Sorowako, Jauh Dari Kota Dekat Dihati

 

Perjumpaan saya dengan Sorowako bermula di suatu hari pada bulan September 2001. Kala itu, hatiku sedang dilanda kepanikan sebagai pengangguran yang baru saja lahir dari ‘rahim’ perguruan tinggi. Walaupun banyak orang mengatakan bahwa panik sebagai sarjana baru itu biasa saja, namun perasaaan was-was tetap saja melanda diriku. Hingga akhirnya tawaran untuk bergabung dengan Yayasan Pendidikan Soroako langsung ‘kusambar’ seketika.

Sorowako? Sebuah kata yang penuh tanya kala itu. Sebuah tempat yang hanya pernah kudengar ataupun kubaca melalui tulisan. Sama sekali saya belum pernah mampir, walaupun sejenak. Tetapi, sekali lagi, karena dorongan untuk segera merengkuh satu pekerjaan membuatku tidak perlu berpikir panjang untuk membayangkannya.           

Ketika akhirnya aku berangkat memulai petualangan di kota nikel ini, aku mulai membayangkan Sorowako sebagai satu kota yang penuh dengan hiruk pikuk. Angkutan umum dan kendaraan yang lalu lalang. Becak memenuhi sudut-sudut jalan. Mobilitas warga beraktifitas yang sangat tinggi. Ringkasnya, aku membayangkan suasana kehidupan kota pada umumnya. Akhirnya, kekhawatiran yang muncul dalam benak saya kala itu adalah takut tersesat.            

Informasi dari sejumlah media yang menyebutkan bahwa di Sorowako merupakan daerah operasi salah satu perusahaan pertambangan yang berbasis di Kanada semakin menambah ketegangan dalam diriku. “Sorowako bagaimana ya?,” itu pertanyaan yang selalu mampir dibenakku ketika berada di dalam pesawat. “Kalau pesawat ini mendarat, bagaimana saya menemukan YPS? Bisakah saya temukan?,” tanya saya dalam hati. Maklum saja, ketika itu komunikasi dengan telepon gengam (hand phone) masih menjadi barang langkah, termasuk di Sorowako.           

Ketika akhirnya pesawat mendarat, seseorang yang mengaku sebagai penjemput menjadi penawar ketegangan. “Selamat  saya, tidak tersesat,” kata saya kala itu. Hingga akhirnya mobil jemputan bergerak meninggalkan bandara. Rute bandara ke Pontada kuamati seksama kiri dan kanan.  Saya melihat sebuah suasana yang justru mirip dengan kehidupan desa. Suasana hati saya kembali diliputi tanda tanya, “Ah…Inikah Sorowako?”. Dalam hati, saya berpikir  bandara Sorowako berada jauh di luar kota. Saya berucap, “Ini desa yang dilewati sebelum tiba di Kota Sorowako,”. Hingga akhirnya mobil berhenti dan sang sopir mengatakan saya sudah sampai dan inilah Sorowako. “Ohh…Sorowako begini toh..,” kata saya dalam hati. Sama sekali tidak seperti yang kubayangkan, penuh hiruk pikuk, kendaraan lalu lalang, atau kemungkinan saya bisa tersesat. Becak? Satu pun tak ada. Sorowako, tak seperti yang kubayangkan.

***           

Petualangan saya di Sorowako terus berlangsung dari waktu ke waktu. Tak terasa kini sudah diujung tahun keenam saya bersama ‘kota’ ini. Enam tahun menjadi waktu yang sangat saya nikmati. Keramahan warga, keindahan alam, suasana yang aman dan nyaman, serta fasilitas olah raga yang melimpah itulah yang saya nikmati selama ini. Bagi saya, Sorowako dengan segala keterbatasannya, seperti berada ‘di hutan’, terpencil, dan kebutuhan ekonomi yang tinggi tetap menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni.           

Kenyamanan yang kurasakan bersama kota nikel ini, membuatkan sebuah tekad untuk tetap bersamanya. Bahkan saya bertekad untuk terus mencatatkan kenangan demi kenangan sebagai penanda bahwa saya pernah menjadi bagian dari Sorowako. Obsesi saya untuk mencatat kenangan dan memberikan tanda bahwa saya pernah menjejakkan kaki di kota yang indah ini salah satunya telah terwujud. Dua buah hati saya yang telah lahir, semuanya menggunakan kota Sorowako sebagai kota kelahiran. Kelak jika saya mengakhiri tugas di Sorowako, inilah kenangan terbesar yang saya miliki.            

