, tetapi yang tak kalah pentingnya menanamkan nilai dan karakter.

Pendidikan merupakan media mempersiapkan siswa menghadapi hidup. Mempersiapkan anak untuk dapat beradaptasi, membangun relasi, interaksi, dan empati kepada sesama. Lulusan yang cerdas tidak hanya mampu melenggang dengan mulus memasuki dunia kerja, namun meminjam instilah Syafii Maarif, mereka juga memiliki kesalehan sosial.

Bagi Mochtar Buchori keberhasilan hidup tidak identik dengan keberhasilan kerja. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan harus menyiapkan siswa untuk hidup (to making living), memuliakan kehidupan (to ennable life), dan mengembangkan kehidupan bermakna (to lead meaningful life). Sehingga makna belajar bagi Mochtar Buchori bukan untuk sekolah tapi untuk hidup (Non scholae sed vitae discimus).

UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Empat pilar pendidikan menempatkan intelektualitas, keterampilan, aktualitas diri, dan kehidupan bersama secara sejajar.

Sekolah sebagai miniatur masyarakat dituntut menanamkan nilai-nilai esensial dalam kehidupan. Melalui proses belajar anak difasilitasi untuk mengembangkan kerja sama, toleransi, empati, dan tenggang rasa.  Ini merupakan suatu upaya untuk membentuk generasi yang ‘encer’ dalam berpikir dan memiliki hati.     

Akankah Menulis [hanya] Menjadi Milik Perempuan?

dsc00744.jpg

Judul di atas menghantui pikiran penulis beberapa hari terakhir ini? Hal itu bermula ketika sekolah tempat penulis membuka kesempatan kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa. Dengan sangat demokratis, sekolah memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk memilih kegiatan yang sesuai dengan pilihan dan ketertarikannya.

Kegiatan menulis yang kami sebut Club Jurnalistik ditawarkan bersama dengan bidang olah raga, seni musik, penelitian, dan fotografi. Hasil pengumpulan angket begitu mencengangkan saya. Dari 400 orang siswa, hanya 13 orang yang memilih kegiatan menulis. Dari 13 orang itu, tak satupun laki-laki. Padahal, siswa laki-laki cukup banyak. Jumlahnya 197 orang. Apa lagi-laki tidak senang menulis? Apa laki-laki tidak mampu menulis?

Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh susah dijawab dan memang tak mungkin dijawab saat ini. Semuanya akan dibuktikan dengan waktu. Namun, pertanyaan lanjutan yang muncul dalam benak penulis, akankah menulis hanya  menjadi milik perempuan di masa depan?

Dari survey, pilihan laki-laki terhadap bidang olah raga sungguh dominan. Tidak kurang dari seratus orang atau lebih dari 50 % siswa laki-laki yang memilih sepak bola. Belum lagi yang memilih pilihan olah raga lainnya selain sepak bola. Sehingga, kesimpulan saya adalah kegiatan olah raga lebih diminati anak-anak laki-laki usia SMP ketimbang kegiatan menulis.

Data ini memang tidaklah cukup untuk menyimpulkan bahwa kegiatan menulis tidak digemari anak laki-laki usia SMP. Namun, hal ini menjadi peringatan dini (early warning) betapa pentingnya memperkenalkandan menanamkan kecintaan menulis bahwa anak usia muda.

Dalam dunia kepenulisan dewasa ini, perempuan memang cukup menonjol dalam menghasilkan karya-karya besar. J.K. Rowling, mengukuhkan diri sebagai penulis hebat lewat Harry Potter. Dalam konteks kepenulisan di Indonesia pun demikian. Kita mengenal Ayu Utami yang melahirkan karya Saman dan Larung. Ada pula Dewi Lestari dengan Supernova. Begitu pula Fira Basuki.

Dalam kelompok penulis anak-anak, Sri Izzati telah menasbihkan diri sebagai penulis termuda. Berbagai karya telah lahir dari Si Bocah Ajaib ini. Bocah perempuan yang mampu menghasilkan karya termasuk novel dalam ratusan halaman.

Menulis menjadi salah satu keterampilan berbahasa mendapat cap sulit bagi sebagian besar orang. Chaedar Alwasilah yang melakukan penelitian terhadap mahasiswa Indonesia di Amerika juga menemukan bahwa mahasiswa Indonesia di sana mengalami kesulitan dalam menulis makalah ataupun tesis. Menulis dan berbicara memang merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, berbeda dengan membaca dan mendengarkan yang bersifat resektif.   

Nampaknya, kecintaan menulis akan menjadi tantangan tersendiri utamanya bagi guru. Ya..menanamkan kecintaan bagi anak-anak untuk mencintai kegiatan tulis menulis. Menanamkan kecintaan untuk menekuti kegiatan tulis menulis utamanya bagi anak laki-laki.

Memperkenalkan menulis dan menunjukkan manfaat menulis bagi mereka layak menjadi prioritas. Mungkin ketidaktertarikan mereka disebabkan ketidaktahuan, mungkin juga karena menulis dianggap tidak menarik.  Satu hal yang utama yang lainnya adalah memberikan teladan. Menulis..!Menulis..Menulis..! Menulis kemudian mengajak mereka menulis. Bukan sebaliknya mengajak menulis, tetapi tidak mampu menunjukkan tulisan. Ini masalah keteladanan.

Sebagai laki-laki, rasanya kita harus malu jika kelak yang mampu menghasilkan tulisan hanya perempuan. Mudah-mudahan ini tidak terjadi.