Kekerasan di Lembaga Pendidikan sebagai Bagian Problem Sosial

Aksi kekerasan kembali terjadi di Universitas Negeri Makassar (UNM) awal pekan lalu sebagaimana dilansir harian terbitan Makassar. Sekelompok orang menyerang mahasiswa di kampus ini. Kejadian tersebut merupakan rentetan aksi kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan kita. Kejadian serupa juga telah menimpa sejumlah perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya. Di STPDN, aksi kekerasan di kampus pencetak birokrat ini malah menjadi polemik yang berujung kepada tuntutan pembuburan lembaga pendidikan tersebut. Bahkan, lembaga pendidikan tinggi yang memiliki reputasi baik di pulau Jawa pun mengalami hal yang sama, seperti kasus yang terjadi di UGM baru-baru ini. Di level sekolah menengah, aksi kekerasan antar pelajar pun seringkali terjadi.   

Aksi kekerasan oleh pelajar (baca; siswa dan mahasiswa) telah menimbulkan kerugian yang  besar. Bukan hanya materi yang hilang, nyawa pun melayang. Fenomena  menyimpang ini membuat kita resah sekaligus bertanya-tanya. Masalah apa gerangan yang membuat anak-anak bangsa  yang mengaku agen perubahan  menjadi ganas dan beringas? Bukankah setiap saat mereka belajar nilai-nilai moral dan religius? Bukankah mereka juga yang menyebut dirinya sebagai generasi masa depan bangsa? 

Fenomena kekerasan dalam lembaga pendidikan seolah memberikan gambaran bahwa kita sebagai bangsa sungguh lemah dalam mengendalikan emosi. Bangsa ini tumbuh tidak hanya menjadi bangsa yang miskin pengetahuan tetapi juga mengalami kemerosotan nilai-nilai moral. Kita kehilangan kepekaan terhadap sesama, kasih sayang,  penghargaan, dan budaya malu. Nilai-nilai kemanusian kita hilang, sebaliknya yang tumbuh adalah jiwa dan watak yang keras. Permusuhan tumbuh subur dan melembaga. Mereka mungkin juga lupa bahwa kita adalah manusia yang hadir dengan aneka perbedaan, bermacam-macam warna, dan banyak kepentingan. Kekerasan di lembaga pendidikan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Akar masalahnya harus segera ditemukan untuk dijadikan brainstorming dalam rangka mencari pemecahan masalah. 

Menurut hemat penulis, ada sejumlah problem sosial  yang melatarbelakangi seringnya terjadi tindakan kekerasan dewasa ini. Pertama, aksi kekerasan pelajar merupakan refleksi kehidupan sosial bangsa saat ini. Bukankah konflik terus berkecamuk dalam keseharian kita. Konflik antar anggota masyarakat maupun konflik antar elit politik. Hampir setiap saat kita disuguhi  pengalaman hidup yang mengerikan seperti merusak ataupun membakar. Masyarakat kita, termasuk pelajar tumbuh dalam arena kekerasan. Akibatnya, mereka cenderung menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan permasalahannya.  

Kedua, kegagalan institusi pendidikan membentuk generasi yang berakhlak mulia. Keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai instituís pendidikan memegang peranan untuk menciptakan generasi yang memiliki “kecerdasan social” (social intelligence).  Kecerdasan sosial dalam arti kemampuan untuk membawa diri dalam lingkungan pergaulan yang luas, menjalin interaksi secara komunikatif, memahami adanya perbedaan, dan memiliki rasa peka terhadap sesama.

Paolo Freire, tokoh pendidikan masyarakat marjinal mengatakan bahwa inti pendidikan adalah penyadaran diri peserta didik kepada dirinya sendiri, orang lain, dan masyarakat.  Sebuah konsep pendidikan yang ideal dan sangat menyejukkan. Jika gagasan Freire ini dapat terwujud dari proses pendidikan kita, maka kehidupan bangsa ini insya Allah akan menjadi indah.  Kekerasan di lembaga pendidikan merupakan refleksi ketidakmampuan generasi kita untuk menyadari dirinya dan memahami orang lain. Egoisme untuk selalu “dipahami” lebih dominan ketimbang ketulusan untuk “menyadari” keberadaan dan kebutuhan orang lain. Kesadaran untuk “mengerti” tenggelam oleh keinginan untuk selalu “dimengerti”.  

Kekerasan di lembaga pendidikan menjadi cerminan susahnya melahirkan generasi yang cerdas dan kreatif. Orang cerdas dalam arti orang yang selalu menggunakan nalarnya secara benar dan obyektif, sedangkan orang kreatif adalah orang yang mempunyai banyak pilihan untuk memenuhi kepentingan dengan kemampuan pilihan yang tepat di luar cara-cara kekerasan (Abdul Munir Mulkan, 2002).  Dari paparan ini, jelas bahwa pelajar cerdas tidak akan memilih aksi kekerasan sebagai alat menyelesaikan masalah. Inilah tantangan pendidikan kita di masa depan, yakni kemampuan melahirkan generasi yang “cerdas” dan “kreatif”.  

Ketiga, merosotnya nilai-nilai kemanusian. Kekerasan mengindikasikan menurunnya pemahaman akan nilai-nilai kemanusian dalam diri masyarakat. Perasaan halus, keluhuran budi, dan kesantuan dikuasai oleh nafsu dan emosi.   Keterasingan dari nilai kemanusian menyebabkan susahnya melahirkan solidaritas dan relationship yang kokoh. Padahal, menurut Dr. Sastraprateja  pendidikan  merupakan usaha untuk membangun power with (kekuatan bersama), yaitu kemampuan peserta didik membangun solidaritas atas dasar komitmen pada tujuan yang sama untuk memecahkan permasalahan. 

Masalah kekerasan di lembaga pendidikan dewasa ini merupakan masalah sosial. Oleh karena itu, penyelesainnya harus dikembalikan kepada lembaga yang memegang “tanggung jawab sosial”. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus memegang peranan aktif. Keluarga sebagai institusi pendidikan yang pertama dan utama harus mampu mendidik anak-anak menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur.  Pola asuh orang tua dengan pendekatan kasih sayang harus mampu mengajarkan cara hidup bersama (life together) 

Sekolah sebagai institusi pendidikan formal dituntut tanggap dan cekatan dalam melakukan redefinisi pembelajaran nilai-nilai moral dan religius. Ruang-ruangan kelas harus dijadikan sebagai laboratorium penerapan nilai humanisme. Pendidikan moral bukan hanya sebagai rutinitas dan pemenuhan kewajiban kurikulum. Pembelajaran moral dan religius harus menanamkan kesadaran untuk menghargai keberadaan dan keunikan, menumbuhkan sikap toleransi, kompromi, sikap akomodatif, dan negosiasi. Dari sisi religius, pemahaman tentang agama tidak hanya dimaknai sebagai ritual belaka, tetapi nilai-nilai agama harus dapat diimpelementasikan dalam realitas kehidupan. Dalam hal ini, Syafii Marief menggunakan istilah “kesalehan sosial” untuk memberi makna yang lebih dalam. 

Akhirnya, kita berharap akan lahir generasi yang antikekerasan dan memiliki “kecerdasan dan kesalehan sosial. Semoga!

4 Tanggapan

  1. Tulisan yang bagus. Saya akan jadikan salah satu referensi untuk tugas MPKT (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian) tentang Kekerasan di Lembaga Pendidikan Tinggi. Terima kasih.

    ~G. Mohammad.
    Fasilkom UI 2007

  2. aslmkm, izin kopi tulisannya pak..buat referensi dan dimuat di blog smart-net.co.nr

  3. keren banget tulisan anda….

  4. Saya setuju sekali dengan tulisan ini. Kami dari http://www.indi-smart.com mendukung segala upaya pencerdasan anak bangsa serta pendidikan budi pekerti. kunjungi kami dan bergabunglah segera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: