Masalah Kesejahteraan dan Pencitraan Profesi Guru

Sudah bukandsc00982.jpg rahasia umum lagi, jika sebagian dari kalangan pendidik hidup secara pas-pasan. Utamanya guru yang berstatus honores atau guru swasta. Tidak mengherankan jika banyak guru yang mencoba menekuni profesi sampingan. Sejumlah tenaga pendidik utamanya yang tinggal di daerah mencoba melakoni pekerjaan sampingan di luar tugas mengajar. Di Bandar Lampung, seorang guru  nyambi sebagai tukang becak karena gaji yang diterima Rp 126.000 per bulan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya (Kompas, 9 Mei 2006).  Di sisi lain, guru dituntut untuk tampil ideal dengan bekerja secara profesional  sekaligus menjadi ujung tombak perubahan seiring tuntutan dunia pendidikan yang berjalan sangat cepat. Akibatnya, guru seringkali menjadi kambing hitam atas kegagalan dalam pengelolaan pendidikan. Kurang profesional dan tidak kompeten merupakan contoh tudingan yang sering kali dialamatkan kepada guru.

Mohamad Surya (2002), Ketua PGRI mengakui imbalan jasa yang diterima oleh guru baik yang bersifat materi maupun nonmateri masih jauh dari tuntutan rasa kepuasaan guru. Meskipun sesungguhnya martabat dan harga diri guru tidak diukur dari aspek materi dan simbol-simbol lahiriah. Sedangkan Andreas Harefa menilai bahwa pemberian kesejahteraan yang tidak manuasiwi bagi guru merupakan tindakan penghinaan yang pada akhirnya akan mengkerdilkan jiwa kalangan pendidik.

                 Beberapa ekses negatif dapat ditimbulkan dari keterabaian nasib guru. Pertama, dapat berpengaruh terhadap mental dan kinerja guru.  Rendahnya kesejahteraan dapat menimbulkan mental asal kerja. Kegiatan mengajar hanya menjadi rutinitas belaka. Perhatian guru akan tersita pada upaya menutupi permasalahan ekonomi di luar profesi guru. Akibatnya, guru tidak dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan maksimal.                 Kedua, dapat menimbulkan  image negatif bagi profesi guru. Jika guru tidak memiliki jaminan kesejahteraan, maka profesi guru bisa jadi akan ditinggalkan. Keenggenan untuk menekuni profesi guru sudah mulai tampak saat ini. Animo masyarakat (baca: generasi muda) untuk menekuni jenjang pendidikan keguruan terlihat sangat kurang. Sebaliknya, peminat jalur pendidikan non-keguruan justru membludak. Salah satu alasan lulusan sekolah menengah tidak memilih jalur pendidikan keguruan ádalah kurangnya jaminan masa depan.  Hasil penelitian Balitbang Depdiknas menunjukkan bahwa salah penyebab rendahnya penguasaan guru terhadap mata pelajaran yang diajarkannya disebabkan mereka (guru) memasuki lembaga pendidikan guru hanya karena takut tidak dapat diterima di lembaga pendidikan tinggi lainnya (Soedijarto, 2002). Padahal, James B. Conant merekomendasikan agar mereka yang menjadi guru harus termasuk dalam 20% teratas lulusan sekolah menengah.Kita tidak ingin profesi guru dijadikan sebagai pilihan terakhir. Ia dipilih manakala tidak ada lagi profesi atau pilihan lain yang bisa didapatkan. Kita juga tidak ingin orang-orang yang menempuh pendidikan keguruan adalah hanya orang yang tidak lulus dari pilihan utamanya. Profesi guru membutuhkan orang-orang terbaik secara intelektual dan moral.                Sosok guru yang ideal dalam pandangan Mohamad Surya (2002) adalah memiliki semangat juang yang tinggi, mampu mewujudkan dirinya dalam keterkaitan dengan tuntutan dan perkembangan iptek, mampu belajar dan bekerja sama dengan profesi lain, memiliki etos kerja yang kuat, memiliki kejelasan dan kepastian pengembangan karier, berjiwa profesional tinggi, sejahtera lahir dan batin, berwawasan masa depan, dan mampu melaksanakan perannya secara terpadu.                Perbaikan nasib guru bukan merupakan tanggung jawab kaum guru semata. Peranan masyarakat dan pemerintah sangat besar untuk membangun citra profesi guru yang dibanggakan. Menurut penulis, tiga hal berikut merupakan faktor yang dapat menentukan martabat profesi guru.Pertama, kerja keras guru untuk memberikan nilai yang pantas bagi profesi guru. Profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi yang dilakukan oleh guru akan mengundang simpati masyarakat untuk memberikan apresiasi dan nilai terhadap profesi guru. Citra profesi yang baik diharapkan kelak membawa implikasi bagi kesejahteraan guru.Kedua,  komitmen pemerintah. Peningkatan kesejahteraan guru sangat tergantung dari komitmen pemerintah sebagai pihak yang menggaji guru. Kita menyadari bahwa kondisi negara kita saat ini tidak memungkinkan untuk memberikan gaji tinggi bagi semua pegawai. Meskipun demikian, kita bisa melihat bahwa ada banyak proyek yang sebetulnya tidak menyentuh kebutuhan masyarakat, ada banyak  pengeluaran negara yang tidak efisien yang hanya menghambur-hamburkan uang negara, dan ada banyak kebijakan  yang tidak berpihak pada rakyat. Kalau eksekutif dan legislatif di daerah dan di pusat memperoleh gaji besar, mengapa guru yang tinggal di daerah terpencil tidak bisa memenuhi kebutuhannya dari gaji yang diperoleh? Bukankah antara mereka sama-sama  melakukan pengabdian untuk bangsa. Guru tidak menuntut mobil dinas mewah seperti para elit pemerintahan tetapi hanya berharap biaya transportasi ke sekolah bisa terpenuhi.                 Ketiga, memperkuat posisi tawar organisasi profesi guru. Organisasi profesi guru harus memosisikan diri sebagai wadah perjuangan guru. Tanggap dalam menjemput aspirasi dan memperjuangkan kepentingan guru. Memiliki posisi tawar yang kuat serta ‘didengar’ oleh pihak pengambil kebijakan. Bukan sebaliknya memanfaatkan dan memperdaya guru untuk kepentingan tertentu.Esensi organisasi profesi adalah kemampuan organisasi itu untuk memperjuang-kan kepentingan anggotanya. Zamroni (2001) mengatakan bahwa perlu dikembangkan kesadaran akan hak-hak guru sehingga mereka dapat bereaksi manakala hak mereka terancam. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membentuk sebuah organisasi profesi yang mandiri. Payung hukum tentang hal ini pun sudah sangat jelas dalam pasal 41 Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Kita berharap kelak profesi guru akan menjadi profesi terhormat. Dari segi kesejahteraan mampu memberikan rasa aman terhadap kebutuhan secara moril dan materil. Semoga!

10 Tanggapan

  1. Mohamad Surya (2002), Ketua PGRI mengakui imbalan jasa yang diterima oleh guru baik yang bersifat materi maupun nonmateri masih jauh dari tuntutan rasa kepuasaan guru. Meskipun sesungguhnya martabat dan harga diri guru tidak diukur dari aspek materi dan simbol-simbol lahiriah. Sedangkan Andreas Harefa menilai bahwa pemberian kesejahteraan yang tidak manuasiwi bagi guru merupakan tindakan penghinaan yang pada akhirnya akan mengkerdilkan jiwa kalangan pendidik.

    waktu saya masih jadi penduduk Bogor, saya pilih pak Prof Suryo jadi anggota DPD di pemilu 2004…tp sa ndak tau sampe sekarang apa pengaruhnya beliau duduk di parlement…

    guru selayaknya mendapat kedudukan sosial yang lebih tinggi dari sekarang, sama halnya dgn dokter dan pengacara….namun sayang, sistem politik kita masih belum bisa menghargai….

  2. Ya … itulah Indonesia pak. Selama guru tidak mendapat tempat yang layak di masyarakat, pemdidikan kita tidak akan pernah maju. Semoga di masa depan keadaan bisa berubah. Terimakasih dan salam eksperimen.

  3. Saya berharap semoga pengajar-pengajar di indonesia tetap semangat membagi dan mengembangkan ilmunya walaupun dengan kondisi yang sangat mengkhwatirkan sekarang ini.
    Peran anda sangat berjasa besar buat negara.

  4. Setuju mas ipang, lewat blog ini salah satunya….

  5. makasih ya….
    aku ngambil artikelnya buat bahan kuliah

  6. Yupz., betul banget..!!
    Guru adalah Fondasi utama pendidikan di negara kita., makanya jangan anggap remeh pekerjaan sebagai guru karena tugas mereka sangat berat untuk mencerdaskan anak bangsa., Guru itu perlu diperhatikan kehidupannya bukan untuk di cemooh

  7. yups,,,,,,,,,betul betul betul……..
    Guru,,,,,,,,
    SeharusNya ditinggikan bukan direndahkan,,,,,
    tak ada guru,tak akan maju negara ini…….

  8. Peran guru memang sangat penting dalam dunia penddkn tapi peran ortu juga ngak kalah penting ,karna guru hanya mengajar disekolah dalam waktu tertentu sedangkan waktu anak dirumah lebih banyak dan orang tualah yang lebih banyak punya waktu untuk mengawasi anak-anaknya agar anak dapat berguna seperti yang kita inginkan .

  9. pertama kali…saya sempet kecewa dan jujur “sakit hati” saat tahu bahwa gaji sy sebagai guru jauh dibawah UMR… tp dg berlandaskan itikad membantu pendidikan indonesia dan khususnya pendidikan islam … (menciptakan generasi-generesi islam terbaik…) bismillah sy ikhlas dg semua ini…

  10. Saya cuma bisa mengatakan bahwa : Guru adalah PAHLAWAN Tanpa Tanda Jasa… “HayyOoww Semangat TrUsss Untuk Kita Para GURU!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: