Lomba Menulis Tentang Soroako

Dalam rangka launching portal sorowako.net yang direncanakan pada tanggal 20 Agustus 2007, maka sorowako.net menyelenggarakan lomba menulis bagi warga Sorowako.

SYARAT TULISAN:

1.       Tema: “Sorowako dan Saya’

2.       Bentuk tulisan: featured-style news

3.       Panjang tulisan: Tidak diatur

4.       Batas akhir penyerahan naskah: 10 Agustus 2007.      

Naskah dikirim ke: 

         Agam Facthurrochman: fatchurrochmana@inco.com

         A.      Yani Esbe: achmady@inco.com 

Disiapkan hadiah menarik bagi pemenang.  

Portal sorowako.net akan dikembangkan dengan menganut jurnalisme participatory dengan memuat informasi aktual dari citizen reporter. Kompetisi ini merupakan awal dari upaya melibatkan warga sorowako menulis di portal sorowako.net.

Warga Soroako: Belajar Mengelola Media Komunitas dari Panyingkul

          Jurnalisme participatory kini berkembang sebagai trend baru dunia jurnalistik. Sebuah model pengelolaan media berbasis warga yang dikenal dengan citizen journalism. Melalui citizen reporter, berbagai informasi aktual dapat terpublikasi ke publik dengan cepat. Citizen reporter yang notabene merupakan orang biasa bekerja layaknya wartawan dalam melaporkan suatu informasi. Ya, jurnalisme dari warga untuk warga!

Jurnalisme model baru ini telah berkembang dengan pesat di Amerika, Korea, dan sejumlah negara lainnya. Makassar pun tidak ketinggalan, melalui www.panyingkul.com berbagai tulisan orang biasa (baca; bukan jurnalis) tersaji dengan apik dari hari ke hari.

          Jurnalisme participatory telah menjadi media alternatif penyediaan informasi bagi masyarakat. Bahkan, model jurnalisme masa depan ini dapat melakukan  ‘perlawanan’ terhadap media mainstream yang mendominasi penyajian infomasi saat ini.

Untuk mendorong perkembangan jurnalisme parcipatory di kalangan masyarakat Soroako, beberapa hari lalu dilakukan Workshop Menulis dan Pengelolaan Media Komunitas. Workshop dipandu duet pendiri Panyingkul!, Lily Yulianti dan Farid Ma’ruf Ibrahim serta Miss Panyingkul, Nilam Indahsari. Peserta workshop datang berbagai profesi, seperti guru, perawat, karyawan PT INCO, ibu rumah tangga, dan pelajar.

Pemmali dan Maknanya dalam Masyarakat Bugis

 Pemmali merupakan istilah dalam masyarakat Bugis yang digunakan untuk menyatakan larangan kepada seseorang yang berbuat dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai. Pemmali dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi pemali yang memiliki makna pantangan, larangan berdasarkan adat dan kebiasaan.  

Masyarakat Bugis meyakini bahwa pelanggaran terhadap pemmali akan mengakibatkan ganjaran atau kutukan. Kepercayaan masyarakat Bugis terhadap pemmali selalu dipegang teguh. Fungsi utama pemmali adalah sebagai pegangan untuk membentuk pribadi luhur. Dalam hal ini pemmali memegang peranan sebagai media pendidikan budi pekerti. 

Bentuk-bentuk Pemmali

Pemmali dalam masyarakat Bugis dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemmali dalam bentuk perkataan dan pemmali dalam bentuk perbuatan.  

1. Pemmali bentuk perkataan

Pemmali bentuk ini berupa tuturan atau ujaran. Biasanya berupa kata-kata yang dilarang atau pantang untuk diucapkan. Kata-kata yang pantang untuk diucapkan disebut kata tabu. Contoh kata tabu yng merupakan bagian pemmali berbentuk perkataan, misalnya balawo ‘tikus’, buaja ‘buaya’, guttu ‘guntur’. Kata-kata tabu seperti di atas jika diucapkan diyakini akan menghadirkan bencana atau kerugian. Misalnya, menyebut kata balawo (tikus) dipercaya masyarakat akan mengakibatkan gagal panen karena serangan hama tikus. Begitupula menyebut kata buaja ‘buaya’ dapat mengakibatkan Sang Makhluk marah sehingga akan meminta korban manusia.

Untuk menghindari penggunaan kata-kata tabu dalam berkomunikasi, masyarakat Bugis menggunakan eufemisme sebagai padanan kata yang lebih halus. Misalnya, kata punna tanah ‘penguasa tanah’ digunakan untuk menggantikan kata balawo, punna uwae  ‘penguasa air’ digunakan untuk menggantikan kata buaja. 2.       

2. Pemmali bentuk perbuatan atau tindakan

Pemmali bentuk perbuatan atau tindakan merupakan tingkah laku yang dilarang untuk dilakukan guna menghindari datangnya bahaya, karma atau berkurangnya rezeki.             

Beberapa contoh pemmali dan maknanya.           

(1) Riappemmalianggi ana’ daraE makkelong ri dapurennge narekko mannasui. 

Terjemahan:  Pantangan bagi seorang gadis menyanyi di dapur apabila sedang memasak atau menyiapkan makanan. 

Masyarakat Bugis menjadikan pantangan menyanyi pada saat sedang memasak bagi seorang gadis. Akibat yang dapat ditimbulkan dari pelanggaran terhadap larangan ini adalah kemungkinan sang gadis  akan mendapatkan jodoh yang sudah tua. Secara logika, tidak ada hubungan secara langsung antara menyanyi di dapur dengan jodoh seseorang. Memasak merupakan aktivitas manusia, sedangkan jodoh merupakan faktor nasib, takdir, dan kehendak Tuhan.Jika dimaknai lebih lanjut, pemmali di atas sebenarnya memiliki hubungan erat dengan masalah kesehatan. Menyanyi di dapur dapat mengakibatkan keluarnya ludah kemudian terpercik ke makanan. Dengan demikian prilaku menyanyi pada saat memasak dapat mendatangkan penyakit. Namun, ungkapan atau larangan yang bernilai bagi kesehatan ini tidak dilakukan secara langsung, melainkan diungkapkan dalam bentuk pemmali.                    

(2) Deq nawedding anaq daraE matinro lettu tengga esso nasabaq labewi dalleqna.         

Terjemahan: Gadis tidak boleh tidur sampai tengah hari sebab rezeki akan berlalu.

Bangun tengah hari melambangkan sikap malas. Apabila dikakukan oleh gadis, hal ini dianggap sangat tidak baik. Jika seseorang terlambat bangun, maka pekerjaannya akan terbengkalai sehingga rezeki yang bisa diperoleh lewat begitu saja. Terlambat bangun bagi gadis juga dihubungkan dengan kemungkinan mendapatkan jodoh. Karena dianggap malas, lelaki bujangan tidak akan memilih gadis seperti ini menjadi istri. Jodoh ini merupakan salah satu rezeki yang melayang karena terlambat bangun.

Dari tinjauan kesehatan, bangun tengah hari dapat mengakibatkan kondisi fisik menjadi lemah. Kondisi yang lemah menyebabkan perempuan (gadis) tidak dapat beraktivitas menyelesaikan kebutuhan rumah tangga. Masyarakat Bugis menempatkan perempuan sebagai pemegang kunci dalam mengurus rumah tangga. Perempuan memiliki jangkauan tugas yang luas, misalnya mengurus kebutuhan suami dan anak. 

(3) Riappemmalianggi matinro  esso taue ri sese denapa natabbawa ujuna taumate engkae ri bali bolata. 

Terjemahan:Pantangan orang tidur siang jika  jenazah yang ada di tetangga kita belum diberangkatkan ke kuburan. 

Pemali ini menggambarkan betapa tingginya penghargaan masyarakat Bugis terhadap sesamanya. Jika ada tetangga yang meninggal, masyarakat diharapkan ikut mengurus. Masyarakat biasanya berdatangan ke tempat jenazah disemayamkan untuk memberikan penghormatan terakhir dan sebagai ungkapan turut berduka cita bagi keluarga yang ditinggalkan. Masyarakat yang tidak dapat melayat jenazah karena memiliki halangan dilarang untuk tidur sebelum jenazah dikuburkan.  Mereka dilarang tidur untuk menun-jukkan perasaan berduka atau berempati dengan suasana duka yang dialami keluarga orang yang meninggal. 

(4)   Pemmali mattula bangi tauwe nasabaq macilakai  

Terjemahan: Pantangan bertopang dagu sebab akan sial. 

Bertopang dagu menunjukkan sikap seseorang yang tidak melakukan sesuatu. Pekerjaannya hanya berpangku tangan. Perbuatan ini mencerminkan sikap malas. Tidak ada hasil yang bisa didapatkan karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan. Orang yang demikian biasanya hidup menderita. Ia dianggap sial karena tidak mampu melakukan pekerjaan yang mendatangkan hasil untuk memenuhi kebutuhannya. Ketidakmampuan tersebut mengakibatkan hidupnya menderita.   

(5)   Pemmali lewu moppang ananaE nasabaq magatti mate indoqna.

Terjemahan: Pemali anak-anak berbaring tengkurap sebab ibunya akan cepat meninggal. 

Tidur tengkurap merupakan cara tidur yang tidak biasa. Cara tidur seperti ini dapat mengakibatkan ganguan terhadap kesehatan, misalnya sakit di dada atau sakit perut. Pemali ini berfungsi mendidik anak untuk menjadi orang memegang teguh etika, memahami sopan santun, dan menjaga budaya. Anak merupakan generasi yang harus dibina agar tumbuh sehingga ketika besar ia tidak memalukan keluarga. 

(6)   Pemmali kalloloe manrewi passampo nasabaq iyaro nasabaq ipancajiwi passampo siri  

Terjemahan:Pemali bagi remaja laki-laki menggunakan penutup sebagai alat makan sebab ia akan dijadikan penutup malu. 

Laki-laki yang menggunakan penutup benda tertentu(penutup rantangan, panci, dan lainnya) sebagai alat makan akan menjadi penutup malu. Penutup malu maksudnya menikahi gadis yang hamil di luar nikah akibat perbuatan orang lain. Meskipun bukan dia yang menghamili, namun dia yang ditunjuk untuk mengawini atau bertanggungjawab. Inti pemali ini adalah memanfaatkan sesuatu sesuai fungsinya.

Menggunakan penutup (penutup benda tertentu) sebagai alat makan tidak sesuai dengan etika makan. Penutup bukan alat makan. Orang yang makan dengan penutup merupakan orang yang tidak menaati sopan santun dan etika makan. Akibat lain yang ditimbulkan jika menggunakan penutup sebagai alai makan adalah debu akan terbang masuk ke makanan. Akhirnya,  makanan yang ada di wadah tertentu menjadi kotor karena tidak memiliki penutup. Hal ini sangat tidak baik bagi kesehatan karena dapat mendatangkan penyakit. 

(7)   Pemmali saleiwi inanre iyarega  uwae pella iya puraE ipatala nasabaq mabisai nakenna abalaq   Terjemahan: Pemali meninggalkan makanan atau minuman yang sudah dihidangkan karena biasa terkena bencana.    

Pemali ini memuat ajaran untuk tidak meninggalkan makanan atau minuman yang telah dihidangkan. Meninggalkan makanan atau minuman yang sengaja dibuatkan tanpa mencicipinya adalah pemborosan. Makanan atau minuman yang disiapkan itu menjadi mubazir. Makanan bagi masyarakat Bugis merupakan rezeki besar. Orang yang meninggalkan makanan atau minuman tanpa mencicipi merupakan wujud penolakan terhadap rezeki. Selain itu, menikmati makanan atau minuman yang dihidangkan tuan rumah merupakan bentuk penghoramatan seorang tamu terhadap tuan rumah. Meninggalkan makanan dapat membuat tuan rumah tersing-gung.

Berdasarkan beberapa contoh yang dipaparkan di atas, pemmali dapat dikategorikan ke dalam beberapa bagian, yaitu menurut jenis kelamin, usia, atau bidang kegiatan. Pemmali dalam masyarakat bugis merupakan nilai budaya yang syarat dengan muatan pendidikan. Pemmali umumnya memiliki makna yang berisi anjuran untuk berbuat baik. Baik itu perbuatan yang dilakukan terhadap sesama maupun perbuatan untuk kebaikan diri sendiri. Pemmali sangat kaya nilai luhur dalam pergaulan, etika, kepribadian, dan sopan santun.Melihat tujuannya yang begitu luhur, pemmali merupakan nilai budaya bugis yang mutlak untuk terus dipertahankan.   

Sumber:

1.      Suriana. Makna Pemmali dalam Masyarakat Bugis Soppeng.

2.      Sulo, Hartati. Makna Pemmali dalam Masyarakat Petani di Kabupaten Soppeng.

3.      Mattulada. Kebudayaan, Kemanusian, dan Lingkungan.             

Padungku: Ekspresi Lokal dalam Serbuan Budaya Modern

Beberapa hari lalu, warga Soroako, utamanya yang berprofesi sebagai petani menggelar sebuah ritual budaya yang dikenal dengan Padungku. Padungku merupakan pesta panen yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh. Warga Soroako dewasa ini menggelar ritual Padungku setiap dua kali panen.

Dalam ritual ini, masyarakat berkumpul dan bergembira menikmati sajian makanan dan hiburan musik bambu (pebambu) serta menumbuk lesun. Pertunjukan menunbuk lesun, yang dalam bahasa Soroako dikenal dengan nohu bangka dimainkan oleh kelompok ibu-ibu. Nohu bangka ini merupakan pertunjukan yang serupa dengan Mappadendang dalam pesta panen di masyarakat bugis. Pada malam hari, ritual Padungku biasanya diisi dengan dero (tarian tradisional warga setempat dan juga di wilayah Sulawesi Tengah yang dilakukan dengan berpegang tangan sambil membuat formasi melingkar diiringi dengan lagu).

Kelestarian budaya Padungku dalam masyarakat Soroako yang terjaga hingga saat ini patut diapresiasi. Menjaga budaya lokal tetap lestari memang menjadi keharusan. Namun, dalam hal eksistensi Padungku di masyarakat Soroako, rasanya ini menjadi hal yang di luar biasa. Beberapa alasan yang dapat dikemukakan.  

Pertama, masyarakat Soroako dewasa ini sesungguhnya bukan lagi masyarakat pertanian, melainkan masyarakat industri. Masyarakat yang menekuni bidang pertanian jauh lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat yang menggantungkan hidup dari industri. Masyarakat Soroako umumnya merupakan pekerja di bidang pertambangan pada PT INCO Tbk dan sejumlah perusahaan lainnya. Meskipun budaya Padungku sesungguhnya dimiliki dan dilestarikan masyarakat lokal, namun perubahan pola hidup masyarakat Soroako secara umum paling tidak akan membawa pengaruh terhadap eksistensi budayanya. Apalagi era industri di Soroako telah berlangsung sejak lama yang ditandai dengan kehadiran PT INCO Tbk sejak tahun 1968 untuk memulai kegiatan eksplorasi. Ini adalah rentang waktu yang cukup lama yang paling tidak akan membawa implikasi terhadap kebiasaan dan budaya masyarakat.

Kedua, masyarakat Soroako adalah masyarakat yang majemuk. Sebutan Indonesia mini mungkin tidak terlalu berlebihan bagi kota kecil ini. Mengapa demikian? Ya, Soroako adalah kota kecil yang dihuni oleh masyarakat yang berasal dari berbagai etnik, ras, dan juga agama. Tidak terkecuali warga asing. Nah, kedatangan mereka ke Soroako tentu dibarengi dengan kehadiran budaya masing-masing. Namun, Padungku sebagai produk budaya lokal tetap eksis dan terjaga di masyarakat.

Ketiga, serbuan budaya global yang semakin edan. Meskipun berada di ‘hutan’ (baca; pedalaman), namun masyarakat Soroako tidak lepas dari penetrasi budaya modern. Ini dimungkinkan dengan akses informasi dan kemajuan teknologi  yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.  Dari sisi pemanfataan teknologi informasi, warga Soroako cukup melek teknologi.

Tiga alasan ini dapat menguatkan bahwa eksistensi budaya Padungku sebagai budaya lokal yang terjaga hingga saat ini patut diapresiasi. Namun, tantangan keberadaan Padungku saat ini adalah menanamkannya menjadi nilai budaya bagi generasi muda Soroako. Dengan demikian eksistensi budaya ini akan semakin terjaga.

Kekerasan di Lembaga Pendidikan sebagai Bagian Problem Sosial

Aksi kekerasan kembali terjadi di Universitas Negeri Makassar (UNM) awal pekan lalu sebagaimana dilansir harian terbitan Makassar. Sekelompok orang menyerang mahasiswa di kampus ini. Kejadian tersebut merupakan rentetan aksi kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan kita. Kejadian serupa juga telah menimpa sejumlah perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya. Di STPDN, aksi kekerasan di kampus pencetak birokrat ini malah menjadi polemik yang berujung kepada tuntutan pembuburan lembaga pendidikan tersebut. Bahkan, lembaga pendidikan tinggi yang memiliki reputasi baik di pulau Jawa pun mengalami hal yang sama, seperti kasus yang terjadi di UGM baru-baru ini. Di level sekolah menengah, aksi kekerasan antar pelajar pun seringkali terjadi.   

Aksi kekerasan oleh pelajar (baca; siswa dan mahasiswa) telah menimbulkan kerugian yang  besar. Bukan hanya materi yang hilang, nyawa pun melayang. Fenomena  menyimpang ini membuat kita resah sekaligus bertanya-tanya. Masalah apa gerangan yang membuat anak-anak bangsa  yang mengaku agen perubahan  menjadi ganas dan beringas? Bukankah setiap saat mereka belajar nilai-nilai moral dan religius? Bukankah mereka juga yang menyebut dirinya sebagai generasi masa depan bangsa? 

Fenomena kekerasan dalam lembaga pendidikan seolah memberikan gambaran bahwa kita sebagai bangsa sungguh lemah dalam mengendalikan emosi. Bangsa ini tumbuh tidak hanya menjadi bangsa yang miskin pengetahuan tetapi juga mengalami kemerosotan nilai-nilai moral. Kita kehilangan kepekaan terhadap sesama, kasih sayang,  penghargaan, dan budaya malu. Nilai-nilai kemanusian kita hilang, sebaliknya yang tumbuh adalah jiwa dan watak yang keras. Permusuhan tumbuh subur dan melembaga. Mereka mungkin juga lupa bahwa kita adalah manusia yang hadir dengan aneka perbedaan, bermacam-macam warna, dan banyak kepentingan. Kekerasan di lembaga pendidikan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Akar masalahnya harus segera ditemukan untuk dijadikan brainstorming dalam rangka mencari pemecahan masalah. 

Menurut hemat penulis, ada sejumlah problem sosial  yang melatarbelakangi seringnya terjadi tindakan kekerasan dewasa ini. Pertama, aksi kekerasan pelajar merupakan refleksi kehidupan sosial bangsa saat ini. Bukankah konflik terus berkecamuk dalam keseharian kita. Konflik antar anggota masyarakat maupun konflik antar elit politik. Hampir setiap saat kita disuguhi  pengalaman hidup yang mengerikan seperti merusak ataupun membakar. Masyarakat kita, termasuk pelajar tumbuh dalam arena kekerasan. Akibatnya, mereka cenderung menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan permasalahannya.  

Kedua, kegagalan institusi pendidikan membentuk generasi yang berakhlak mulia. Keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai instituís pendidikan memegang peranan untuk menciptakan generasi yang memiliki “kecerdasan social” (social intelligence).  Kecerdasan sosial dalam arti kemampuan untuk membawa diri dalam lingkungan pergaulan yang luas, menjalin interaksi secara komunikatif, memahami adanya perbedaan, dan memiliki rasa peka terhadap sesama.

Paolo Freire, tokoh pendidikan masyarakat marjinal mengatakan bahwa inti pendidikan adalah penyadaran diri peserta didik kepada dirinya sendiri, orang lain, dan masyarakat.  Sebuah konsep pendidikan yang ideal dan sangat menyejukkan. Jika gagasan Freire ini dapat terwujud dari proses pendidikan kita, maka kehidupan bangsa ini insya Allah akan menjadi indah.  Kekerasan di lembaga pendidikan merupakan refleksi ketidakmampuan generasi kita untuk menyadari dirinya dan memahami orang lain. Egoisme untuk selalu “dipahami” lebih dominan ketimbang ketulusan untuk “menyadari” keberadaan dan kebutuhan orang lain. Kesadaran untuk “mengerti” tenggelam oleh keinginan untuk selalu “dimengerti”.  

Kekerasan di lembaga pendidikan menjadi cerminan susahnya melahirkan generasi yang cerdas dan kreatif. Orang cerdas dalam arti orang yang selalu menggunakan nalarnya secara benar dan obyektif, sedangkan orang kreatif adalah orang yang mempunyai banyak pilihan untuk memenuhi kepentingan dengan kemampuan pilihan yang tepat di luar cara-cara kekerasan (Abdul Munir Mulkan, 2002).  Dari paparan ini, jelas bahwa pelajar cerdas tidak akan memilih aksi kekerasan sebagai alat menyelesaikan masalah. Inilah tantangan pendidikan kita di masa depan, yakni kemampuan melahirkan generasi yang “cerdas” dan “kreatif”.  

Ketiga, merosotnya nilai-nilai kemanusian. Kekerasan mengindikasikan menurunnya pemahaman akan nilai-nilai kemanusian dalam diri masyarakat. Perasaan halus, keluhuran budi, dan kesantuan dikuasai oleh nafsu dan emosi.   Keterasingan dari nilai kemanusian menyebabkan susahnya melahirkan solidaritas dan relationship yang kokoh. Padahal, menurut Dr. Sastraprateja  pendidikan  merupakan usaha untuk membangun power with (kekuatan bersama), yaitu kemampuan peserta didik membangun solidaritas atas dasar komitmen pada tujuan yang sama untuk memecahkan permasalahan. 

Masalah kekerasan di lembaga pendidikan dewasa ini merupakan masalah sosial. Oleh karena itu, penyelesainnya harus dikembalikan kepada lembaga yang memegang “tanggung jawab sosial”. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus memegang peranan aktif. Keluarga sebagai institusi pendidikan yang pertama dan utama harus mampu mendidik anak-anak menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur.  Pola asuh orang tua dengan pendekatan kasih sayang harus mampu mengajarkan cara hidup bersama (life together) 

Sekolah sebagai institusi pendidikan formal dituntut tanggap dan cekatan dalam melakukan redefinisi pembelajaran nilai-nilai moral dan religius. Ruang-ruangan kelas harus dijadikan sebagai laboratorium penerapan nilai humanisme. Pendidikan moral bukan hanya sebagai rutinitas dan pemenuhan kewajiban kurikulum. Pembelajaran moral dan religius harus menanamkan kesadaran untuk menghargai keberadaan dan keunikan, menumbuhkan sikap toleransi, kompromi, sikap akomodatif, dan negosiasi. Dari sisi religius, pemahaman tentang agama tidak hanya dimaknai sebagai ritual belaka, tetapi nilai-nilai agama harus dapat diimpelementasikan dalam realitas kehidupan. Dalam hal ini, Syafii Marief menggunakan istilah “kesalehan sosial” untuk memberi makna yang lebih dalam. 

Akhirnya, kita berharap akan lahir generasi yang antikekerasan dan memiliki “kecerdasan dan kesalehan sosial. Semoga!

Soroako yang Indah

Soroako mungkin begitu asing di telinga Anda. Jika demikian, itu wajar saja. Karena Soroako hanyalah satu kota kecil bahkan mungkin lebih tepat jika disebut desa yang berada di tengah belantara hutan di kawasan pertambangan PT International Nickel Indonesia Tbk. Satu wilayah yang berada jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Bayangkan saja, jaraknya dengan ibu kota provinsi lebih dari 600 km atau satu jam perjalanan dengan pesawat terbang. Dengan perjalanan darat, oh..jauh lebih dahsyat lagi. Tidak kurang dari 13 jam harus dihabiskan dalam perjalanan.

Meskipun demikian, Soroako memiliki pesona alam yang sungguh sayang untuk dilewatkan. Soroako memiliki danau Matano dengan pemandangan yang begitu indah. Danau Matano menjadi objek hiburan paling populer dan nomor satu bagi warga Soroako yang didominasi para pekerja tambang. Disinilah tempat melepas kepenatan di tengah rutinitas kerja yang melelahkan.

Di pagi hari, Anda dapat menyaksikan matahari keluar dari balik bukit.  Sebuah pemandangan yang sungguh indah dan sayang untuk dilewatkan. Pantai Impian dan Pantai Ide adalah dua tempat favorit untuk menyaksikan fajar pagi di atas danau matano. Jika ingin menyaksikan Sang Surya kembali ke peraduannya, Pantai Kupu-kupu dan Pantai Salonsa adalah tempat yang paling tepat.

Selain menyanjikan keindahan danau Matano, Anda pun dapat menikmati keindahan perbukitan dan kota Soroako dari Bukit Butoh. Sebuah daerah ketinggian  yang lebih kenal dengan nama Pondok Cinta bagi kalangan pemuda-pemudi Soroako. Mengapa Pondok Cinta? Ya, karena di tempat kebanyakan kisah cinta muda-mudi Soroako mulai dirajuk. Dari sini Anda bisa memandang ke seluruh penjuru menikamati landscape Soroako. Mencapainya sungguh mudah. Joggig track dengan hiasan pepohonan nan hijau menghiasi di kiri dan kanan telah tersedia. Jalur yang menantang bahkan sudah menjadi hiburan tersendiri sebelum menggapai puncak Butoh.

Bagi Anda yang menyenangi tantangan, berkeliling atau menyeberangi Danau Matano adalah pilihannya. Dengan raft dan perahu tradisional (katinting) Anda dapat mengarungi danau danau terdalam di Indonesia. Di seberang Soroako, tepatnya di perkampungan Matano dan Nuha berbagai objek penuh keindahan menantikan kehadiran Anda setiap saat.Dari sumur hidup (mata air) hingga air terjun.

Di malam hari, Anda dapat berwisata dengan menikmati tumpahan slag di kawasan pabrik PT INCO. Mungkin pemadangan yang biasa saja, tetapi perlu dicatat bahwa pemandangan ini sungguh langkah untuk ditemukan di tempat lain.

Berbagai ‘suguhan’ alam inilah yang menjadi hiburan bagi warga Soroako. Sayangnya,pesona alam yang begitu indah ini belum banyak dikenal dan dinikmati masyarakat di luar kota Soroako. Dari sisi ekonomi pun belum mampu  keindahan alam ini belum mampu memberikan konstribusi yang signifikan.

Nah, Anda tertarik menyaksikannya? Berkunjunglah ke Soroako!