Kelahiran Nabil dan Nadiah, putra putri kami yang keduanya menyaksikan fajar kehidupan dunia untuk pertama kalinya di Sorowako merupakan harapan kami yang restui oleh Allah. Kelak kami ingin mengenang Sorowako dengan sedekat-dekatnya. Oleh karena itu, keinginan mencatatkan tempat kelahiran mereka dengan kota Sorowako begitu kuat. Jauh lebih kuat dibandingkan ajakan keluarga untuk mencatatkan kota kelahiran keduanya dengan kampung halaman, seperti bapak dan ibunya.           

Satu mitos yang dipercaya sebagian masyarakat dan berkembang dari mulut ke mulut bahwa barang siapa yang datang ke Sorowako dan meminum air Danau Matano maka suatu ketika ia akan kembali ke Sorowako. Kadang kala saya pun juga berpikir, apakah ketika pertama kali ke Sorowako saya terlalu banyak meminum air danau sehingga selalu nyaman berada di sini. Ataupun apakah akumulasi air Danau Matano yang saya minum dari hari ke hari hingga enam tahun ini sudah ‘berkarat’ dalam diri saya sehingga rasanya ingin hidup sampai ‘berkarat’ pula di kota ini.

***

Bagi saya Sorowako merupakan sebuah kota yang sejuk. Bukan hanya dari kesejukan alamnya, namun yang lebih utama adalah kesejukan warganya. Keramah-tamahan warganya dan kekeluargaan yang tinggi menjadi daya tarik untuk tetap betah di kota ini. Di kota tambang ini saya merasa torang samua basudara.Itu pula yang membuat saya merasa bangga menjadi warga Sorowako. Betapa tidak, kota ini tidak berlebihan jika dikatakan sebagai Indonesia mini. Berbagai suku, agama, etnik, bahkan warga asing hadir di sini untuk mencatatkan dirinya sebagai warga Sorowako. Sorowako kota bhineka tunggal ika. Namun, di dalam kebhinekaannya, kenyamanan dan kedamaian tetap terjaga.

Kesejukan alamnya menjadi hidangan setiap hari bagi saya. Sorowako kota yang indah telah dikenal warga secara luas, itu pula yang saya rasakan. Bagi saya ini salah satu penyebab sehinga betah untuk terus berkarya di kota ini. Lokasi yang terpencil, jauh dari keramaian, tak ada mall, dan berada di hutan diimbangi dengan keindahan alam dan kesejukan warganya. Sorowako memang jauh dari kota, namun selalu dekat di hati.Catatan: Naskah ini disiapkan dalam rangka mengikuti lomba menulis “Soroako dan Saya” yang dilaksanakan www.sorowako.net

11 Tanggapan

  1. sorowako benar2 tempat yang bagus tuk membangun keluarga yah? kenapa awalnya pake AKU, bagian tengah dan akhir pake SAYA? atau gimana maksudnya?

  2. Rindu ni pengen ke soroako lagi🙂

  3. saya akui sorowako memang indah..
    3 tahun bukan waktu yang singkat bagi saya untuk menilai kota ini..
    sorowako memang benar-benar kota idaman..
    bagi orang-orang yang mau menikmati ketentraman hati,,tidak aa salahnya berkunjung di kota ini..
    SOROWAKO IS THE BEST..

  4. sorowako nggak ada duanya di dunia.aku sudah nginjak 5 benua,nggak ada yg sm dgn soroako.

  5. SOROWAKO BOSAAANNNNNN……

  6. Saya besar disorowako…..walaupun saya tidak lahir disana….saya merasa itulah kampung saya……..saya rindu mau pulang keSorowako………..miss you sorowako……

  7. Aku udah lama ninggalin sorowako udah 6 bulan yang lalu aku pengen and rindu berenag di danau, rindu akan keindahan alammu

  8. pak sultan, ini kiki. alumni tk-sd-smp-sma yps soroako. hehehe…senang deh ketemu blognya pak sultan ^^

  9. wahhhhh,,,,memang terakui soroako mang indah,,,,tanah kelahiranku,,,,,sekarang aku di india,,,,,tapi lebih kesemsem tinggal di soroako!!!!!!
    salam kenal semuanya,,,,kangen nich ma teman2 soroako…….

  10. Tulisan yang bagus, Pak Guru. Saya senang ada guru seperti Bapak di tanah Sorowako. Sama seperti putra putri Bapak, yg lahir dan menikmati masa kecil di Sorowako, saya juga begitu. Bagi saya, semua guru di sorowako memiliki peran penting bagi pertumbuhan moral dan karakter. saya bisa seperti sekarang ini karena jasa mereka semua.
    Salut untuk Bapak Guru dan semua guru di Sorowako.

  11. Sudah lama tidak injak kota sorowako.
    SOROWAKO IS THE BEST

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: